Rabu, 14 Oktober 2015

Predikdi Gempabumi



PENGANTAR PEMAHAMAN DAN PENCERAHAN PREDIKSI GEMPABUMI

Beberapa hari belakangan ini, masyarakat khususnya masyarakat ibu kota meributkan masalah gempabumi, yang katanya akan menimpa daerah ibu kota dengan kekuatan 8,7 Skala Richter (SR). Debatpun digelar di TV One dengan mendengarkan pendapat para ‘pakar’ diantaranya Dr Surono dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Dr Cecep Subarya (Bakosurtanal(?)). Penulis berkali kali pada saat diskusi tersebut mendapat pertanyaan dari BBM, BBM Group, SMS maupun langsung via telepon.
Hal itu menunjukkan bahwa : Pertama masyarakat sangat perhatian terhadap keselamatan mereka terkait dengan bencana gempabumi yang di prediksi akan terjadi dengan kekuatan 8,7 SR; Kedua : masyarakat sangat cepat lupa, bahwa ibukota bukanlah daerah yang gempagenic; Ketiga : masih saja percaya dengan prediksi sejenis, padahal sudah beberapa terjadi pr4ediksi serupa akan tetapi belum pernah ada buktinya, dan Keempat serta sete seterusnya  masih banyak lagi diantaranya tentu kita patut sekali bertanya apakah gempabumi itu da[at diprediksi pada saat ini.
Untuk menjawab pertanyaan terakhir sebagai masukan dan pencerahan terhadap masyarakat tentang prediksi gempabumi tersebut, sebaiknya kita lihat proses fisis gempabumi sehingga mereka lebih dapat menyikapi berita-berita sejenis di masa mendatang.
Gempabumi adalah peristiwa bergetarnya bumi secara tiba tiba sebagai akibat pelepasan energi di dalam bumi,  yang diawali dengan patahnya lapisan batuan pada kerak bumi. Akumulasi energi penyebab terjadinya gempabumi dihasilkan dari energy strain dan stress karena tertahannya pergerakan relatif lempeng-lempeng tektonik, oleh lempeng yang salin bertemu.

Disini terjadi suatu proses fisis yang terjadi jauh sebelum gemoa itu terjadi. Lempeng tektonik akibat pergerakan relatifnya satu sama lain mengakibatkan ada penekanan yang intensif pada pertemuan antar lempeng. Pada pertemuan antar lempeng ini akan terakumulasi eneri stress akibat tekanan satu sama lain.

Batuan yang mengalami akumulasi ini akan mengalami perubahan fisis sehingga akan mempengaruhi medan disekitar daerah yang mengalami stress  tersebut. Mengingat sifat fisis batuan kulit bumi yang sangat ditentukan oleh kandungan materialnya maka perubahan medan dapat terjadi pada medan gravitasi, medan magnet, edan listrik statis, medan radioaktif (radon), dll sifat fisis lainnya dari batuan.  Juga diperkenalkan adanya perubahan yang sangat signifikan terhadap perubahan medan energy tektonik, yang dapat direkam dengan pendulum, dan banyak dikembangkan pakar seismologi Eropa Timur sambil memperkenalkan gelombang tektonik, namun yang terakhir ini masih banyak diperdebatkan.

Perubahan medan ini juga ditengarai dapat ditangkap oleh binatang. Sehingga merela mengalami perubahan prilaku beberapa saat sebelum gempa terjadi. Sebagai contoh prilaku ikan sejenis lele di Jepang, panda dan cacing tanah di China, di Indonesia sesaat sebelum gempa Tasikmalaya, prilaku binatang di Taman Safari banyak yang mengalami perubahan seperi gajah, singa dll.

Ini semua menunjukkan memang benar ada perubahan medan sebelum gempa itu terjadi. Perubahan medan gravitasi, medan magnet bumi, medan lsitrik statis bumi, VET (Volume Elektic Total ) di udara mengalami perubahan. Hanya saja hasil penelitian saat ini menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi sangat variatif dalam kualitas maupun jeda waktunya sebelum gempabumi  terjadi.  Ini menyulitkan sangat sulit menentukan waktu akan terjadinya gempabumi dengan tepat sangat sulit dilakukan. Demikian pula untuk lokasi yang tepatpun sulit dilakukan mengingat bumi merupakan laboratorium yang secara spasial susah diisolasi.

Daerah yang mengalami stress akan mengalami perubahan kandungan air, akibat porositasnya yang berubah sehingga akan mempengaruhi kecepatan gelombang seoismik kalau melintas daerah tersebut, terutama perubahan kecepatan gelomban transversalnya yang oleh seismolog ditengarai sebagai gelombang shear atau gelombangs kunder (S). Yang sering digunakan disini adalah perubahan rasio kecepatan gelombang P dan kecepatan gelombang S.

Proses ini diamati sebagai hasil sampingan dari pengamatan gempabumi secara rutin, inipun masih meninggalkan masalah, karena daerah yang dilewati gelombang seismic sangat luas / panjang dari sumbernya hingga tertangkap sensor gempabumi.

 Proses gempabumi sampai ini banyak dijelaskan dengan teori elatic rebound, yang mengatakan bahwa daerah pusat gempa akan mengalami ‘patah’ saat terjadi gempabumi, sebelumnya mengalami penumpukan stress dan setelah gempabumi akan mengalami proses kembali ke keadaan semula, dan tentu meninggalkan cacat akibat patahnya saat gempa dan meninggalkan patahan di tempat tersebut.

Sejalan dengan hal itu, maka akan terjadi proses fisis perubahan energy, gelombang dan medan pada daerah yang mengalami penumpukan energy stress yang selanjutkan kita sebut sebagai pusat gempabumi. Perubahan dari kualitas dan kuantitas energi, gemombang dan medan tersebu yang digunakan untuk memprediksi gempa bumi secara fisis.

Bila kita perhatikan gerakan lempeng tektonik yang tidak pernah berhenti membuat proses saling menekan diantara lempeng, maka di daerah penumpukan stress tersebut akan terjadi pengulangan penumpukan setelah energy terlepas karena material sudah tidak mampu lagi menahan energi tersebut. Pelepasan energi ini dapat berupa getaran, energy suara maupun energy cahaya, seperti gempa-gempabumi yang terjadi di pantai selatan Jawa Barat yang sering disertai energi suara berupa gemuruh dan energi cahaya, berupa kingkilapan.

Proses fisis tersebut maupun statistic data kejadian gempabumi menunjukkan di daerah yang pernah terjadi gempabumi, suatu saat akan terjadi gempabumi dengan kekuatan sama dengan kekuatan maksimum gempa yang pernah terjadi di daerah tersebut. Ini menggiring pemikiran kita untuk mengatakan bahwa gempabumi kejadiannya berulang. Mengingat seperti telah dikatakan di dtas bahwa bimi merupakan laboratorium yang tidak terisolasi banyak factor yang akan berperan dalam proses perulangan ini, hingga hitungan statistic sangat sering tak cocok untuk menghitung periode ulang gempa di suatu daerah yang gempagenic.


Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa secara proses fisis maupun data statistic menunjukkan bahwa didaerah gempagenic, peristiwa gempabumi akan terjadi secara berulang. Kejadiannya akan dipengaruhi kondisi fisis batuan didaerah tersebut saat akumulasi energi terjadi, sehingga tidak mulus dengan periode ulang tetap antara satu gempabumi ke gempabumi berikutnya, terlebih kejadiannya dapat dikatakan sangat jarang perhitungan ststistik terhadap periode ulang gempabumi juga sangat besar standar variasinya.

Proses fisis yang mendahului gempabumi dalam skala energi, gelombang dan medan memungkinkan ilmuwan untuk mengetahui akan kehadiran gempabumi di suatu daerah gempagenic, namun mengingat beragam dan ketidak homoginan kulit bumi disuatu tempat dan tempat lainnya menyulitkan untuk melakukan prediksi dengan tepat, terutama untuk waktu kejadiannya.

Dengan demikian gempabumi secara umum berdasarkan proses fisis gempabumi dapat dikatakan dapat diprediksi, namun sampai saat ini para pakar belum mampu menentukan kapan watu akan terjadinya puncak akumulasi energy di daerag gempagenic tersebut, yang akan dilepas sebagai energy gempagumi.

Jadi kita yang bermukim di sekitar daerah margin lempeng tektonik, sudah sepatutnya waspada terhadap bencana yang diakibatkan oleh peristiwa alam gempabumi ini, namun tidak perlu menjadi paranoid terhadap prediksi-prediksi yang dibuat oleh ‘pakar-pakar’ yang mencoba memprediksi gempabumi  akan terjadi di suatu daerah.  Mari kita membiasakan diri hidup di daerah bencana, memahami karakter, maupun cara-cara aman dalam menghadapi bencana tersebut bila dia hadir, termasuk mengetahui cara mengadaptasi, dan memitigasi kejadiannya, dengan tetap tenag serta berfikir rasional.

Senin, 27 April 2015

Gempa Nepal



GEMPABUMI NEPAL 25 APRIL 2015

Nepal, negeri di atap Asia, tepatnya di lereng Pegunungan Himalaya yang terletak berbatasan dengan Tiongkok, India dan Banglades diguncang gempabumi hebat 25 April 2015, dengan kekuatan 7,8 SR. Pusat gempabumi sekitar 80 km arah barat laut ibu kota Nepal Katmandu. Gempabumi ini menguras emosi antar bangsa karena banyaknya warga negara asing yang legi berada di negera itu, karena mulai waktu pendakian, musim semi di belahan utara.
Akibat goncangan gempabumi ini hampr merata di Nepal mengalami kerusakan. Korban jiwa dilaporkan sudah hampir mencapai 4000 orang, dan ribuan luka-luka karena tertimpa rumah yang roboh, longsoran tebing maupun longsoran salju Himalaya. Secara fisis dianalisis bahwa gempabumi ini terjadi pada pertemuan antara lempeng tektonik India yang menekan lempeng tektonik Eurasia, dengan kecepatan 45 mm.tahun.
Jenis sesar saat terjadi gempa adalah sesar naik –thrust fault-, sama dengan sifat frontal naik dari tumbukan kedua lempeng, yang merupakan tenaga yang membentuk evolusi pegunungan Himalaya,
Posisi Pusat Gempabumi Nepal 25/04/2015



sumber usgs summary

Minggu, 05 April 2015

FLORES DEEP EARTHQUAKE

“GEMPABUMI FLORES, AKTIVITAS DIBAWAH DAERAH SENYAP SEISMIC DENGAN BATUAN HOMOGEN”

I Putu Pudja *)
Abstrak
Berita gempabumi selalu menjadi perbincangan yang menarik sejalan dengan semakin meningkatnya frekuensi bencana alam yang diakibatkan oleh gempabumi. Umumnya masyarakat tertarik dengan gempabumi dangkal yang mendatangkan kerusakan pada bangunan. Gempabumi dalam walau menggoncang daerah yang sangat luas, sangat sedikit yang tertarik bahkan segera terlupakan.
Gempabumi Flores 27 Pebruari 2015 dengan kekuatan 7,1 SR dengan posisi pusat gempabumi berada  di Laut Flores, pada  7.55 LS - 122.60 BT.. pada kedalaman 572 km. Gempabumi ini dirasakan sampai Denpasar, Kupang dan Waingapu hingga IV Skala MMI, namun di daratan Flores sendiri sebagai daratan terdekat hanya dirasakan III MMI di Ruteng.
Gempabumi ini terjadi pada back thrust, sebagai gempabumi dalam (Toksoz, 1989) memiliki solusi fokal mekanisme cenderung normal (USGS), sesuai dengan hasil penelitian Fahmi (2014).
Gempabumi Flores ini hanya diikuti oleh gempabumi susulan yang sangat minim, gempabumi susulan yang hanya tercatat pada  pk 23 27 WITA, dengan pusat gempa pada poisi 7,47 LS – 122,52 BT pada kedalaman 567 km dengan kekuatan 5,1 SR. Pusat gempabumi ini terjadi pada daerah di bawah daerah senyap seismic, pada jenis batuan yang homogen.
Kata Kunci : Gempabumi Flores, senyap seismic dan homeogen.
*) Dosen Pada Sekolah Tinggi Meteorologi, KLimatologi dan Geofisika.



I.                    PENDAHULUAN
Ada anggapan bahwa gempabumi yang mempunyai magnitude besar pasti akan mengakibatkan kerusakan. Demikian pula anggapan bahwa masyarakat yang berlokasi semakin dekat dengan pusat gempabumi  akan merasakan goncangan gempabumi yang semakin kuat, dibandingkan dengan tempat yang lebih jauh dari pusat gempabumi.
Anggapan ini tidak selamanya benar, ternyata gempabumi Flores, 27 Pebruari 2015 yang selanjutnya diusebut sebagai gembabumi Flores. Terjadi pada pk. 21:45 WITA wilayah Nusa Tenggara mengalami guncangan ringan akibat gempabumi.
Pusat gempabumi tersebut berada  di Laut Flores, pada posisi 7.55 LS - 122.60 BT. Magnitudo gempabumi tercatat cukup besar mencapai 7.1 SR. pada kedalaman 572 km. Posisi Pusat Gempabumi seperti pada gambar berikut (BMKG).
Description: Info Gempa
Gambar 1. Posisi Pusat Gempabumi Flores 27/02/2015

Hal yang menarik dari gempabumi ini adalah dampaknya yang seakan menyimpang dari asumsi diatas, yaitu masyarakat di daerah yang lebih jauh merasakan goncangannya lebih kuat.
Getaran gempabumi Flores dilaporkan sebagai berikut: dirasakan di Ruteng - Flores (II-III MMI) lebih kecil daripada getaran yang dirasakan di wilayah yang lebih jauh seperti Denpasar, Kupang, Mataram, dan Waingapu yang mencapai IV MMI.
Gempabumi ini mengingatkan kita dengan gempabumi yang sering terjadi di Laut Jawa, diantaranya adalah gempabumi  Indramayu yang merupakan gempabumi yang dirasakan pada daerah yang sangat luas, sampai Singapura, Pekanbaru, Jakarta dan kearah timur sampai Surabaya. Bahkan ada untuk gempabumi Indramayu yang berpusat di Laut Jawa, diakitkan dengan kerusakan yang terjadi di daerah Garut.
Gempabumi, dinihari 9 Agustus 2007, dengan kedalaman 286 km, berkekuatan 7,3 skala Richter telah  menggoyang Pulau Jawa, Pulau Sumatera, hingga negeri jiran Malaysia, Kamis dinihari termasuk dalam kategori gempa dalam yang tidak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami.
Gempabumi tersebut terjadi di Indramayu pada lokasi 6:17 LS 107-6.6 BT atau 75 Km Barat Laut Indramayu Jawa Barat dengan kedalaman 286 Km.
Menurut Suharjono ( Antara, 9 Agustus 2009) gempa tersebut mempunyai ciri khusus. Merupakan gempa dalam dengan : (1) dirasakan pada areal yang luas; (2) tidak membangkitkan tsunami, dan (3) tidak diikuti gempa susulan.
Kedua gempabumi tersebut menjadi sangat menarik untuk diteliti, mengingat keduanya merupakan gempabumi dalam, dan terjadinya di back thrust, dengan lintang posisi yang hampir sama berada jauh di utara dari Zona Subdaksi, serta goncangannya  dirasakan di areal yang cukup luas. Gempabumi ini juga sangat minim dengan gempa susulan.
Sangat berbeda dengan gempabumi yang mendominasi terjadi di daerah Subdaksi Nusa Tenggata Timur, yang umumnya sangat kaya dengan gempa susulan.
Sehingga diidentifikasi ada permasalahan “Apakah gempabumi Flores ini memiliki mekanisme dan material sumber yang berbeda dengan daerah lainnya di Nusa Tenggara Timur”.
Kemudaian dalam penelitian ini dirumuskan masalah : “Apakah  gempabumi Flores 27 Pebruari 2015 terjadi pada batuan yang homogen akibat gaya tensi atau tarikan?”

II. Teori Pendukung
Gerak relative lempeng tektonik yang saling berhadapan dan saling menekan atau mendekat, akan membentuk daerah kovergensi. 
Kalau ditinjau dari komponen lempeng tektonik  yang saling berhadapan, maka akan terdapat tiga jenis perbatasan kovergensi, yaitu : (1) perbatasan konvergen antara kerak samudera dan kerak samudera; (2) perbatasan konvergen  antara kerak samudera dengan kerak benua, dan (3) perbatasan konvergen antara kerak benua dengan kerak benua.
Konvergensi antara Kerak samudera dengan kerak samudera, jika terjadi pertemuan lempeng lithosfer yang berupa kerak samudera dengan kerak samudera. Dampaknya adalah : (a) salah satu kerakbumi akan bergerak menunjam ke bawah kerakbumi  samudera lainnya akan menghasilkan Zona Subdaksi (b) lempeng atau kerak bumi yang menunjam memasuki astenosfer, mengalami pemanasan sampai masuk ke mantel bumi. Pada permukaan akan menghasilkan busur kepulauan.
Konvergensi antara kerakbumi samudera dengan kerakbumi benua. Dampaknya adalah : (a) kerak benua yang memiliki massa lebih ringan ini selalu menjadi lempeng penahan. Zona subduksi juga akan terbentuk. (b) pada tepian kerakbumi benua akan terbentuk busur volkanik.
Konvergensi antara kerakbumi benua dengan kerakbumi benua. Pada konvergensi ini tidak terbentuk zona subdaksi, dan tidak ada penunkaman diantara kedua kerakbumi yang saling kovergen. Sebagai dampaknya akan terbentuk barisan pegunungan, di daerah perbatasan. ILustrasi gambaran konvergensi tersbut terlihat pada gambar 2 berikut.
Description: convergent
Gambar 2. Jenis konvergensi. (a) samudera dengan benua, (b) samudera dengan samudera (c) benua dengan benua.
Menurut Toksoz (1979) subdaksi dibedakannya menjadi 5 jenis, yaitu : (1). Subdaksi lengkap, penunjaman terjadi secara total sampai kedalaman 700 km; (2).       Subdaksi relatif muda, yang relative baru terbentuk, dengan penunjaman berusia muda dan masih dangkal; (3) Subdaksi perlahan, dengan kecepatan penunjaman lambat;  (4). Subdaksi lentur, dimana pada ujung lempeng seakan-akan terjadi hambatan sehingga lempeng melengkung, seakan bersifat melentur, dan (5) Subdaksi lemah, sering disebutkan dengan subdaksi pecah, di bagian tengah lempeng terjadi senyap seismic, dalam peta subdaksi seakan terjadi lempeng terputus.
Jenis subdaksi tersebut diilustrasikan sebagai berikut pada gambar 3.
Description: scan0001
Description: scan0001
Gambar 3: Jenis Subdaksi menurut Toksoz (1979).
Penggolongan gempabumi sangat banyak kriteria yang bisa dipilih, diantaranya adalah kedalaman pusat gempabumi atau hiposenter.  Juga digolongkan dari serian dari gempa pendahuluan, gempa utama dan gempa susulan.
Dari kedalaman hiposenter gempabumi dibedakan menjadi: (1)  Gempabumi dangkal dengan kedalaman hiposenter lebih dangkal dari 70 km; (2) Gempabumi menengah, dengan kedalaman diantara 70 km sampai lebih kecil dari 300 km, dan (3) kedalaman hiposenter 300 km atau lebih.
Menurut Mogi (1963), gempabumi digolongkan menjadi 3 tipe, yang dikaitkan dengan rangkaian gempa pendahuluan, gempa utama atau gempa susulan, serta dikaitkan dengan hasil penelitian laboratorium terhadap homogenetas material batuan dimana gempabumi itu terjadi.
Ketiga tipe gempa tersebut adalah : (1) Gempabumi Tipe I, yaitu gempabumi yang merupakan rangkaian gempabumi yang tidak didahului oleh gempa pendahuluan. Kejadian ini dikaitkan dengan material yang homogeny; (2) Gempabumi Tipe II, yaitu gempabumi yang merupakan rangkaian dari gempa pendahuluan, gempa utama dan gempa susulan. Kejadian ini dikaitkan dengan material yang semi homogen, dan (3) Gempabumi Tipe III, yang sering disebut sebagai swarm, merupakan rangkaian gempabumi yang tidak memiliki gempa utama, dengan rangkaian gempabumi sedemikian rupa dan berhenti tanpa ada gempabumi utama sampai berhentinya rangkaian gempa. Kejadainnya dikaitkan dengan material yang sangat heterogen.
Hasil penelitian Fahmi (2014) diantarnya adalah untuk daerah tektonil Nusa Tenggara Timur dima Gempabumi Flores terjadi, ada kesenjangan seismik di sepanjang slab subduksi pada kedalaman 200 – 500 km akibat partial melting, rentang kedalaman senjang seismiknya berkurang semakin ke arah timur dengan rentang kesenjangan seismik pada wilayah timur penelitian 300 – 500 km.
Diduga hal ini yang menyebabkan terjadi daerah tension di bagian slab yang menunjam yang sangat berpengaruh terhadap mekanisme gempabumi di daerah tersebut.
Dari ploting hasil fokal mekanisme menunjukkan bahwa di  daerah dimana Gempabumi Flores ini terjadi, merupakan mekanisme sesar normal.
Dari uraian teori diatas serta informasi gempabumi Flores27 Pebruari 2015, yang dihimpun dari lapangan, dapat disusun hipotesis bahwa :
Gempabumi terjadi pada krakbumi yang merupakan material batuan yang memiliki sifat yang  homogen pada daerah tension.
ANALISIS DATA DAN DISKUSI
Hasil analisis BMKG terhadap data gempabumi Flores, didapat kan bahwa genpabumi tersebut terjadi pada tanggal 27 Pebruari 2015, pk 21 45 03 WITA, posisi pusat gempabumi pada posisi 7.55 LS - 122.60 BT. Pada kedalaman 572 km. Dengan kekuatan 7,1 SR. Posisi ini ada di laut Flores , 129 km Timur Laut Sikka Flores.
Hasil analisis Dlobal CMT maupun USGS menunjukkan bahwa mekanisme pada pusat gempabumi dominan normal. Terlihat pada ganbar berikut:
Description: C:\Users\I Putu Pudja\Documents\Solusi-Normal.png
Gambar 4 : Solusi Fokal Mekanisme Gempa Flores 27 Pebruari 2015
Juga tercatat sekali gempa susulan yang terjadi pada hari yang sama pk 23 27 WITA, dengan pusat gempa pada poisi 7,47 LS – 122,52 BT pada kedalaman 567 km dengan kekuatan 5,1 SR.
Daerah ini memang merupakan daerah sarang gempabumi dalam . Tercatat sedikitnya sedikitnya 6 kali sejak 1976, dan salah satunya pada posisi yang hampir sama dengan solusi fokal mekanisme yang hampir sama adalah yang terjadi 7 Juni 1991, yang mempunyai pusat gempa pada posisi yang berdekatan dengan gempabumi 27 Pebruari 2015, yaitu pada posisi : 7,07 LS – 122,43 BT pada kedalaman 535 km dan magnitude : 6,9 SR (Mw).
Description: Description: E:\TUGAS KULIAH\SEMESTER 5\TUGAS AKHIR\PETA\PETA SEISMISITAS\HASIL JPG\YANG DIPAKAI DI NASKAH TUGAS AKHIR\FOCAL_MECHANISM_CLUSTER.jpgKerapatan gempabumi untuk daerah Nusa Tenggara ditunjukkan pada Gambar   berikut :







Gambar 5 : Seismisitas Nusa Tenggara dengan Solusi Fokal Mekanisme dari Global CMT (Fahmi, 2014)
Memperhatikan data hasil analis kedalaman gempabumi Flores, yaitu 575 km, menunjukkan bahwa gempabumi tersebut merupakan jenis gempabumi dalam, terjadi di daerah slab lempeng tektonik yang menunjam, setelah melewati daerah senjang seismic, sehingga mekanisme pusat gempa yang terjadi menunjukkan dengan jelas bahwa gaya yang dominan memicu gemabumi adalah gaya tension.
Setelah melewati proses melting melalui daerah yang panas maka material batuan dimana gempabumi itu terjadi menjadi mendekati homogen. Ini ditunjukkan oleh minimnya gempabumi susulan yang menyertai gempabumi utama. Tipe gempabumi ini termasuk gempabumi tipe I dalam penggolongan Mogi.
Gempabumi Flores memiliki daerah spectrum goncangan yang sangat luas, sepanjang Kupang – Denpasar, dengan distribusi goncangan lebih kuat pada daerah yang lebih jauh. Ini mirip dengan sifat goncangan gempabumi Indramayu yang sama sama merupakan gempabumi dalam.
KESIMPULAN
Dari uraian pada diatas terhadap Gempabumi Flores 27 Pebruari 2015, dapat disimpulkan bahwa:
1.       Gempabumi Flores  terjadi pada batuan yang homogen, dengan gaya tension sebagai penyebabnya.
2.       Gempabumi Flores terjadi di bagian slab yang berada di bawah daerah senyap seismic.
3.       Posisi gempabumi Flores dan Gempabumi Indramayu terjadi pada wilayah sama-sama pada back thrust, gempa dalam dengan sifat guncangan yang sama.
Daftar Pustaka
1.       Newcomb, K.R., McCann W.R., (1987). Seismic History and Seismotectonics of Sunda Arc, JGR, New York,
2.       Pudja, I Putu, Homogenetas Batuan dan Tipe Gempabumi. www.bigsain.com. 2015.
3.       Ritsema, A. R.; Sudarmo, R. P.; Pudja, I. Putu; The generation of the Banda Arc on the basis of its seismicity, Netherlands Journal of Sea Research, Volume 24, Issue 2, p. 165-172.
4.       Fahmi Nugraha, Muhamad,Identifikasi pola Tektonik Daerah Bali dan Nusa Tenggara Berdasarkan Seismisitas dan Komposit Mekanisme Sumber Gempabumi, Akademi Meteorologi dan Geofisika, Tangerang, 2014.
5.       Jie Yuan Ning dan Shao Xian Zang, On The Generation of Deep Focus Earthquakes in Subduction Zone, Acta Seismologica Sinica, Vol 12 pp 575 – 583, 1999.
6.       Vassilion MS dan Hager BH, Subduction Zone Erathquake and Stress in Slab, Pageoph, Vol 128, N0. ¾ , 1988.
7.       …………, Plate Tekctonic Lecture-5 : Subduction Zone and Islands Arcs, http://www.le.ac.uk/gl/art/gl209/lecture5/lecture5.html
Sumber Dat

Selasa, 17 Februari 2015

UB-News, about Climate Change



Prasetya Online
>
UB News

Submit by humas3 on March 02, 2011 | Comment(s) : 0 | View : 2562


 


Dr I Putu Pudja MM
According to the research of the Geophysics, Climatology, and Meteorology Body (BMKG) Indonesia is experiencing climate change trend. This is signified with the changing of climate parameter such as air temperature and rainfall. Generally, this climate change will cause extreme weather. Such is as comveyed by Dr I Putut Pudja MM, head of the Puslitbang BMKG in the monthly seminar of Scientific Journal Club (2/3).
"It can be seen from the changes in average temperature in January of 0,13 degrees celcius and in July 0,17 degrees celcius per decade. Although this is lower than the increase of global temprature, which reaches 0,19 degrees celcius per decade. It looks like there already is a trend of climate change," he said. Yet, Palu experience a higher increase of 0,34 degrees celcius per decade. Aside from the small islands who experience decreasing temperature in January, such as Bali, Waingapu, and Kupang.

This monthly seminar is held on the theme of "Cooperation of UB and BMKG to increase Research in the field of Metereology, Climatology, and Geophysics. This seminar is the cooperation of BMKG and Center of Land Research and Disaster Mitigation UB, which is headed by Prof Dr Bambang Guritno.
Pudja said that climate change will have effect on the increasing temperature. Just like the tempreature in Jakarta, which tends to rise every  year,Cilacap also experience rising temperature, although not so significant. Aside from the changes in Sea Surface. This will also affect the people who live in coastal area. For the rainfall level, long term projection of 2075 to 2099 shows the climate change in Indonesia will be significant in the end of the century. In the end of the 21st century, precipitation in the rainy season is projected to change significantly, especially on some small area in Sumatra, Celebes, and Papua.
Pudja said that BMKG has perform joint research with The Ohio State University in the middle of 2010 in Jaya Peak. The researcher summarized that snow in Jaya Peak is already in the critical condition, which shows that this area has experienced warming. Yet there is also some area which trend is pretty good. Which makes it possible to discover the remnants of nuclear experiment done by Russia and America in the past.
Until now, Puslitbang BMKG is still doing research to learn about the parameter of climate in Indonesia.  BMKG also haven't determine the model to be used for disaster mitigation. "We are still comparing the models used by other countries. Such models will be adapted according to Indonesian characteristics," he said.[ai]