Senin, 29 Maret 2010

Misteri Laut Banda, Potensi IBT

Salah satu sisi kawasan Laut Banda belakangan ini menjadi ramai dibicarakan setelah kasus Amdal Pulau Yamdena diangkat ke permukaan oleh Komisi IV DPR RI yang memprihatinkan pengusahaan hutan di sana. Pembaruan saja sedikitnya menurunkan tulisan tentang itu dalam tiga kali terbitan, yaitu edisi 12/07/92, 28/06/92, dan 24/06/92. Anggota Kepulauan Tanimbar yang terbentuk dari batuan napalan, gamping, dank oral ini seakan menjadi primadona.
Kepedulian tersebut muncul karena kekhawatiran terhadap kesalahan dalam pengusahaan sumber daya hutan tropis di sana, sehingga tidak terulang lagi seperti kasus penghijauan yang berlangsung sangat lama di daerah Gunung Kidul –yang kondisinya tidak jauh berbeda dari kondisi batuan Yamdena- akibat kekritisan lahannya. Itulah salah satu yang melandasi timbulnya polemik berkepanjangan, terlebih dalam asas pembangunan berkelanjutan yang kita anut selama ini.
Lain Yamdena di sisi timur Laut Banda yang dikhawatirkan menjadi kritis bila pengusahaan hutannya keliru, maka lain pula sisi barat laut Laut Banda yang kaya potensi sumber daya geologi dan pertambangan yang baru sebagian tergarap saat ini. Keduanya menunjukkan hal yang saling berlawanan. Yang satu dihantui kekritisan lahan, yang lain menjanjikan potensi sebagai penunjang pembangunan di IBT.
Sisi lain Laut Banda, yang merupakan kawasan yang menjanjikan ini, kehadirannya tidak lain akibat dukungan dari gaya tektonik yang berlangsung secara evolusif sepanjang sejarah geologi. Hal ini menjadikan Laut Banda sebagai daerah “unik” dari segi kebumiannya yang kaya gunung di dasar laut dengan aktivitas vulkanismenya, memiliki palung dalam, dan kaya gempa bumi yang sering mengusik data rekaman seismik para pakar Eropa Barat.

Pertigaan
Dari sudut pandang garis pertemuan antarlempeng tektonik, yang membentuk Kepulauan Indonesia, maka Laut Banda berada pada daerah pertigaan. Garis pertemuan megalempeng tektonik, pembentuk Indonesia, bertemu di sana dan menjadikan spesifiknya struktur tektonik daerah Laut Banda.
Daerahnya memiliki struktur yang membentuk pola “mangkok oval” dengan sumbu panjang hampir barat-timur. Kemiringannya dari sedang sampai terjal ke arah pusat Laut Banda, sehingga dorongan gaya tektonik seakan datang dari segala arah. Kecuali dari arah barat relatif kecil yang memberikan kesan pada posisi bertahan dan terangkat kea rah barat serta tepi-tepinya.
Resultan gaya tektonik di daerah ini cukup besar berlangsung malar dan evolusif. Hal itu mampu membentuk statigrafik setempat berlapis tak ubahnya proses pembentukan lapisan magnetic secara periodik pada ridge Atlantik Tengah. Dengan demikian menjadikan daerah tepian barat Laut Banda berpotensi geologi dan pertambangan yang menjanjikan dalam pembangunan Indonesia khususnya IBT.
Di daerah tepian barat Laut Banda pun, terutama sisi selatan “mangkok oval” berlangsung proses geologi yang sampai saat ini masih berlangsung. Dapat kita ikuti pertumbuhan titik-titik vulkanik sepanjang busur Banda sampai Flores dan kepulauannya. Dua tahun silam di daratan Flores terjadi peristiwa geologi langka, yaitu lahirnya sebuah gunung api yang belakangan diberi nama Gunung Anak Ranakah.

Media Aspal
Sebagai hasil bentukan dari gaya tektonik daerah ini sepanjang tepi bagian barat “mangkok oval” Banda dapat kita jumpai dua daerah tambang potensial yang sedang berkembang pesat dewasa ini, antara lain tambang logam mulia emas, perak, tembaga, dan nikel dengan kadar yang sangat bervariasi di Pulau Wetar. Hal ini menjadikan pulau di ujung selatan Maluku itu menjadi resort pertambangan baru serta daerah tambang aspal alam kita di Pulau Buton.
Potensi dan sejarah kedua daerah tambang ini merupakan produksi dari gaya tektonik daerah Laut Banda. Arahnya ke daerah tambang ini seakan memompa angkat massa kulit bumi di sana. Gaya tektonik ini seakan mengangkat secara perlahan dengan gaya yang mahabesar kulit bumi bersama mineral yang terkandung di dalamnya ke atas permukaan laut. Ini merupakan daerah singkapan.
Singkapan ini merupakan cirri khas daerah tambang di IBT, sehingga kegiatan penambangannya tidak memiliki lubang tambang dan terowongan yang kompleks seperti daerah tambang di luar negeri. Yang tentunya dari segi investasi yang ditanam dalam usaha penambangannya relatif menjadi lebih murah dan mudah.
Khusus untuk daerah pertambangan aspal alam Buton, lokasi pertambangannya terlihat jelas dibantu oleh gaya tektonik yang berarah ke barat dari tektonik Banda ini. Juga dorongan kea rah timur oleh basin Bone yang menjadikan akumulasi massa di daerah Buton.
Dari pandangan massa yang terakumulasikan oleh gaya ini, maka sangat menguntungkan posisi tambangnya. Karena menjadikan pulau ini secara geologi sebagai pulau yang tumbuh terus sehingga secara tidak langsung akan mengangkat media aspal, selain prosesnya merupakan proses pembentukan aspal.

Sedang Digarap
Pada sisi lain, yaitu sisi barat laut, Laut Banda yang merupakan busur kepulauan vulkanik terlihat jelas adanya aktivitas vulkanik, baik berupa banyaknya titik-titik vulkanik, letusan gunung api, serta kelahiran gunung api di dasar laut maupun di darat seperti di Flores.
Untuk daerah Flores dan kepulauannya dapat dijumpai beberapa titik panas bumi potensial, tinggalan aktivitas vulkanik, antara lain dari arah barat ke timur dapat kita jumpai Gunung Beliling (1.300m), Gunung Iya (1.363m), Gunung Gunung Cucurumbeng (1.750m), Gunung Ranakah (2.400m), Gunung Nambu (1.957m), Gunung Munde (1.448m), Gunung Inerie (2.245m), Gunung Ambulombo, Gunung Klambo (1.361), Gunung Wonowata (1.200m), Gunung Egong (1.703m), Gunung Wengor (1.560m), Gunung Lewero (1.284m), Gunung Muna (1.423m), Gunung Potomana (1.763m), dan Ulumbu yang dikabarkan eksplorasinya tersendat akibat proses tender yang berkepanjangan.
Semua itu merupakan potensi panas bumi yang sangat menunggu digarap dalam usaha penganekaragaman sumber daya energi di Indonesia. Serta meringankan sandaran terhadap sumber daya energi dengan bahan baku minyak dan gas bumi. Potensi serta kelangsungan operasional eksplorasi sumber energi panas bumi di sana tidak perlu disangsikan karena proses geologi akibat gaya tektonik produksi pertemuan tiga megalempeng di daerah ini.
Frekuensi gempa bumi yang tinggi di Laut Banda, bahkan hampir setiap tahun ada yang magnitudonya 7 sampai 8 Skala Richter, merupakan trigger yang membangkitkan aktivitas dari masa jedanya dan memompa magma dan panas bumi untuk naik ke permukaan. Hal ini banyak dikaitkan dengan seringnya gunung di busur ini mengalami “batuk-batuk” sampai meletus. Bahkan untuk Flores, yang potensi panas buminya sedang digarap, belakangan ini hampir setiap tahun mengalami aktivitas ini.

Misteri
Selama ini gaya tektonik lebih banyak dikaitkan dengan kehadiran gempa bumi tektonik untuk daerah IBT. Khususnya daerah tepian Laut Banda menjanjikan potensi lain sebagai produk sampingannya, sehingga menjadikan pemburuan para pakar Eropa Barat dalam mengungkap tabir misteri struktur Laut Banda, mungkin pula akan menghasilkan hasil sampingan yang diharap dapat menunjang pembanguna di IBT, seperti penemuan potensi tambang mineral lain di pulau lainnya selain Pulau Wetar yang sudah digarap. Gaya tektonik di daerah ini nampaknya selain sebagai potensi pengrusak yang tinggi, juga memberikan dukungan pokok dalam kelahiran dan kelangsungan kegiatan pertambangan mineral padat di kawasan ini serta merupakan gaya pemompa magma dan panas bumi di Busur Banda.
Karena posisi daerah ini bersentuhan langsung dengan lokasi Celah Timor yang sedang diteliti bersama antara pemerintah Indonesia dan Australia –serta masih nampak mengundang pro dan kontra sebagai daerah yang diduga menyimpan kandungan minyak bumi- maka multibidang penelitian yang dilakukan di daerah Celah ini diharapkan juga akan mampu ikut menyumbang data dalam pengungkapan lebih transparannya misteri Laut Banda. Semoga saja.

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Share