<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453</id><updated>2011-10-15T03:56:56.940-07:00</updated><category term='Cuaca'/><category term='Iklim'/><category term='Gempa'/><category term='Lingkungan'/><category term='Iptek'/><title type='text'>Catatan Putu Pudja</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>34</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-5957830837470391973</id><published>2011-10-15T03:56:00.000-07:00</published><updated>2011-10-15T03:56:56.971-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lingkungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cuaca'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iklim'/><title type='text'>PANTURA JAWA WASPADA SINYAL BANJIR SUDAH MUNCUL</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Oleh : I Putu Pudja&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-LXwDDMlyudM/TdSyvRVyuMI/AAAAAAAABJY/xrQbQtEJYbI/s400/peristiwa-pantura-terendam-35.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://3.bp.blogspot.com/-LXwDDMlyudM/TdSyvRVyuMI/AAAAAAAABJY/xrQbQtEJYbI/s320/peristiwa-pantura-terendam-35.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Berita banjir kita  ikuti silih berganti menimpa kawasan Asia, terutama Asia Timur, Asia Tenggara dan Asia Selatan, seperti banjir di China, Kamboja, Vietnam, Chiang Mai, demikian juga melanda sebagian wilayah India. Ini mendakan bahwa rejim awan hujan telah hadir di kawasan ini, sehingga turun hujan dengan intensitas tinggi dan mengakibatkan bajir di daerah tangkapannya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita lain yang kita ikuti belakangan ini terkait dengan cuaca ektrim di kawasan Asia adalah amukan badai yang menimpa wilayah luas mulai Filipina hingga daratan Vietnam, seperti Siklon Tropis Nalgae akhir-akhir ini, sebelumnya (27?9) badai Nessat yang menandakan bahwa terjadi system tekanan rendah di tepian utara wilayah perairan Indonesia, sehingga memacu terjadinya angin siklonik dan berkecepatan tinggi. Angin ini kemudian selalu dipasok tenaganya oleh panas latent akibat pengembunan udara disekitar intinya, sehingga ia terus bertumbuh. &lt;br /&gt;Sepanjang dia melalui perairan maka ia akan hidup lama, akan tetapi bila dia menjumpai daratan dalam waktu yang relative lama sehingga pasokan energy dari [anas latent pengembunan wan berkurang menjadikannya akan mati di daratan. Itu merupakan habitat siklon tropis yang lahir di perairan sekitar 5 – 10 garis lintang dan bergerak kea rah lintang tinggi serta mati di daratan.&lt;br /&gt;Korbanpun berjatuhan cukup banyak banjir Kamboja memakan korban 150 orang, Banjir di China menelan korban 57 orang (BBC), Banjir di India menewaskan lebih dari seratus orang di 19 distrik, demikian pula di Pakistan yang dialiri oleh sungai yang sama menyebabkan ribuan orang sampai saat tulisan ini di buat masih terkurung banjir menunggu evakuasi di kedua Negara tersebut.&lt;br /&gt;Ke dua peristiwa alam meteorologi ini, hujan lebat dengan membawa banjir dan siklon tropis ( dalam sebulan telah dua kali terjadi ) memberikan signal ke Negara-negara yang bertetangga dalam satu kawasan Asia selata – Asia Tenggara sa,pai Asia Timur, bahwa musim hujan sudah merambah kawasan ini, dengan kecenderungan factor-faktor pemicu banjir yang lebih kuat, seperti HUjan lebat, system tekanan rendah, seruakan dingin arus Siberia, yang sangat berpotensi mendorong massa air, berupa awan maupun massa air Laut China Selatan menyapu pantai timur Sumatera, Pantura Jawa maupun pantai-pantai barat dan selatan Kalimantan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PROSES FISIS&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;Kondisi siklonal yang melanda perairan belahan utara bumi, yang bersisian dengan wilayah Indonesia menunjukkan bahwa di daerah ini sedang terjadi system tekanan rendah, dengan penguapan yang tinggi dari perairan di bawahnya. Ini akan memicu awan hujan hadir di kawan ini, sehingga potensi hujan akan sangat tinggi di daerah ini.&lt;br /&gt;Adanya pergeseran hujan yang ditandai dengan pergeseran waialayh banjir di mulai dari China, Kamboja, Vietnam, Chiang Mai, Thailand, India, Pakistan pertanda bahwa ada gerakan massa udara dingin yang mendorong massa awan ke selatan. Oleh kalangan meteorolist gejala ini disebut seruakan dingin Siberia, walau belum kuat sekali gejala itu telah menunjukkan eksistensinya. Kedua proses ini akan mendorong angin menjadi lebih kencang menyeberangi khatulistiwa. Di Indonesia akan mulai berkembang angin baratan, sebagai angin pembawa hujan di musim hujan.&lt;br /&gt;Hujan lebat di daratan Asia Timur dan Tenggara, menyebabkan akan banyaknya massa air yang tumpah ke Laut China Selatan, sehingga angin seruakan dingin Siberia mendorongnya lebih ke selatan. Menyebabkan adanya banjir rob dan pasang yang lebih tinggi di sepanjang pantai pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan yang bersentuhan langsung dengan Laut China Selatan.&lt;br /&gt;Demikian pula dengan massa air yang dilepaskan kepantai oleh sungao-sungai besar yang mengalami banjir di India dan Pakistan akan melepaskannya ke Samudera Hindia, dengan semakin derasnya angin baratan maka ombak baratan akan semakin besar menerjang pantai-pantai barat Sumatera. Biasanya pantai sebelah barat NAd sampai Oadang dan Bengkulu yang menerima terjangannya sehingga biasanya memporakporandakan pemukiman pantai di daerah tersebut.&lt;br /&gt;Proses fisis tersebut akan mencadi persyaratan awal yang menghambat aliran air permukaan  limpasan musim hujan ini sehingga menyulitkan lepas ke laut, sehingga akhirnya menyebabkan banjir pada daerah-daerah sepanjang pantai timur Sumatera, pantura Jawa, dan pantai barat dan selatan Kalimantan.&lt;br /&gt;Kejadian yang terjadi di daratan Asia khususnya Asia Timur, Asia Tenggara daratan, dan Asia Selatan telah memberikan signal bahwa musim hujan dengan hujan lebat akan segera dating di Indonesia. Proses fisis yang terkait yang berdampak pada perairan Laut China Selatan, pantai barat Sumatera dapat memperparah banjir di sekitar pantai yang bersentuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PANTURA JAWA&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;Bila kita kembali menengok ke belakang musim kemarau tahun ini di Jawa, maka dibandingkan dengan musim kemarau tahun lalu yang cukup basah bahkan sulit mengatahan bahwa tahun lalu 2010 bahwa kita di Jawa mengalami musim kemarau, mengingat hujan jatuh sepanjang bulan dalam setahun. Namun untuk tahun ini sangat banyak daerah yang kesulitan air. Hampir setiap hari kita saksikan selama kemarau ini, media massa menyiarkan kesulitan air di di beberapa daerah, sampai di beberapa tempat masyarakat harus antre untuk mengambil air minum, demikian juga di Jakarta dan sekitarnya banyak sumur air tanah yang harus diperdalam karena sudah tidak mengeluarkan air saja selama kemarau 2011 ini. Semuanya ini menandakan bahwa kemarau 2011 merupakan kemarau yang ektrem kering.&lt;br /&gt;Sebagai konsekuensi dari kondisi alam tersebut biasanya alam akan mengadakan penyeimbangan. Sebagai penyeimbangan dengan memperhatikan apa yang telah menimpa China, Kamboja, Vietnam, Thailan, India dan Pakistan, maka sangatlah mungkin bahwa musim hujan 2011 yang akan dating ini merupakan kompensasi kemarau kering 2011, merupakan musim hujan dengan intensitas tinggi. Yang perlu diwaspadai adalah kalau intensitas hujan langsung menghentak pada wal musim hujan ini, bersamaan dengan munculnya rob akibat proses fisis perairan Laut China Selatan yang bersisian dengan Laut Jawa, maupun tepian Samudera Hindia yang bersentuhan dengan Sumatera, maka bencana banjir perlu lebih diwaspadai bersama.&lt;br /&gt;Musim kemarau ektrem 2011 ini jua akan memacu terjadinya erosi permukaan akibat kerapuhan atau pelapukan permukaan selama kemarau, penggalian sumur air tanah menjadi lebih dalam akibat menurunnya permukaan air tanah akan memacu subsidensi di kawasan rawan subsiden di kota-kota dan pemukiman sepanjang pantura Jawa terutama Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KESIMPULAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Memperhatikan perkembangan peristiwa meteorology yang berkembang di kawasan daratan Asia Timur, Asia Tenggara sampai Asia Selatan, Musim kemarau 2011 di Indonesia, serta datangnya musim hujan 2011 yang diwarnai dengan musim baratan maka dapat disimpulkan sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; ‘Migrasi’ wilayah banjir di Asia terutama –Asia Timur, Asia Tenggara-Asia Selatan- yang terjadi bulan bulan terakhir diduga wilayah Indonesia yang sering menerima dampak seruakan dingin Siberia akan mengalami musim hujan dengan intensitas tinggi dengan peluang banjir, disepanjang pantura Jawa, pantai timur Sumatera serta pantai barat – selatan Kalimantan. Pantai pantai lain yang bersisian sangat mungkin juga mengalami tergantung pada intensitas seruakan dinginSiberia yang akan terjadi.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Meningkatnya massa air laut China Selatan, dan tepian Samudera Hindia pada awal musim baratan, akan menambah ganasnya dampak angin baratan terutama dalam keganasan ombak yang menerjang pantai barat sumatera, serta memicu banjir rob di wilayah pantai timur Sumatera, pantura Jawa, serta pantai barat-selatan Kalimantan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Bagi warga masyarakat yang bermukim di daerah daerah wilayah pantai timur Sumatera, pantura Jawa, serta pantai barat-selatan Kalimantan, rupanya perlu lebih waspada dan mengambil antisipasia awal akan kehadiran bencana yang disebutkan di atas, guna menekan korban maupun kerugian yang mungkin muncul karena bencana tersebut. Pepatah mengajarkan kita lebih baik sedia paying sebelum hujan.&lt;br /&gt;===========================================================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Penulis : aktif di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Jakarta. Sekarang sebagai Kepala Pusat Jaringan Komunikasi, BMKG.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-5957830837470391973?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/5957830837470391973/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2011/10/pantura-jawa-waspada-sinyal-banjir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/5957830837470391973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/5957830837470391973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2011/10/pantura-jawa-waspada-sinyal-banjir.html' title='PANTURA JAWA WASPADA SINYAL BANJIR SUDAH MUNCUL'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-LXwDDMlyudM/TdSyvRVyuMI/AAAAAAAABJY/xrQbQtEJYbI/s72-c/peristiwa-pantura-terendam-35.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-3121697818179183760</id><published>2011-10-15T03:44:00.000-07:00</published><updated>2011-10-15T03:51:28.178-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lingkungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iklim'/><title type='text'>BALI BARAT PALING RENTAN TERHADAP PERUBAHAN IKLIM</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Oleh : I Putu Pudja&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.dephut.go.id/INFORMASI/TN%20INDO-ENGLISH/image/peta_balibarat.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://www.dephut.go.id/INFORMASI/TN%20INDO-ENGLISH/image/peta_balibarat.jpg" width="241" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dampak ektrim musim kemarau tahun 2011, kita ikuti dialami hamper semua wilayah di Pulau Bali, seperti menipisnya persediaan air tanah. Minimnya curah hujan, debu dan lain sebagainya. Namun dampak itu menjadi sangat ektrim dialami Bali Barat. Dari kawasan ini kita ikuti berita-berita: terbakarnya hutan lindung Bali Barat, sehingga mengkhawatirkan habitat jalak Bali yang menjadi salah satu satwa yang dilindungi, kemudian berita mengeringnya tiga dam Banyubiru, bahkan kejadiannya dilaporkan telah terjadi sejak Juni 2011 lalu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga dam tersebut ( Bali Post 4/10) biasanya mengairi puluhan subak di Desa Banyubiru, Baluk dan Tegal Badeng. Dialporkan bahwa ketinggian air yang biasanya mencapai 100 – 150 cm, saat ini hanya tinggal 3 – 5 cm, sehingga tidak mampu lagi mengairi sawah di subak yang biasa mendapatkan air dari ketiga dam tersbeut. Dua berita tersebut menembatkan Bali Barat terutama Kabupaten Jemberana menerima dampak musim kemarau tahun 2011 ini paling berat bila dibandingkan dengan kabupaten lainnya di Bali.&lt;br /&gt;Bila kita telusuri kembali bencana lain yang terkait dengan iklim, akan kita jumpai lebih banyak lagi bencana yang paling berat dialami oleh kabupaten terbarat di Bali ini. Satu diantaranya adalah abrasi yang paling tinggi kelajuannya menimpa pantai selatan kabupaten Jemberana, sehingga sangat sering dijumpai jenasah yang di kubur di setra yang berwilayah pantai, jenasahnya berserakan di pantai terbawa abrasi yang menimpa tahan kuburan di tepian pantai Jemberana.&lt;br /&gt;Ketiga kejadian alam yang menjelma menjadi bencana ini, boleh jadi sebagai dampak morfologi wilayah Jemberana yang mempunyai garis pantai yang langsung menerima gempuran angin kering, maupun ombak akibat hembusan angin timuran dari monsoon timuran yang berhembus dari daratan Australia. Untuk lebih memahami lebih jauh kejadian ini penulis mengajak siding pembaca melihat sejenak monsoon timuran dan morfologi garis pantai Jemberana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;MONSUN TIMURAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sebagai dampak dari posisi strategis wilayah Indonesia yang berada dikhatulistiwa, di apit dua benua dan dua samudera, maka sebagai dampak peredarann matahari sebagai sumber energy di bumi, maka wilayah Indonesia mengalami dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Sistem angin yang menyertai sering di sebut dengan monsun. Monsun baratan akan berasosiasi dengan musim hujan di Indonesia, ditandai dengan berhembusnya angin dari ahar barat di wilayah Indonesia, terutama di daerah selatan khatulistiwa Jawa-Nusa Tenggara. Munsun timuran berasosiasi dengan musim kemarau di wilayah tersebut, dengan ditandai oleh derasnya angin dati timur, yang di wilayah Nusa Tenggara terasa masih dari tenggara, karena sebagai pole kedua system ini adalah daratan benua Asia dan daratan benua Australia.&lt;br /&gt;Dampak dari apitan dua samudera juga sering mengganggu ke dua muaim tersebut. Bila suhu muka laut di Indonesia dingin dan di pasifik timur hangat maka akan berlangsung fenomena El Nino, akan berdampak pada musim yang terjadi di Indonesia lebih kering, dengan curah hujan menurun dari normalnya. Demikian pula sebalinya bila suhu perairan Indonesia menghangat sementara di pasifik Timur mendingin akan muncul fenomena La Nina, yang dampanya menjadikan musim di Indonesia lebih basah, dengan curah hujan lebih tinggi dari normalnya.&lt;br /&gt;Kedua fenomena tersebut dapat menganggu kedua musim di Indonesia, baik musim kemarau ataupun musim kering. Tahun lalu 2011 misalnya karena dampak La Nina, maka sepanjang tahun ‘rasanya’ kita di Indonesia tidak merasakan adanya musim kemarau  karena sepanjang tahun hujan masih rajin turun.&lt;br /&gt;Namun untuk tahun 2011 ini, yang kondisinya rada-rada normal, terasakan lebih ekterim dari boasanya. Ini sangat boleh akibat pergersaran dari tahun lalu yang relative sangat basah. Namun diakui frekuensi dampak ektrerim musim di tahun ini terasakan sangat meningkat. Dari media massa kita ikuti ahmpir setiap hari dan secara merata kita ikuti bencana kebakaran, baik hutan, pemukiman maupun bangunan lainnya. Kebakaran dapat kita ikuti menimpa pemukima di Kowane Suteng,Tarakan Kaltim, Bukit Tinggi Sumatera, Malang&lt; Surabaya, Jakarta dan lain-lainnya, serta kebakaran hutan diantaranya menimpa hutan di lereng Semeru, Merbabu,Slamet, Jakabering dan Hutan lindung Bali Barat.Demikian pula dengan dampak kekeringan seperti biasanya kita dengar menimpa sebagian besar Jawa Tengah bagian Utara seperti Grobogan-Purwodadi, Daerah Jawa Timur bagian tengah, Jakartta hingga kesulitan air tanah yang membawa rejeki bagi tukang pompa air, serta demikian pula untuk daerah Bali, seperti yang diberitakan Bali Post, diantaranya terakhir tentang Tiga dam yang kekeringan di Banyubiru.Rupanya monsun timuran yang berasosiasi dengan musim kemarau ini mendatangkan dampak ekterim di Bumi Makepung. Demikian pula pada setiap musim kemarau yang terjadi, dampak terkuat pasti dirasakan oleh Jemberana. Ada apa rupanya?&lt;b&gt;MENANTANG MONSUN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Garis pantai Jemberana, termasuk paling panjang dari seluruh garis pantai yang menghadap Samudera Hindia dari Pulau Bali, sehingga akan mendapat hembusan angin kering monsun timuran secara langsung, sehingga akan mempercepat turunnya persediaan air tanah dan air permukaan, karena laju penguapan musim kemarau. &lt;br /&gt;Proses tersebut rupanya yang berlangsung di Jemberana ini, sehingga menjadikannya daerah di Bali yang relatif duluan mengalami musim kemarai, dengan sifat yang lebih kering. Penguapan yang tinggi serta suplay air yang tidak ada selama musim kemarau 2011 ini menyebabkan kekeringan menimpa waduk atau dam yang ada di daerah Jemberana.&lt;br /&gt;Adanya semenanjung Belambangan, yang menjadi benteng alam, rupanya pada saay derasnya angin monsun timuran ikut membuat interferensi gelombang antara gelombang yang datang dan yang terpantul di semenanjung ini, menjadikan ombak di pantai selatan Jemberana menjadi relatif besar pada musim monsun timuran. Dengan kejadian ini pantai selatan Jemberana akan menerima ombak yang relatif besar sepanjang tahun, karena pada saat monsun baratan memang di kenal dengan ombaknya yang besar menimpa seluruh Nusantara, termasuk pantai-pantai di bali. Hanya saja pada saat monsun baratan ombak yang besar, angin kencang serta hujan yang deras diikuti dengan banyaknya sampah yang terhempas disepanjang pantai Bali.&lt;br /&gt;Dengan demikian bila dibandingkan dengan pantai lainnya di Bali, maka pantai selatan Jemberana akan menerima lebih lama gempuran ombak besar dalam setahunnya sehingga abrasi di sepanjang pantai akan menjadi lebih laju dibandingkan dengan pantai lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KESIMPULAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Iklim –perluasan pemakaian musim- ekterim yang menimpa Kabupaten Jemberana, lebih kuat dibandingkan apa yang dialami oleh daerah lainnya di Bali, merupakan dampak dari posisi dari wilayahnya yang bergaris pantai sangat panjang, serta dibentengi oleh Semenanjung Belambangan, yang menjadikan pola ombak yang menggempur pantai Jemberana menjadi lebih besar dan ganas sepanjang tahun, dan waktunya relatif lebih lama dibandingkan dengan daerah lainnya di Bali.&lt;br /&gt;Posisinya yang menantang monsun timuran sebagai angin kering dan dingin menjadikan musim kemarau datang lebih dulu dari daerah lainnya, serta lebih cepat menderita kekertingan karena laju penguapan air tanag dan air permukaan akibat kondisi angin tersebut.&lt;br /&gt;Guna menyiasati agar kerugian yang didertia petani di daerah ini, perhatian terhadap awal musim serta sifat musim yang menjadi produk BMKG perlu mendapat perhatian. Pemerintah daerah perlu kembali menjalin kerjasama yang erat dengan BMKG seperti pada era pemerintah daerah sebelumnya mengembangkan Sekolah Lapang Iklim di daerah ini, agar petani dapat memanfaatkan informasi iklim dan musim dengan baik dalam impelementasiny disektor pertanian maupun perkebunan.&lt;br /&gt;===========================================================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Penulis : aktif di BMKG Jakarta, ada di &lt;a href="http://putu.pudja@bmkg.go.id"&gt;putu.pudja@bmkg.go.id&lt;/a&gt; .&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-3121697818179183760?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/3121697818179183760/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2011/10/bali-barat-paling-rentan-terhadap.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/3121697818179183760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/3121697818179183760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2011/10/bali-barat-paling-rentan-terhadap.html' title='BALI BARAT PALING RENTAN TERHADAP PERUBAHAN IKLIM'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-4054278600559853933</id><published>2011-05-21T16:39:00.000-07:00</published><updated>2011-05-21T16:39:01.755-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lingkungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gempa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iptek'/><title type='text'>PENGANTAR PEMAHAMAN DAN PENCERAHAN PREDIKSI GEMPABUMI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Oleh :&lt;/b&gt; &lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Putu Pudja&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.mmionline.net/artikel/artikel-handphone/uploads/Gempa%20di%20Jakarta.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://www.mmionline.net/artikel/artikel-handphone/uploads/Gempa%20di%20Jakarta.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;sumber gambar : mmionline.net&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari belakangan ini, masyarakat khususnya masyarakat ibu kota meributkan masalah gempabumi, yang katanya akan menimpa daerah ibu kota dengan kekuatan 8,7 Skala Richter (SR). Debatpun digelar di TV One dengan mendengarkan pendapat para ‘pakar’ diantaranya Dr Surono dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Dr Cecep Subarya (Bakosurtanal(?)). Penulis berkali kali pada saat diskusi tersebut mendapat pertanyaan dari BBM, BBM Group, SMS maupun langsung via telepon.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu menunjukkan bahwa : Pertama masyarakat sangat perhatian terhadap keselamatan mereka terkait dengan bencana gempabumi yang di prediksi akan terjadi dengan kekuatan 8,7 SR; Kedua : masyarakat sangat cepat lupa, bahwa ibukota bukanlah daerah yang gempagenic; Ketiga : masih saja percaya dengan prediksi sejenis, padahal sudah beberapa terjadi pr4ediksi serupa akan tetapi belum pernah ada buktinya, dan Keempat serta sete seterusnya  masih banyak lagi diantaranya tentu kita patut sekali bertanya apakah gempabumi itu da[at diprediksi pada saat ini.&lt;br /&gt;Untuk menjawab pertanyaan terakhir sebagai masukan dan pencerahan terhadap masyarakat tentang prediksi gempabumi tersebut, sebaiknya kita lihat proses fisis gempabumi sehingga mereka lebih dapat menyikapi berita-berita sejenis di masa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gempabumi adalah peristiwa bergetarnya bumi secara tiba tiba sebagai akibat pelepasan energi di dalam bumi,  yang diawali dengan patahnya lapisan batuan pada kerak bumi. Akumulasi energi penyebab terjadinya gempabumi dihasilkan dari energy strain dan stress karena tertahannya pergerakan relatif lempeng-lempeng tektonik, oleh lempeng yang salin bertemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini terjadi suatu proses fisis yang terjadi jauh sebelum gemoa itu terjadi. Lempeng tektonik akibat pergerakan relatifnya satu sama lain mengakibatkan ada penekanan yang intensif pada pertemuan antar lempeng. Pada pertemuan antar lempeng ini akan terakumulasi eneri stress akibat tekanan satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batuan yang mengalami akumulasi ini akan mengalami perubahan fisis sehingga akan mempengaruhi medan disekitar daerah yang mengalami stress  tersebut. Mengingat sifat fisis batuan kulit bumi yang sangat ditentukan oleh kandungan materialnya maka perubahan medan dapat terjadi pada medan gravitasi, medan magnet, edan listrik statis, medan radioaktif (radon), dll sifat fisis lainnya dari batuan.  Juga diperkenalkan adanya perubahan yang sangat signifikan terhadap perubahan medan energy tektonik, yang dapat direkam dengan pendulum, dan banyak dikembangkan pakar seismologi Eropa Timur sambil memperkenalkan gelombang tektonik, namun yang terakhir ini masih banyak diperdebatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan medan ini juga ditengarai dapat ditangkap oleh binatang. Sehingga merela mengalami perubahan prilaku beberapa saat sebelum gempa terjadi. Sebagai contoh prilaku ikan sejenis lele di Jepang, panda dan cacing tanah di China, di Indonesia sesaat sebelum gempa Tasikmalaya, prilaku binatang di Taman Safari banyak yang mengalami perubahan seperi gajah, singa dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini semua menunjukkan memang benar ada perubahan medan sebelum gempa itu terjadi. Perubahan medan gravitasi, medan magnet bumi, medan lsitrik statis bumi, VET (Volume Elektic Total ) di udara mengalami perubahan. Hanya saja hasil penelitian saat ini menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi sangat variatif dalam kualitas maupun jeda waktunya sebelum gempabumi  terjadi.  Ini menyulitkan sangat sulit menentukan waktu akan terjadinya gempabumi dengan tepat sangat sulit dilakukan. Demikian pula untuk lokasi yang tepatpun sulit dilakukan mengingat bumi merupakan laboratorium yang secara spasial susah diisolasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah yang mengalami stress akan mengalami perubahan kandungan air, akibat porositasnya yang berubah sehingga akan mempengaruhi kecepatan gelombang seoismik kalau melintas daerah tersebut, terutama perubahan kecepatan gelomban transversalnya yang oleh seismolog ditengarai sebagai gelombang shear atau gelombangs kunder (S). Yang sering digunakan disini adalah perubahan rasio kecepatan gelombang P dan kecepatan gelombang S.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses ini diamati sebagai hasil sampingan dari pengamatan gempabumi secara rutin, inipun masih meninggalkan masalah, karena daerah yang dilewati gelombang seismic sangat luas / panjang dari sumbernya hingga tertangkap sensor gempabumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses gempabumi sampai ini banyak dijelaskan dengan teori elatic rebound, yang mengatakan bahwa daerah pusat gempa akan mengalami ‘patah’ saat terjadi gempabumi, sebelumnya mengalami penumpukan stress dan setelah gempabumi akan mengalami proses kembali ke keadaan semula, dan tentu meninggalkan cacat akibat patahnya saat gempa dan meninggalkan patahan di tempat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan hal itu, maka akan terjadi proses fisis perubahan energy, gelombang dan medan pada daerah yang mengalami penumpukan energy stress yang selanjutkan kita sebut sebagai pusat gempabumi. Perubahan dari kualitas dan kuantitas energi, gemombang dan medan tersebu yang digunakan untuk memprediksi gempa bumi secara fisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita perhatikan gerakan lempeng tektonik yang tidak pernah berhenti membuat proses saling menekan diantara lempeng, maka di daerah penumpukan stress tersebut akan terjadi pengulangan penumpukan setelah energy terlepas karena material sudah tidak mampu lagi menahan energi tersebut. Pelepasan energi ini dapat berupa getaran, energy suara maupun energy cahaya, seperti gempa-gempabumi yang terjadi di pantai selatan Jawa Barat yang sering disertai energi suara berupa gemuruh dan energi cahaya, berupa kingkilapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses fisis tersebut maupun statistic data kejadian gempabumi menunjukkan di daerah yang pernah terjadi gempabumi, suatu saat akan terjadi gempabumi dengan kekuatan sama dengan kekuatan maksimum gempa yang pernah terjadi di daerah tersebut. Ini menggiring pemikiran kita untuk mengatakan bahwa gempabumi kejadiannya berulang. Mengingat seperti telah dikatakan di dtas bahwa bimi merupakan laboratorium yang tidak terisolasi banyak factor yang akan berperan dalam proses perulangan ini, hingga hitungan statistic sangat sering tak cocok untuk menghitung periode ulang gempa di suatu daerah yang gempagenic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa secara proses fisis maupun data statistic menunjukkan bahwa didaerah gempagenic, peristiwa gempabumi akan terjadi secara berulang. Kejadiannya akan dipengaruhi kondisi fisis batuan didaerah tersebut saat akumulasi energi terjadi, sehingga tidak mulus dengan periode ulang tetap antara satu gempabumi ke gempabumi berikutnya, terlebih kejadiannya dapat dikatakan sangat jarang perhitungan ststistik terhadap periode ulang gempabumi juga sangat besar standar variasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses fisis yang mendahului gempabumi dalam skala energi, gelombang dan medan memungkinkan ilmuwan untuk mengetahui akan kehadiran gempabumi di suatu daerah gempagenic, namun mengingat beragam dan ketidak homoginan kulit bumi disuatu tempat dan tempat lainnya menyulitkan untuk melakukan prediksi dengan tepat, terutama untuk waktu kejadiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian gempabumi secara umum berdasarkan proses fisis gempabumi dapat dikatakan dapat diprediksi, namun sampai saat ini para pakar belum mampu menentukan kapan watu akan terjadinya puncak akumulasi energy di daerag gempagenic tersebut, yang akan dilepas sebagai energy gempagumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kita yang bermukim di sekitar daerah margin lempeng tektonik, sudah sepatutnya waspada terhadap bencana yang diakibatkan oleh peristiwa alam gempabumi ini, namun tidak perlu menjadi paranoid terhadap prediksi-prediksi yang dibuat oleh ‘pakar-pakar’ yang mencoba memprediksi gempabumi  akan terjadi di suatu daerah.  Mari kita membiasakan diri hidup di daerah bencana, memahami karakter, maupun cara-cara aman dalam menghadapi bencana tersebut bila dia hadir, termasuk mengetahui cara mengadaptasi, dan memitigasi kejadiannya, dengan tetap tenag serta berfikir rasional.&lt;br /&gt;===========================================================&lt;br /&gt;Penulis bekerja di Pusat Penelitian dan Pengembangan, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-4054278600559853933?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/4054278600559853933/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2011/05/pengantar-pemahaman-dan-pencerahan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/4054278600559853933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/4054278600559853933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2011/05/pengantar-pemahaman-dan-pencerahan.html' title='PENGANTAR PEMAHAMAN DAN PENCERAHAN PREDIKSI GEMPABUMI'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-6688997803259069472</id><published>2011-05-17T22:32:00.000-07:00</published><updated>2011-05-17T22:32:09.777-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cuaca'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iptek'/><title type='text'>MENELISIK CUACA SAAT KECELAKAAN MERPATI DI KAIMANA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh :     &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Putu Pudja dan Akhmad Sasmita&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://ammay26.files.wordpress.com/2011/05/88292_1191202657.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="218" src="http://ammay26.files.wordpress.com/2011/05/88292_1191202657.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Telah banyak diberitakan di perdebatkan kecelakaan Pesawat terbang MA-60 milik maskapai penerbangan Merpati, di Teluk Somora, menjelang landasan dari Bandara Utarom Kaimana, Papua Barat, 7 Mei 2011. Kecelakaan terjadi sekitar pk 14 05 WIT, atau sekirar pukul 5 05 GMT. Kecelakaan ini menyebabkan semua penumpang dan awak pesawat meninggal tenggelam bersama pesawat yang mereka tumpangi.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komisi Nasional Keselamatan Transportasi, sedang melakukan penelitian terhadap penyebab kecelakaan tersebut, termasuk akan meneliti kotak hitam pesawat yang sudah ditemukan tim pencari pasca kecelakaan, yang merupakan kerja sama masyarakat setempat dengan Tim Basarnas, TNI dan Polri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musibah ini sangat menarik perhatian masyarakat, sampai politikus sebagai wakil rakyat di Senayan sangat ramai mengusut kejadian ini hingga ke dalam proses pembelian MA-60 yang sangat kontrpversial bila kita ikuti beritanya, sehingga tidak sedikit masyarakat berkomentar apapun di negeri ini pasti akan dipolitisir dengan ujung-ujung dibentuknya tim investigasi. Hanya saja seperti biasa rekomenadsi akhirnya sebagian besar  tanpa tindak lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tidak ingin menambah ramai polemic tersebut, penulis ingin melihat data-data yang dilaporkan, citra satelit cuaca pada waktu  dan ruang sekitar kejadian, yang diharapkan agar kita dapat memandangnya lebih jernih peristiwa yang sangat mungkin dialami pula oleh masakapai penerbangan yang lain di Papua mengingat kondisi alamnya  yang berat dengan cuacanya yang sering tidak bersahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;DATA CUACA SINOPTIK DAN CITRA SATELIT&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti banyak dilaporkan bahwa  Pesawat Merpati jenis MA-60, nomor MZ8968 terbang dari Sorong menuju Kaimana Jatuh pada jarak sekitar 500 meter dari Bandara Utarom. Juga disebutkan bahwa informasi Kepala Bandara Utarom Kaimana, menyebutkan saat kejadian cuaca hujan, angin kencang, menyulitkan jarak pandang dan pada saat kejadian juga terjadi badai ringan, serta  sebelum landing pesawat sempat menambah daya untuk terbang lagi ( Kompas, 8 /5/2011).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan data pengamatan meteorologi sinoptik, yang dilaporkan pada jam jam utama pengamatan yang disepakati secara internasional diantara anggota WMO ( World Meteorological Organization ) yaitu pada waktu pk : 00, 03, 06, 09, 12, 15, 16 dan 21 GMT, dari Stasiun Meteorologi Kaimana dilaporkan bahwa :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 12.00 WIT atau 03 GMT s/d 15.00 WIT atau 06 00 GMT trend cuaca semakin ekstrim (bad weather) diprakirakan pada pukul 14.00 WIT pada saat pesawat jatuh visibility ( jarak pandang mendatar ) kurang dari 4 km; Pada pk 12 WIT dilaporkan suhu udara 28 derajat Celsius, dan turun manjadi 22 derajat Celsius, pk 15 WIT, dengan visibilita semakin menurun sejak pk 12 WIT.&lt;br /&gt;Demikian pula bila kita telusuri citra satelit cuaca MTSAT sekitar waktu kejadian dan sekitar tempat kejadian, akan kita jumpai bahwa : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama :  pukul 04.00 UTC/13.00 WIT terdapat awan Cb ( Cumulunimbus ) dari arah Selatan dan Vortisitas negatif (udara naik) hal ini memberikan makna bahwa pertumbuhan awan  aktif dan semakin aktif. Kedua : pukul 05.00 UTC/14.00 WIT disekitar bandara diliputi awan Cb; harga vortisitas tetap  negatif hal ini memberi makna bahwa udara labil (pertumbuhan awan semakin  aktif).  Angin berhembus dari agar tenggara, sehingga terlihat sekitar waktu kejadian pergeseran awan meliputi Kaimana sampai Laut arah tenggara bandara, dengan pergeseran searah angin yaitu dari tenggara. Perhatikan gambar citra satelit berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-MMPORRCD3Ac/TdNY7-22-qI/AAAAAAAAACY/mZ80tfbjJRA/s1600/citsat.JPG" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="253" src="http://3.bp.blogspot.com/-MMPORRCD3Ac/TdNY7-22-qI/AAAAAAAAACY/mZ80tfbjJRA/s320/citsat.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;Gambar Cira Satelit MTSAT per jam Tanggal 7 Mei 2011&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Dari data meteorologi sinoptik yang dilaporkan Stasiun Meteorologi Kaimana yang diteruskan sebagai pertukaran data global melalui jaringan GTS (Global Telekominucation Syatem), juga perkembangan awan dan angina yang dicitrakan satelit MTSAT sekitar waktu dan tempat kejadian menunjukkan bahwa cuaca memang dalam kategori tidak baik, sesuai dengan yang dilaporkan Kepala Bandara Utarom Kaimana, setelah kejadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila memperhatikan kejadian musibah yang menyatakan bahwa pesawat jatuh kelaut sekitar 500 meter menjelang landasan, apakah benar bila pesawat tersebut mendarat searah dengan arah angin. Tapi mungkin juga angin permukaan berlawanan dengan angin yang ditunjukkan citra satelit, yang ikut mendorong perkembangan awan dari arah tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data tersebut menunjukkan bahwa cuaca saat kejadian di sekitar bandara Kaimana sampai Laut selatan daerah Kaimana mengalami cuaca buruk, dengan arah pergerakan awan Cb yang berkembang dari arah tenggara, kondisi hujan diperkirakan memperpendek jarak pandang mendatar pada saat menjelang pesawat mendarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini juga membuktikan bahwa cuaca di daerah Papua memang unik, sangat cepat berubah karena perkembangannya sangat cepat, sehingga tidak salah kiranya bila masyarakat selalu mengaitkan setiap kecelakaan penerbangan di daerah ini dengan factor cuaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KESIMPULAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperhatikan perkembangan cuaca sekitar saat dan tempat kejadian, khususnya data meteorologi sinoptik, data citra satelit cuaca, maupun laporan Kepala Bandara Utarom Kaimana, diperkirakan bahwa kondisi cuaca pada saat kejadian di sekitar bandara Utarom Kaimana, ikut mempersulit upaya pilot untuk mendarat saat kejadian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai implikasi dapat dikatakan bahwa untuk wilayah dengan cuaca yang sangat rawan perubahan dan transportasi udara sebagai tulang punggung transportasi, serta minimnya peralatan dan petugas di bandara-bandara pedalaman seperti Papua, maka akan sangat bermanfaat bila maskapai penerbangan juga memperhatikan perkembangan perubahan cuaca terbaru, seperti dari MTSAT, yang telah dipajang banyak di website termasuk di website BMKG, sebagai pelengkap dokumen keselamatan penerbangan disamping yang telah baku dipersyaratkan organisasi internasional penerbangan sipil.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-MMPORRCD3Ac/TdNY7-22-qI/AAAAAAAAACY/mZ80tfbjJRA/s1600/citsat.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;=========================================================== &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;Kedua Penulis : bekerja di Pusat Penelitian dan Pengembangan, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-6688997803259069472?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/6688997803259069472/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2011/05/menelisik-cuaca-saat-kecelakaan-merpati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/6688997803259069472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/6688997803259069472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2011/05/menelisik-cuaca-saat-kecelakaan-merpati.html' title='MENELISIK CUACA SAAT KECELAKAAN MERPATI DI KAIMANA'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-MMPORRCD3Ac/TdNY7-22-qI/AAAAAAAAACY/mZ80tfbjJRA/s72-c/citsat.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-8582278321220826954</id><published>2011-04-14T20:21:00.000-07:00</published><updated>2011-04-14T20:56:05.662-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lingkungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cuaca'/><title type='text'>MOMEN DIPOLE NEGATIF DAN LA NINA MEINGKATKAN PENIMBUNAN SAMPAH PANTAI KUTA”</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;MOMEN DIPOLE NEGATIF DAN LA NINA MEINGKATKAN PENIMBUNAN SAMPAH PANTAI KUTA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpos"&gt; Oleh : I Putu Pudja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpos"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://l.yimg.com/fv/xp/afp/20110408/02/529283260.jpg?x=292&amp;amp;sig=n6.5wMNCPOGaVEOY5GgMWw--" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="130" src="http://l.yimg.com/fv/xp/afp/20110408/02/529283260.jpg?x=292&amp;amp;sig=n6.5wMNCPOGaVEOY5GgMWw--" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;sumber gambar : google.com&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Berita tentang sampah yang berserakan di pantai Kuta, Bali yang diwartakan  Majalah Time pada Jumat 1 April 2011 lalu, dengan judul "Holidays in Hell: Bali's Ongoing Woes.", sangat menghebohkan,  padahal bagi wisatawan yang sudah berulang kali datang ke pantai Kuta khususnya pada saat monsun baratan pasti telah terbiasa menjumpai masalah ini. Hanya saja sampah pada masa monsun baratan ini kualitas dan kuantitas sampahnya kelihatan lebih meningkat.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bagi masyarakat Bali yang biasa memiliki aktipitas di pantai, kejadian tersebut di atas merupakan kejadian yang sudah biasa sehingga seharusnya tidak perlu diributkan. Hal itu juga terlihat dari keterangan Gubernur Bali, Mangku Pastika maupun Menteri Kebudayaan da Pariwisata, Jro Wacik yang biasa-biasa saja atau  tidak panik menanggapi berita tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena beliau berdua –demikian juga masyarakat pantai – telah hafal bahwa setiap musim angin ( monsun) baratan tiba kejadiannya akan berulang, deburan ombak mengganas, sampah dan pasir lautpun akan terhempas sampai ke jalanan di Jalan Melasti, Kuta Bali. Masyarakat pariwisata baik masyarakat Kuta maupun wisatawan sudah biasa bergorong royong pada musim tersebut membersihkan pantai. Musim demikian akan datang setiap tahun sejalan dengan perubahan musim yang terjadi di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja timbul pertanyaan kenapa sampah pada musim ini menjadi lebih banyak dibandingkan dengan musim musim sebelumnya. Untuk menjawabnya kita coba menengok sejenak faktor-faktor pengganggu musim angin baratan tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;RAWAN GANGUAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada era perubahan iklim belakangan ini musim di Indonesia, yang musimnya ditandai dengan musim hujan dan musim kemarau, atau kalau ditinjau dari hembusan angin, ditandai dengan musim angin baratan ( monsun baratan) dan musim angin timuran ( monsun timuran ) sangat sering terganggu, sehingga musim hujan menjadi lebih panjang, curah hujan meninggi, demikian pula puting bliung semakin sering terjadi, gelombang laut tinggi sering terjadi. Itu kita rasakan bersama pada beberapa tahun terakhir, sehingga merupakan pembenaran adanya perubahan iklim.Secara reguler, Indonesia mengalami musim hujan ( Oktober – Maret ) dan musim kemarau ( April – September ). Masing-masing musim memiliki ciri-ciri tersendiri. Musim hujan dengan dominasi angin baratan yang basaih, sedangkan musim kemarau dengan dominasi angin timuran yang kering. Angin baratan di daerah Jawa dan Bali biasa disebut Angin Baret, atau angin kuat dari arah barat. Dalam pranata mangsa Jawa atau Bali, puncak angin baratan ini biasanya terjadi pada mangga ka wolu, sekitar Januari – Pebruari, setiap tahunnya. Menjelang musim ini masyarakat akan memangkas dahan-dahan pepohonan yang rindang agar tidak robih di tiup angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim di Indonesia sangat rentan terhadap perubahan yang terjadi di atas Samudera Pasifik, berupa fenomena La Nina atau El Nino; di atas Samudera India berupa adanya Momen Dipole. Kedua femonena tersebut mengakibatkan bergesernya kolam air hangat di kedua samudera tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada musim kemarau 2010/2011 ini, musim hujan yang ditandai dengan musim angin baratan, curah hujan kelihatannya meningkat, periode hari hujan menjadi memanjang sehingga April 2011 yang sudah seharusnya mulai memasuki musim kemarau, hujan masih rajin turun di wilayah Indonesia terutama Sumatra-Jawa-Nusa Tenggara, Sulawesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini disebabkan karena periode musim kemarau 2010/2011 terganggu peningkatan suhu muka laut di perairan Indonesia yang menghangat sehingga atmosfer menjadi kaya uap air (awan) di atas Indonesia. Sebagai sumber hujan tersebut yang jatuh berkepanjangan sampai April 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan suhu muka laut itu disebabkan adanya fenomena La Nina yang medorong air hangat Pamudera Pasifik ke arah barat,  sehingga arus arlindo ( arus lintas Indonesia ) menjadi relatif lebih deras. Arlindo ini adalah arus air Samudera Pasifik melintasi Indonesia melalui celah Selat Makassar terus Selat Lombok menuju Samudera India. Dilain pihak dari sisi lain berhembus angin baratan sebagai angin musim kemarau yang di wilayah Indonesia terutama di atas Sumatera Selatan, Jawa, Nusa Tenggara arahnya hampir pas dari barat ke timur, dengan kecepatan cukup besar dapat mencapai  30 - 40 knots.&lt;br /&gt;Angin baratan inilah yang secara rutin mendorong air laut dengan segala sampah di dalamnya untuk terhempas di pantai-pantai selatan yang berhadapan dengan Samudera India. Pada musim angin baratan ini digunakan oleh petani garam tradisional maupun masyarakat pantai di Jawa dan Bali untuk menimbun kayu bakar yang dimanfaatkan untk membuat garam maupun untuk memasak sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin baratan yang terjadi semakin deras diduga karena momen dipole Samudera India relatif kuat sehingga menjadikan permukaan perairan Samudera India di wilayah Indonesia menjadi relatif hangat, seterusnya ikut memperbesar gradien tekanan yang memacu angin baratan menjadi semakin tinggi kecepatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;AKUMULASI KONDISI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali bila kita perhatikan kejadain di pantai Kuta, kejadiannya untuk kali ini merupakan akibat dari akumulasi kondisi yang terjadi. Kejadiannya menjadi semakin kuat karena : &lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt; : kuatnya angin baratan yang terjadi pada musim ini menjadikan hempasan air laut dengan segala isinya lebih kuat menerpa pantai kuta yang berada pada sisi barat kaki Pulau Bali, sehingga merupakan bendungan yang menahan segala yang ada pada air laut yang menghempasnya. Sebagai data kongkrit di beberapa pantai selatan Bali sekitar sebulan – dua bulan setelah tsunami Aceh, ditemukan beberapa peralatan rumah tangga termasuk beberapa lemari lengkap dengan isi pakaian yang terbawa arus angin baratan dari Aceh, sampai pantai selatan Bali, betapa hebatnya angin bartan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kedua &lt;/i&gt;: Kuatnya arlindo menyebabkan aliran air yang tersapu angin baratan tertahan oleh arus air yang mengalir dari Samudera Pasifik melintasi Selat Makassar – Selat Lombok, yaitu perairan timur Pulau Bali, menyebabkan arus laut akibat angin baratan tertahan di selatan Bali –diduga demikian pula untuk pantai utara Bali-, manjadikan air laut menjadi lebih tinggi dan ombaknyapun semakin ganas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi seperti ini biasanya Jalan Melasti yang berada di selatan Hard Rock Hotel yang sejajar dengan garis pantai, akibat terjangan ombak angin baratan tidak jarang digenangi air laut, maupun tertimbun pasir laut. Untuk kali ini karena di tepi pantai –antara jalan dengan pantai – telah dibangun tembok air dan pasir pantai Kuta tidak sampai menguruk jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ketiga &lt;/i&gt;: kondisi geografis kaki pulau Bali yang memanjang dari utara ke selatan dimana di sisi baratnya terdapat pantai Kuta, rupanya juga menjadi benteng penahan gempuran ombak angin baratan ini, sehingga menjadikan pantai-pantai barat di kaki Pulau Bali menjadi tempat terdamparnya sampah sampah Samudera India. Selain pantai Kuta, pantai Tuban, Jimbaran sampai Dream land juga akan mengalami nasib yang sama dengan pantai Kuta pada musim ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian  dapat dikatakan bahwa kondisi sampah pantai Kuta sedemikian menghebohkan dunia pariwisata nasional maupun internasional dengan sampahnya pada musim angin baratan ini, boleh jadi merupakan akumulasi kondisi Arlindo, sebagai dampak fenomena La Nina, yang menahan gempuran ombak angin baratan di selatan Bali yang kondisinya deras tahun ini akibat fenomena momen dipole yang negatif. Disamping musim hujan yang berkepanjangan rupanya sampah yang terdampar di pantai Kuta –demikian pula pantai lain di Bali- menjadi menjadi semakin meningkat jumlahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi tersebut tidak perlu dikhawatirkan karena menjadi pemandangan rutin setiap tahunnya, yang tidak bisa dicegah kejadiannya. Masyarakat wisatapun sudah maklum kelalukan bumi kita ini, sehingga setiap tahun kita jumpai acara gotong royong penduduk lokal dan tourist pengunjung dan pencinta Pantai Kuta mengadakan ritual pembersihan pantai dari sampah-sampah hempasan ombak, yang sangat unik dan banyak ragamnya. &lt;br /&gt;=========================================================================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pemulis : Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-8582278321220826954?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/8582278321220826954/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2011/04/momen-dipole-negatif-dan-la-nina_14.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/8582278321220826954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/8582278321220826954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2011/04/momen-dipole-negatif-dan-la-nina_14.html' title='MOMEN DIPOLE NEGATIF DAN LA NINA MEINGKATKAN PENIMBUNAN SAMPAH PANTAI KUTA”'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-6637016274377234266</id><published>2011-04-01T19:49:00.000-07:00</published><updated>2011-04-11T20:37:30.323-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cuaca'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gempa'/><title type='text'>FAKTOR CUACA PADA TSUNAMI DAN RADIASI LEDAKAN REAKTOR NUKLIR JEPANG</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh :     &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;I Putu Pudja &amp;amp; Akhmad Sasmita&lt;/span&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Gempa bumi yang terjadi pada tanggal 11 Maret 2011dengan kekuatan 8,9 SR (Skala Richter) pukul 12.46.22 WIB berpusat dekat kota Sendai Jepang (38.49 LU; 142.79 BT kedalaman 15 Km) selain memporak porandakan sarana dan prasarana di beberapa kota di sebelah timur kepulauan Jepang, karena diikuti oleh gelombang Tsunami, mengakibatkan korban jiwa yang hingga kini masih belum diketahui secara pasti, karena pendataan terus berlangsung, kemungkinan korban dalam reruntuhan dan hilang tersapu tsunami terus meningkat.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Gempabumi ini juga telah mengakibatkan ‘hancur’nya reaktor nuklir Fukushima. Terkait dengan hal ini pemerintah Jepang telah mengambil sikap tegas tanggal 12 Maret 2011 telah memberlakukan darurat nuklir, karena diketahui adanya kebocoran salah satu reaktor nuklir tersebut. Karena panas pada reaktor tidak terkendali mengakibatkan meledak dan terbakarnya reaktor tersebut. Beberapa negara tetangga termasuk Indonesia mengkhawatirkan akan menerima radiasi nuklir tersebut. Patutkah kita khawatir?.&lt;br /&gt;Kerusakan bangunan demikian juga reaktor nuklir  yang terjadi kemungkinan karena dua hal pokok yaitu pertama konstruksi bangunan tidak mampu menahan getaran gempa bumi baik arah vertical (body wave) maupun arah horizon (surface wave), dan yang kedua karena adanya pergeseran lempeng kerak bumi  sehingga terjadi liquification (ables) sehingga bangunan bergeser dan terjadi jaringan peralatan bisa jadi patah atau retak sehingga mengganggu operasional reaktor nuklir.  Ini sangat mungkin dialami rekator-rektor nuklir sebagai urat nadi kelistrikan di Jepang, mengingat citra satelit menunjukkan bahwa pulau-pulau utama Jepang mengalami pergeseran hingga 2 meteran akibat gempa Sendai ini.&lt;br /&gt;Tidak adanya pasokan listrik karena power utama dari reaktor nuklir terganggu menyebabkan sistem pendinginan reaktor tidak dapat dilakukan sehingga panas meningkat terus dan mengakibatkan kebakaran dan meledaknya  reaktor nuklir tersebut.&lt;br /&gt;Untuk mengatasi gangguan terhadap gempa pakar teknik konstruksi bangunan telah menciptakan inovasi bangunan tahan gempa. Salah satu diantaranya  dengan memasang engsel elastis di sekitar pondasi bangunan, sehingga bila terjadi gempa bangunan hanya bergoyang kekanan dan kekiri (osilasi horizontal), dan lebih dinamis. Teknologi ini telah banyak diterapkan di Jepang dan kehandalannya telah terbukti pada saat terjadi gempa pada tanggal 11 Maret 2011 dimana bangunan pencakar langit di kota Tokyo tidak mengalami  roboh.   Perekayasa  BMKG kini  telah mulai merekayasa untuk  menciptakan konstruksi pondasi bangunan tahan gempa.  &lt;br /&gt;Didalam operasional reaktor nuklir, umumnya kerusakan disebabkan oleh tiga hal yaitu tidak berjalannya alat secara sempurna, kesalahan atau kelalaian operator, dan gangguan alam seperti gempa bumi. Manakala terjadi gangguan akibat bencana gempabumi bisa jadi reaktor nuklir mengalami gangguan atau terjadi kerusakan.  Dalam peristiwa  kebocoran reaktor nuklir di Fukushima, terjadi radiasii atau pelepasan bahan radio aktif ke udara, sehingga mengkhawatirkan semua pihak bahkan di Indonesia banyak pihak yang risau akan hal tersebut. Apakah wilayah kita aman dari radiasi tersebut?. Kondisi cuaca dan arah angin sangat menentukan kemana partikel radiasi tersebut akan dibawanya.&lt;br /&gt;Manakala reaktor rusak dan kebocoran radiasi terlebih reaktor yang terbakar dan meledak akan menyebabkan adanya pelepasan bahan radio aktif ke udara. Unsur meteorologi seperti angin, stabilitas udara, tinggi lapisan adukan di udara, lapisan inverse, tinggi corobong ( sumber pelepasan ) sangat berperan terhadap besarnya konsentrasi di suatu wilayah, serta membawa mendistribusikan radiasi tersebut ke wilayah sampai jauh dari sumbernya. Ingat radiasi dapat didekati dengan dua persepsi, sebagai sinar maupun sebagai partikel, dia akan terbawa bersama uap air, didorong angin mengikuti angin yang sedang berlamgsung sebagai salah satu unsur cuaca.&lt;br /&gt;Hasil pantauan Litbang BMKG, dengan menggunakan data yang mengacu pada keluaran Numerical Weather Prediction (NWP) model Japan Meteorological Agency (JMA) sejak kejadian hingga tulisan ini diibuat ( 17 Maret 2011) menunjukkan bahwa sebaran polutan radio aktif dari rektor nuklir Fukushima diprakirakan mengarah ke arah barat hingga barat daya yang sebarannya di bawa angin dapat mencapai pada ketinggian 1500 meter.  Arah ini sangat bertolak belakang dibandingkan dengan arah dari jepang ke Indonesia.&lt;br /&gt;Diari grafis keluaran model NWP yang lainnya, juga terlihat bahwa pada saat terjadi Tsunami, dan sebagianmenimbulkan pusaran antisiklonik dekat pantai Sendai Jepang, faktror cuaca / angin juga sangat berpengaruh. Penjalaran tsunami mengakibatkan up welling kuat sehingga material yang berada di dasar laut terbawa keatas dan dimuntahkan ke pantai dengan kecepatan yang sangat tinggi.  Para pakar memprakirakan kecepatan gelombang Tsunami tersebut mencapai 800 km/jam.  Pada saat itu pada lapisan 1000 -  850 mb  (pada lapisan hingga 100-150 meter diatas permukaan laut) terjadi pola angin siklonik. Ia muncul teridentifikasi dari daratan China/laut China Sebelah timur dan bergerak ke timur melalui laut Korea dan sampai ke laut Jepang sebelah timur.  &lt;br /&gt;Faktor angin ini mengakibatkan adanya gelombang tsunami siklonik seperti pada gambar ( data 11 Maret 2011) yang terjadi di dekat pantai Sendai, serta menjadikan bertambah lajunya kecepatan tsunami Jepang. Bila tidak ada faktor angini ini kecepatan awal tsunami sebanding dengan akar kuadrat dari perkalian gravitasi bumi serta kedalaman laut dimana gempa itu terjadi sebagai sumber tsunami. Diduga faktor angin yang ditunjukkan citra satelit maupun hasil keluaran NWP JMA, mempercepat laju tsunami Jepang.&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian tersebut diatas berkaitan dengan terjadinya kecelakaan ledakan reaktor nuklir di Fukushima Jepang, wilayah Indonesia berada pada daerah aman karena tajektori angin dari Jepang tidak mengerah ke wilayah Indonesia, yang letaknya relatf di Selatan- tenggara Jepang.&lt;br /&gt;Kuatnya Tsunami di Jepang disebabkan oleh dua faktor : selain mekanisme di pusat gempa ( posisi, kedalaman, kekuatan, mekanisme sesar vertikal ), juga karena kuatnya angin yang terjadi saaat tsunami, terutama pada lapisan yang bergesekan langsung dengan permukaan laut yaitu berupa adanya pola angin antisiklonik di lapisan permukaan sampai lapisan 850 mb yang menimbulkan gaya dorong kebawah sehingga semakin menguatkan gelombang Tsunami tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-8RQbjzwzuOs/TZaPJoX4W9I/AAAAAAAAACI/_PNxDlf3fNc/s1600/jepang3.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-31vbgEbHQhM/TZaPM2agE3I/AAAAAAAAACM/_Xz2ElQ1ikk/s1600/jepang.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-31vbgEbHQhM/TZaPM2agE3I/AAAAAAAAACM/_Xz2ElQ1ikk/s320/jepang.JPG" width="293" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-heyL74ecNwA/TZaPWJKY6hI/AAAAAAAAACQ/4WQyBvcSR4Q/s1600/jepang2.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-heyL74ecNwA/TZaPWJKY6hI/AAAAAAAAACQ/4WQyBvcSR4Q/s320/jepang2.JPG" width="297" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-y1bfD7gEfnU/TaPIO2OHA9I/AAAAAAAAACU/XoRLAbivD94/s1600/x2_46f194a.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-8RQbjzwzuOs/TZaPJoX4W9I/AAAAAAAAACI/_PNxDlf3fNc/s1600/jepang3.JPG" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="88" src="http://3.bp.blogspot.com/-8RQbjzwzuOs/TZaPJoX4W9I/AAAAAAAAACI/_PNxDlf3fNc/s320/jepang3.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 115%;"&gt;Disarikan oleh: DR I Putu PuDja, MM dan Drs Achmad Sasmito, Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-6637016274377234266?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/6637016274377234266/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2011/04/faktor-cuaca-pada-tsunami-dan-radiasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/6637016274377234266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/6637016274377234266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2011/04/faktor-cuaca-pada-tsunami-dan-radiasi.html' title='FAKTOR CUACA PADA TSUNAMI DAN RADIASI LEDAKAN REAKTOR NUKLIR JEPANG'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-31vbgEbHQhM/TZaPM2agE3I/AAAAAAAAACM/_Xz2ElQ1ikk/s72-c/jepang.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-3955785594952510806</id><published>2011-01-23T05:34:00.000-08:00</published><updated>2011-01-23T05:34:25.429-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cuaca'/><title type='text'>KOLABORASI LA NINA DAN GANGGUAN SIKLON TROPIS PERBURUK CUACA DI INDONESIA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_siLWsCodXxM/TGSwtXQJ_0I/AAAAAAAATEU/VtcNFwUqd9w/s1600/untitled.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="162" src="http://1.bp.blogspot.com/_siLWsCodXxM/TGSwtXQJ_0I/AAAAAAAATEU/VtcNFwUqd9w/s320/untitled.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Sumber gambar : &lt;i&gt;newsterupdate.com&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : I Putu Pudja&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari belakangan ini, media masa penuh dengan berita cuaca ekrim, yang mengganggu aktipitas masyarakat hampir di seluruh wilayah Indonesia, dengan kepadatan kejadian semakin ke timur semakin menurun, demikian juga semakin ke utara semakin menurun. Fenomena cuaca ektim tersebut, dilaporkan berupa : hujan lebat dengan angina kencang, puting beliung, gelombang  tinggi di laut, serta bencana ikutan dari cuaca ektrim tersebut berupa banjir, tanahh longor, rob sampai dengan banjir lahar dingin Merapi yang masih mengancam keselamatan di daerah hilir Merapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sangat banyak kerugian yang diakibatkan cuaca ektrim, sejak tahun 2010 lalu di Indonesia. Musim hujan yang seakan mewarnai sepanjang tahun mengakibatkan banyak petani gagal panen, hama tikus meraja lela, produksi garam menurun drastic, demikian pula transportasi laut terutama kapal penyeberangan sangat sering terganggu gelombang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena tersebut menarik minat  untuk mengetahui lebih jauh apa sebenarnya yang sedang terjadi terhadap musim atau iklim kita, apakah itu merupakan fenomena perubahan iklim atau hanya merupakan gangguan lokal, gangguan regional, yang bersifat kasuistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan gangguan cuaca ektrim tersebut, penulis mencoba mellihat dua fenomena cuaca atau iklim yang dominant menggangu cuaca di Indonesia sepanjang Januari 2011 ini, yaitu ujung LA Nina, dan siklon tropis. Serta mengajak untuk mewaspadai Seruakan Dingin Siberia dari laut China Selatan yang bisa membuat kondisi lebih buruk daripada yang terjadi saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PROSES LA NINA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sangat banyak di bahas belakangan ini mengenai La Nina dan El Nino, yang merupakan fenomena iklim yang berkembang di Samudera Pasifik, dan membawa dampak ke wilayah-wilayah negara yang berseisian dengan Pasifik termasuk Indonesia. Pada proses La Nina, kita bisa membayangkan terjadinya pergeseran massa air Samudera Pasifik panas bergeser kea rah barat. Wilayah perairan ini bersentuhan dengan wilayah perairan Indonesia, sehingga perairan kita mengalami SST ( Sea Surface Temperature) yang mengarah pada suhu di atas kondisi normalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permukaan air lau di perairan Indonesia menmjadi lebih tinggi, demikian pula suhu yang beranomali positif menjadikan proses penguapannya ke udara menjadi berlangsung cukup deras, sehingga wilayah kita mengalami hujan sepanjang periode La Nina tersebut. Pada masa La Nina ini masih diperkirakan akan mengganggu musim kitaminimal sampai Pebruari 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk periode tahun 2010 dapat dikatakan bahwa perairan Indonesia mempunyai SST yang lebih tinggi dari normalnya, kaya dengan penguapan sebagai akibat dari adanya fenomena La Nina di samudera Pasifik. Periode La Nina ini kelihatannya walau tidak agresif namun cukup lama berlangsung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat fenomena EL Nino, peristiwa sebaliknya akan terjadi. Arus kolam air hangat di atas pasifik bergerak ketimur sepanjang khatulistiwa, sehingga SST di perairan Indonesia menjadi lebih dingin, dengan anomaly SST yang negative, sehingga miskin akan penguapan dari perairan ke atmosfir, sehingga hujan sulit dating di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua fenomena tersebut rupanya sering mengganggu musim di Indonesia, bila gangguan ini terus saja berlangsung dengan pola yang berubah dari kebiasaan –normalnya- maka bolehlah kita katakana bahwa iklim kita sudah berubah, namun kalau hanya kejadiannya kembali menuju arah normal pada tahun-tahun mendatang, maka fenomena tersebut hanya merupakan variabilitas iklim saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PROSES SIKLON TROPIS&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal Januari 2010, di belahan selatan perairan Indonesia berkembang system tekanan rendah yang dalam perkembangannya 12 Januari 2011 melahirkan siklon tropis yang kemuadian berkembang, diberinama siklon tropis vince. Memang perkembangan siklon tropis ini ada di luar wilayah Indonesia, namun kibasan ekornya sempat mengakibatkan hujan lebat dan angina kencang terjadi sepanjang selatan Jawa, Bali sampai Nusa Tenggara. Pertumbuhan siklon tropis di daerah yang bertekanan tinggi, mempunyai gradient tekanan yang tinggi dengan daerah sekitarnya menjadikan angin akan sangat deras bertiup kearah pusaran siklon tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gradien tekanan akan sangat menentukan kecepatan angina yang terjadi, sedangkan pergerakan udara yang kaya akan uap air akibat penguapan di atas perairan Indonesia yang masih tinggi sebagai dampak La Nina menjadikan pergerakan uap air menjadi terkaumulasi di atas perairan selatan Jawa – Nusa Tenggara. Di daerah yang dilaluinya akan terjadi angina kencang disertai oleh hujan lebat dengan butiran hujan  yang relative besar, sehingga jatuhnya hujan tidak vertical namun seakan jatunya dengan lintasan miring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian ini juga bertepatan dengan musim angina baratan, yang memang merupakan musim hembusan angina dari arah barat menuju ke timur, atau tepatnya dari daratan benua Asia menuju Australia, seiring dengan pergeseran pergerakan matahari yang masih berada di belahan bumi selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena La Nina dan gangguan siklon tropis ini mengakibatkan dampak ikutan gelombang tinggi, sebagai dampak dari pergeseran antara lapisan atmosfer dengan permukaan air laut. Pada masa ini kita akan jumpai banyak pantai-pantai di wilayah Indonesia yang menjadi kotor karena sampah yang dibawa oleh gemombang tinggi angina baratan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;WASPADAI SERUAKAN DINGIN SIBERIA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena cuaca yang sedang di bahas sebagai akibat gangguan siklon tropis pada periode La Nina, berakibat hujan lebat dengan angin kencang, dapat menjadi lebih berbahaya kalau disertai dengan adanya seruakan dingin ( Coldsurge) Siberia, berlangsung di Laut China Selatan. Ketiga fenomena tersebut telah terbukti pada tahun-tahun sebelumnya mengakibatkan gelombang tinggi, dan banjir yang menggenangi Jakarta dan pantura sebagai dampak ikutan curah hujan yang tinggi di daerah sekitar Laut China Selatan, pantai timur Sumatera, pantai utara Jawa sampai Bali, pantai selatan dan barat Kalimantan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses yang berlangsung sebagai penyebab kejadian tersebut adalah arus massa air dari arah timur ke barat di Samudera Pasifik, melintas Selat Makasar menuju Samudera Pasifik lewat Selat Lombok, yangs erring disebut sebagai Arlindo (Arus Lintas Indonesia sebagai bagian dari sirkulasi global air laut) akan menahan massa air yang melimpah akibat hujan deras di atas Jawa-Laut China Selatan-pantai timur Sunatera dan Kalimantan, yang juga mengalir ke selat yang sama menuju samudera Hindia, setelah didorong oleh angina baratan yang sedang terjadi, menyulitkan surutnya air di laut Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini akan memperpanjang waktu genangan di daerah pantura, termasuk Jakarta bila terjadi curah hujan yang tinggi dan berkepanjangan. Untuk itu kita perlu mewaspadai gerakan seruakan dingin Siberia pada musm baratan, kapan akan sampai di Laut China Selatan, mengingat dua proses fenomena penganggu cuaca di Indonesia telah hadir mendahului pada musim hujan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran ketiga fenomena ini, La Nina, Siklon Tropis dan Seruakan Dingin Siberia dapat mengancam cuaca di Indonesia menjadi lebih buruk lagi, serta dampak banjir di sepanjang pantai yang bersentuhan dengan Laut China Selatan dan Laut Jawa. Januari – Pebruari merupakan waktu waktu kehadirannya, apakah dia ingkar janji pada tahun ini, marilah kita tunggu bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Penulis : Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, Jakarta.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-3955785594952510806?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/3955785594952510806/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2011/01/kolaborasi-la-nina-dan-gangguan-siklon.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/3955785594952510806'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/3955785594952510806'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2011/01/kolaborasi-la-nina-dan-gangguan-siklon.html' title='KOLABORASI LA NINA DAN GANGGUAN SIKLON TROPIS PERBURUK CUACA DI INDONESIA'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_siLWsCodXxM/TGSwtXQJ_0I/AAAAAAAATEU/VtcNFwUqd9w/s72-c/untitled.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-2476549455796080127</id><published>2011-01-23T05:02:00.000-08:00</published><updated>2011-01-23T05:26:32.741-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cuaca'/><title type='text'>TIGA FAKTOR GANGGU CUACA BALI</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/12/15/1307462620X310.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/12/15/1307462620X310.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;sumber gambar : Kompas&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Hujan lebat berkepanjangan, dengan angin ngelinus seaktu-waktu mewarnai cuaca di Bali maupun daerah tatanggu Jawa Timur maupun Nusa Tenggara Barat, sehingga banyak pohon bertumbangan, banjir disana sini, sampai tanah longsor menjadi dampak ikutannya terjadi di beberapa tempat berlerang di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Gejala cuaca ektrim sudah terasakan sejak tahun 2010 lalu, dimana hampier sepanjang tahun hujan masih setia turun di Bali, termasuk disaat periode musim kemarau, seakan sepanjang 2010 di Bali tidak ada musim kemarau, sama dengan sebagian besar wilayah Indonesia lainnya, maupun belahan dunia secara umum seperti yang dilaporkan Badan Cuaca PBB, World Meteorological Organozation, belum lama ini di Jenewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan cuaca sepanjang paruh pertama Januari 2011 terasakan semakin kuat terasakan, dengan seringnya hujan lebat –shower- menyiram bali, dengan arah jatuhnya yang miring karena angina juga bertiup kencanf. Hujan seakan dating bergelombang sampai menbakutkan para peghuni gedung bertingkat maupun penumpang pesawat terbang yang baru tinggal landas maupun, maupun mau mendarat di Bandara Ngurah Rai yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Kejadian ini sebagai dampak dari kibasan ‘ekor’ siklon tropis Vince yang sedang berkembang di tepian selatan perairan Indonesia selatan Jawa-Nusa Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guna mengenal lebih lanjut beberapa pengganggu cuaca di Bali, kita melihat fenomena yang hadir secara periodik musim kita di Bali sebagai bagian wilayah tropis, benua maritime  Indonesia, yang gangguan cuacanya sering akibat El Nino La Nina, Siklon tropis, maupun seruakan dingin Siberia (Siberian Cold Surge).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PROSES LA NINA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;La Nina menjadi begitu terkenal kembali sepanjang musim 2010 yang lalu hingga awal tahun 2011, karena fenomena ini terjadi dan masih terjadi diperkirakan paling tidak sampai Maret 2011. Fenomena ini ditandai dengan pergeseran kolam air hangat di daerah khatulistuwa Samudera Pasifik, sehingga perairan di pasifik barat menjadi hangat dengan anomaly positif dibandingkan dengan rata=ratanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini akan membawa dampak agresifnya penguapan air laut di wilayah Pasifik Barat, termasuk Indonesia. Dari sisi SST – Sea Surface Temperature- terlihat sekali perairan Indonesia masih hangat sepanjang tahun 2011 hingga awal 2011 ini, sehingga atmosfir Indonesia akan kaya uap air, banyak awan dan dampaknya adalah hujan sepanjang tahun 2010 yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita memperhatikan siklus peredaran matahari, maka dia akan secara periodic ada di utara khatulis tiwa, melintas katulistiwa, belahan selatan khatulistiwa, melintas khatulistiwa kembali, ke belahan utara kahtulistiwa kemlai dan seterusnya. Siklon ini akan menyebabkan siklus arus laut global juga secara perodik mengalami perubahan. Arus laut global ini ada yang melintas Indonesia, diantaranya pada musim hujan di Indonesia adalah arus lintas Indonesia (Arlindo), yang mengalir sepanjang Pasipik sejajar khatulistiwa, membelok keselatan melalui Selat Makassar-Selat Lombok terus ke Samudera Hindia. Aliran ini akan berbalik pada alur yang sama saat matahari ada di utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada musim hujan kali ini arus ini menjadi semakin deras karena pergeseran kolam air hangat akibat La Nina kearah barat, menyebabkan arus Arlindo semakin deras, dan permukaan Laut menjadi semakin tinggi diperairan Indonesia yang dilntasi Arlindo dan menerima pengaruh La Nina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai dampaknya di pantai utara Bali, sepanjang pengaruh ini akan mengalami gelombang yang lebih tinggi, serta rob disana-sini pada saat pasang periodic akibat posisi bumi, bulan matahari, seperti saat bulan purnama atau saat tilem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SIKLON TROPIS&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan perubahan musim di Indonesia, angina monsoon juga mengalami perubahan. Enam bulan merupakan monsoon timuran ( monsoon Australia)  bersamaan dengan musm kemarau di Indonesia, dan monsoon baratan bersamaan ( monsoon Asia) dengan musim hujan di Indonesia. Pada saat monsoon baratan, di wilayah Indonesia mengalami angina baret ( dari arah barat) dengan kecepatan yang tinggi, sehingga membuat gelombang laut bergelora dan mengirim sampah ke pantai-pantai di Bali dan Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lingkup regional, musim ini akan ditandai oleh banyaknya siklon tropis lahir dari tepian selatan perairan wilayah Indonesia, terutama sepanjang selatan Jawa – Nusa Tenggara. Kehadiran Siklom tropis akan mengganggu hujan di Inbdonesia menjadi shower, yang merupakan hujan lebat dengan butiran relative besar terhadi berbarengan dengan  angina kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilayah Indonesia memang tidak akan pernah mengalami siklon tropis, walau lahir di perairan Indonesia, sebagai dampak gaya corioli, maka siklon akan berkembang ke daerah lintang tinggi, sedangkan Indonesia berada di wilayah lintang rendah –khatulistiwa-. Sebagai dampak pusarannya angina yang kaya akan uap air menuju pusat siklon di perairan selatan Indonesia serta di pulau-pulau yang bersisian akan mengalami shower dan angin kencang, masa ini dikenal dengan kawulu di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada puncak musim hujan 2011 ini, yang ditandai dengan hujan angin di Bali, sebenarnya merupakan perpaduan akibat dari angina baratan, yang diganggu oleh siklon tropis, sedangkan gelombang tinggi yang terjadi tidak saja sebagai akibat La Nina,  juga merupakan akibat angina baratan dan siklon tropis yang saling berkolaborasi mengganggu cuaca di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SERUAKAN DINGIN SIBERIA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada beberapa kasus hujan lebat yang berbuntut banjir di Jawa dan sekitarnya beberapa tahun terakhir ini, kejadiannya bersamaan dengan menguatnya seruakan dingin Siberia. Yang mendorong angina lebih kuat berhembus ke wilayah Indonesia yang bersisian dengan Laut China Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akumulasi angin baratan, seruakan dingin Siberia  semakin mendorong uap air yang kaya di atas perairan Laut China Selatan, ke arah Sumatera Timur, Jawa, Kalimantan sampai ke Bali, menyebabkan musim hujan yang ektrim di wilayah tersebut. Di daerah ini menjadi curah hujan semakin tinggi dan berkepanjangan, sedangkan dipermukaan laut menyebabkan gelombang tinggi sebagai dampak shear, pergeseran antara udara dan permukaan laut yang saling bergerak relative.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu yang mengakibatkan Laut Jawa-Laut Bali hingga Laut Flores mengalami gelombang tinggi, sepanjang musim hujan ini. Ini juga sebagai sayarat awal genangan air di daerah pantura sebagai awal banjir, di daerah muara maupun di daerah rob.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk musim hujan kali ini, fenomena seruakan dingin Siberia ini, sudah mulai terlihat. Sabtu 22 Januari 2011, dilaporkan bahwa 7 (tujuh) warga Vietnam meninggal akibat gelombang dingin ini, Bila gelombang dingin ini terus menguat sebagai bagian dari Seruakan Dingin Siberia berkembang hingga Laut China Selatan, dapat diduga bahwa dalam beberapa minggu kedepan cuaca ektrim di Indonesia barat, termasuk Bali akan masih tetap berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuaca ektrim dapat berupa hujan lebat, hujan angina, gelombang laut tinggi, yang sangat mungkin akan diikuti oleh dampak sekunder hujan tersebut seperti banjir (genangan maupun banding), tanah longsor, rob .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Seruakan Dingin Siberia ditengah masih kuatnya fenomena La Nina, serta periode angin baratan di duga akan membuat musim hujan kita diikuti oleh cuaca ektrim di wilayah Indonesia bagian Barat, termasuk daerah Bali. Perkembangan siklon tropis di perairan selatan Indonesia dapat membuat cuaca semakin runyam, dan dampaknyapun dapat mempengaruhi berbagai sector, tidak hanya akan mengganggu harga cabai karena gagal panen dan busuk tapi dapat sangat jauh mengganggu transportasi logistic, termasuk logistic PLTU yang mengkonsumsi batubara yang diangkut dengan alat transpotrtasi laut. Cuaca denga gelombang tinggi dapat menghambat penyaluran logistic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Penulis : Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi Klomatologi dan Geofisika, Jakarta.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-2476549455796080127?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/2476549455796080127/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2011/01/tiga-faktor-ganggu-cuaca-bali.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/2476549455796080127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/2476549455796080127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2011/01/tiga-faktor-ganggu-cuaca-bali.html' title='TIGA FAKTOR GANGGU CUACA BALI'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-6363637242629406898</id><published>2010-10-28T07:27:00.000-07:00</published><updated>2010-10-28T07:32:06.178-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lingkungan'/><title type='text'>PEMBUKTIAN PENDAPAT RUSIA TENTANG LAPINDO</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://i.okezone.com/content/2010/10/27/340/386866/6czn8LwKbd.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="160" src="http://i.okezone.com/content/2010/10/27/340/386866/6czn8LwKbd.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah apakah setiap peningkatan aktivitas Lapindo berkaitan dengan kegiatan tektonik atau gempa di Selatan Jawa. Apakah ada peningkatan atau penurunan aktivitas Lapindo pasca letusan Merapi. Karena aktivitas keduanya ditengarai sangat berkaitan dengan stabilitas lempeng Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;Penulis : Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-6363637242629406898?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/6363637242629406898/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/10/pembuktian-pendapat-rusia-tentang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/6363637242629406898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/6363637242629406898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/10/pembuktian-pendapat-rusia-tentang.html' title='PEMBUKTIAN PENDAPAT RUSIA TENTANG LAPINDO'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-6677510220348783209</id><published>2010-10-28T06:54:00.000-07:00</published><updated>2010-10-28T06:54:19.202-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gempa'/><title type='text'>Gempa Mentawai</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_VTAOZUFk6R8/TMbp6NWmsdI/AAAAAAAAD5s/uea66Ky8LW8/s1600/mentawai+0.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="http://3.bp.blogspot.com/_VTAOZUFk6R8/TMbp6NWmsdI/AAAAAAAAD5s/uea66Ky8LW8/s320/mentawai+0.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Gempa Mentawai yang terjadi pada tanggal 26 Oktober 2010, adalah sebagai aktivitas gempa Sumatera yang lama telah dinanti (menurut para ahli, kegempaannya telah mencapai tingkat kematangan) pasca gempa Aceh telah diprediksi.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tsunami terjadi karena kejadiannya sangat kompleks, dengan after shock yang cukup besar dan padat frekwensinya, sehingga masuk akal Tsunami terjadi pasca warning Tsunami dicabut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini CNN memberitakan 433 korban meninggal dan lebih dari 300an hilang akibat Tsunami.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://u.kaskus.us/36/zz43d1zb.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="243" src="http://u.kaskus.us/36/zz43d1zb.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Gempa Mentawai satu rumpun dengan gempa Aceh, hanya saja ada pada segmen lain, yang selama ini mengalami seismic gap. Magnitudonya relatif kecil (M = 7,2 SR) mengakibatkan banyaknya after shock dan kekuatannya relatif dekat dengan main shock.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Mentawai memang merupakan satu genre tsunamigenic, sepatutnya setiap gempa disana dicurigai berpotensi tsunami. Paleotsunami menunjukan tsunami telah berulang-ulang terjadi disana. Kali ini sebuah pembuktian baru exisitas daerah ini sebagai daerah potensi gempa yang tsunamigenic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Penulis : Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-6677510220348783209?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/6677510220348783209/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/10/gempa-mentawai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/6677510220348783209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/6677510220348783209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/10/gempa-mentawai.html' title='Gempa Mentawai'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_VTAOZUFk6R8/TMbp6NWmsdI/AAAAAAAAD5s/uea66Ky8LW8/s72-c/mentawai+0.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-5084267261960182241</id><published>2010-09-24T21:47:00.000-07:00</published><updated>2010-09-24T21:47:02.766-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lingkungan'/><title type='text'>PROSES AMBLESNYA JL MARTADINATA BERLANGSUNG SISTEMIK</title><content type='html'>Amblesnya Jalan Martadinata  di Jakarta Utara merupakan berita yang sangat menyita perhatian masyarakat Jakarta, selain arus balik pasca lebaran 1431 H. Banyak pihak yang mengaitkannya dengan perubahan iklim, maklum perubahan iklim belakangan ini sedang naik daun dan banyak ditumpangi kegiatan lain untuk dukungan menggoalkan berbagai proyek. Hampir semua sektor membuat kegiatan yang dikaitkan dengan perubahan iklim, sebagai euphoria pasca sidang COP-UNFCC dan IPCC yang diadakan di Indonesia (Nusa Dua Bali) dalam tahun- tahun terakhir.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dengan amblesnya Jalan Martadinata, yang mengalami ambles sepanjang 103 meter, sedalam 7 meteran, paling tidak pakar iklim ITB, Dr Armi Susandi dan Mantan Menteri Lingkungan Hidup, Dr A Sonny Keraf (Kompas,18/09/10) mengaitkan kejadian ini dengan perubahan iklim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bila kita perhatikan data lebih jauh bahwa amblesnya Jl Martadinata tersebut, merupakan proses yang berlangsung lama dan sistemik menimpa daerah pesisir, yang mengalami eksplorasi air tanah secara besar-besaran, intrusi air laut, genangan rob, serta beban transportasi yang sangat tinggi intensitas dan kuantitasnya. Proses tersebut akan ditinjau dalam tulisan ini, dengan mengenyampingkan dampak perubahan iklim secara langsung pada proses amblesan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;EKPLORASI AIR TANAH&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesulitan air bersih sudah tidak rahasia lagi bagi masyarakat Jakarta, terlebih untuk wilayah Jakarta Utara. Dilain pihak pembangunan dan urbanisasi di daerah ini lajunya sangat cepat, sehingga kebutuhan air bersih meningkat. Operasional perkantoran, opereasional hotel dan lain sebagainya yang merupakan tempat dengan kebutuhan air sangat besar, tidak dapat dipenuhi oleh PAM, sejak tahun tujuh puluhan. Nah satu-satunya jalan seperti diterangkan mantan Gubernur DKI Sutijoso, untuk memenuhi kebutuhan air ini adalah dengan eksplorasi air tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air tanah yang dimaksud disini adalah air tanah dengan kedalaman lebih dari 200  meter, yang cadangannya cukup besar dan tingkat keasainannya juga rendah, walau di daerah dekat pantai. Jumlah sumur dalam ini datanta pasti ada di Dinas Pertambangan DKI yang merekomendasi ijin pembuatan sumur dalam. Sumber air ini merupakan air bersih yang sangat murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuatan sumur dalam ini tanpa memperhatikan kondisi geologi setempat. Sehingga dalam proses berkurangnya massa air di dalam rongga tanah terutama dome, akan mampu mengganggu kestimbangan blok-blok disekitar dome tersebut. Bila hal ini terjadi tentu amblesannya akan tinggi mengingat massa air yang diambil sangat banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di daerah urban yang padat penduduk, kebutuhan air bersih dipenuhi dengan pompa air tanah dangkal. Walau volume yang tersedot relative kecil per pompa, namun karena kepadatan sumur bor menyebabkan massa air tanah tersedot cukup laju, dan akan semakin dalam mengikuti kemarau. Ini pasti pernah kita alami sebagai penduduk Jakarta dalam menperdalam sumur pompa setiap kemarau panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusakan yang terjadi akibat pompa air tanah dangkal dengan kerapatan tinggi, akan menyebabkan penurunan secara perlahan dalam areal yang luas. Dan proses ini diduga memacu memperluas genangan banjir di Jakarta, baik genangan waktu hujan atau waktu rob.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk data penurunan permukaan tanah di Jakarta Utara dekat kejadian, kelajuannya antara 6 – 12 centimeter pertahun, hasil pengamatan dengan GPS (Prof Hasanuddin Z Abidin,ITB).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;INTRUSI AIR LAUT&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengeksplorasian air tanah yang demikian hebat sejalan dengan meningkatnya pembangunan pencakar langit di Jakarta, memicu intrusi air laut semakin cepat di DKI, yang saat ini konon sudah sampai ke daerah Setiabudi, bukan hanya sampai kawan Monas seperi beberapa tahun terakhir diberitakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intrusi air laut ini terjadi sebagai penyusupan air laut atau air asin kedaratan sebagai reaksi atas ekplorasi air tanah secara besar besaran, mengisi kekosongan pori yang ditinggalkan air tanah, maupun rongga dome yang telah kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian Litania, dalam tugas akhirmya di Akademi Meteorologi dan Geofisika, menunjukkan bahwa  garis intrusi air laut, penurunan akibat eksplorasi air tanah secara total, teramati berkorelasi dengan daerah genangan banjir. Ia menggunakan pergeseran dari tahun-ke tahun nilai anomaly gravitasi di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian disamping mengakibatkan penurunan permukaan tanah juga menyebabkan intrusi air laut akibat pengambilan air tanah dalam maupun dangkal di wilayah Jakarta. Karena upaya pencegahan terhadap eksplorasi air tanah ini belum berjalan efektif, maka proses intrusi dan penurunan permukaan tanah di Jakarta diduga akan tetap berlangsung secara sitemik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;BEBAN MENINGKAT&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan pencakar langit di Jakarta, disamping berdampak pada kebutuhan air bersih untuk operasionalnya, beban bangunan jelas akan memberikan beban tanah dibawahnya, sehingga secara perlahan dan pasti akan menekan lapisan tanah dibawahnya dan berdampak penurunan permukaan tanah. Perhatikan penurunan Jalam Thamrin yang cukup konsisten dari tahun ke tahun sejalan dengan pertumbuhan pencakar langit di sekitarnya. Penurunan akan menjadi semakin laju bahkan tidak serba sama, bila dikaitkan dengan struktur geologi maupun pengeksplorasian air tanah yang terjadi.&lt;br /&gt;Khusus untuk kasus Jl Martadinata, beban yang membebani bahu jalan itu diduga beban muatan kendaraan yang keluar masuk pelabuhan, yang lebih sering tidak terkontrol muatannya dibandingkann dengan kemampuan dukung jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses kerusakan yang sistemik kelihatannya telah terjadi menimpa Jl Martadinata yang ambles, mulai dengan karena eksplorasi air tanah yang tak terkendali, diikuti oleh intrusi air laut (air asin), serta ditambah dengan beban muatan kendaraan yang hilir mudik di diatasnya, maupun beban-beban lain yang memacu amblesan sehingga memacu rob dan intrusi semakin dahyat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian tiga faktor yang bekerja sistemik yang menjadi penyebab amblesnya Jl Martadinata, yaitu : eksploitasi air tanah, intrusi air laut, serta beban pada bahu jalan tersebut. Guna menghambat proses sistemik ini berlangsung di tempat lain maka ketiga faktor tersebut perlu dikendalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Penulis : Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-5084267261960182241?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/5084267261960182241/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/09/proses-amblesnya-jl-martadinata.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/5084267261960182241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/5084267261960182241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/09/proses-amblesnya-jl-martadinata.html' title='PROSES AMBLESNYA JL MARTADINATA BERLANGSUNG SISTEMIK'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-6403811196641593898</id><published>2010-08-22T06:32:00.000-07:00</published><updated>2010-08-22T06:37:50.247-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gempa'/><title type='text'>GEMPA YOGYAKARTA AKIBAT GANGGUAN MARGIN LEMPENG TEKTONIK</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh : I Putu Pudja.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Gempa bumi tektonik berkekuatan 5,0 Skala Richter mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya, Sabtu (21/8/2010) pukul 18.41.38 WIB. Pusat gempa berada di darat yaitu di 15 kilometer tenggara Kabupaten Bantul dengan kedalaman 10 kilometer, atau pada posisi 8,03 lintang selatan (LS) - 110,39 bujur timur (BT). Pusat gempa di darat, tidak di dasar laut, sehingga tidak menimbulkan atau berpotensi tsunami. Penjelasan Budi Waluyo, Kepala Stasiun GeofisikaYogyakarta. Pusat gempa berada pada sesar baru sekitar 7 kilometer sebelah timur pusat gempa Yogyakarta 27 Mei 2006.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Dampak gempabumi ini berupa kerusakan ringan pada beberapa bangunan di Yogyakarta. Goncangannya dirasakan sepanjang Wonosari – Wonosobo, dengan intensitas tertinggi di daerah Bantul sampai skala V MMI.&lt;br /&gt;Lebih lanjut  ia mengatakan penunjaman lempeng samudra yaitu Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia menyebabkan sesar baru di kawasan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, itu aktif sehingga terjadi gempa pada Sabtu malam tersebut. Aktipitas sesar itu berada di kedalaman 10 kilometer di bawah lapisan batuan bumi, sedangkan di atas lapisan batuan merupakan lapisan kapur yang labil sehingga rentan guncangan. Karena itu, saat terjadi gempa dengan kekuatan cukup besar, biasanya menimbulkan kerusakan pada bangunan yang berada di atas lapisan kapur tersebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budi Waluyo mengatakan sesar baru tersebut merupakan salah satu sesar minor. Jumlah sesar minor cukup banyak dan merupakan cabang sesar besar atau sesar utama. Sesar minor ada yang membujur dari barat ke timur, maupun dari selatan ke utara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu timbul pertanyaan kenapa kok patahan purba di kawan Gunung Kidul tersebut belakangan mengaktif?. Apakah aktipitas ini terkait dengan gempa-gempa lain yang belakangan ini terjadi disekitar Jawa?. Mungkinkan aktipitasnya terkait dengan aktipitas Lapindo yang meningkat sebelum gempa terjadi?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;DATA GEMPA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sebelum gempabumi Yogyakarta, bila kita perhatikan gempa-gempa yang terjadi di sekitar Jawa adalah sebagai berikut : (1)  Gempabumi yang dirasakan Karangkates 17 Agustus 2010, dengan intensitas III MMI, terjadi pada posisi 89 km barat daya Malang; (2) Gempabumi yang dirasakan di Pangandaran, 14 Agustus 2010 dengan pusat pada posisi pada 39 km barat laut Bandung; (3) Gempabumi yang dirasakan di Pangandaran, Cianjur, Bogor sampai Jakarta antara II – III Skala MMI dengan pusat 125 km arah barat daya Sukabumi terjadi 12 Agustus 2010; (4) Gempabumi 10 Agustus 2010, yang dirasakan di Pangandaran dan Tasikmalaya II – III MMI,  posisi pusat gempa 83 km arah barat daya Tasikmalaya; (5) Gempabumi yang dirasakan di Denpasar, II MMI, dengan pusat pada posisi 87 km timur laut Bangkalan. Data lengkat gempa tersebut tersaji dalam tabel berikut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&amp;nbsp;Gempabumi Dirasakan di Jawa dan Sekitarnya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/THEnLG0XmtI/AAAAAAAAABw/7Gvdu9yXHCY/s1600/gempa.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/THEnLG0XmtI/AAAAAAAAABw/7Gvdu9yXHCY/s640/gempa.JPG" width="460" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Pola aktipitas gempa kelihatan tetap seperti yang terjadi pada saat rangkaian gempa Pangandaran, Yogyakarta dan Gempa Sotubondo pada saat gempa Yogyakarta 27 Mei 2006. Pola tekanan tektonik diduga masih mengarah ke arah timur laut, sehingga Pulau Jaya sebagai margein lempeng tektonik Eurasia mengalami tekanan yang terus-menerus pada arah tersebut.&lt;br /&gt;Energi gempa yang dilepas sekitar daerah selatan Pangandaran – Ujung kulon,  dan daerah sekitar selatan Yogyakarta – Malang, serta Laut Jawa timur laut Jawa merupakan manifestasi pelepasan energi, akibat gangguan gaya tersebut. Rupanya patahan minor yang banyak terjadi menyertai sesar di Jawa, akibat tekanan gaya tersebut terpicu aktipitasnya. Picuan terhadap patahan minor di Panggang Gunung Kidul, sebagai lokasi pusat gempa Sabtu lalu bida juga sebagai mengaktif akibat gempa Yogyakarta , 2006 dan mencapai kematangan energi. Ketika ada gangguan akibat pelepasan energi gempa sekitar Jawa menjadikannya mengaktip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;APAKAH TERKAIT LAPINDO?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bila kita memperhatikan sejarah mulai aktipnya semburan Lumpur Sidoarjo (Lapindo), yang aktipitasnya terjadi segera setelah gempa Yogyakarta 27 Mei 2006, maka sistem tekanan gaya tektonik yang menunjam di bawah Jawa, sangat mungkin ikut mempunayai andil dalam aktipitas lumpur tersebut.&lt;br /&gt;Terlebih bila kita melihat adanya aktipitas yang meningkat dengan munculnya semburan baru, serta amblesnya beberapa lokasi lapondo diduga ada kaitan antara aktipitas gaya tektonik yang bekerja di margin lempeng tektonik Eurasia, atau Pulau Jawa yang mengalami peningkatan aktipitas kegempaan belekangan ini.&lt;br /&gt;Untuk lebih jelas dan pasti kaitan antara keduanya perlu dikumpulkan data-data tentang aktipitas Lapindo dengan aktipitas kegempaan sekitar Jawa, sepanjang 2006 – 2010 , sehingga korelasi antara keduanya dapat diketahui apakan signifikan, atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Penulis : Kepala Pusat Penelitan dan Pengembangan BMKG Jakarta.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-6403811196641593898?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/6403811196641593898/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/08/gempa-yogyakarta-akibat-gangguan-margin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/6403811196641593898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/6403811196641593898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/08/gempa-yogyakarta-akibat-gangguan-margin.html' title='GEMPA YOGYAKARTA AKIBAT GANGGUAN MARGIN LEMPENG TEKTONIK'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/THEnLG0XmtI/AAAAAAAAABw/7Gvdu9yXHCY/s72-c/gempa.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-508764516482833212</id><published>2010-07-31T21:17:00.001-07:00</published><updated>2010-08-01T16:39:46.184-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cuaca'/><title type='text'>AKANKAH BANJIR DATANG LEBIH AWAL DI JAWA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.swaberita.com/wp-content/uploads/2008/11/banjir.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="215" src="http://www.swaberita.com/wp-content/uploads/2008/11/banjir.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Oleh : I Putu Pudja.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Berita banjir kerap terdengar belakangan ini, padahal menurut hitungan musim sebagian besar wilayah Indonesia seharusnya masih di puncak, minimal baru melewati puncak musim kemarau. Namun hujan masih sangat kerap menimpa wilayah yang semestinya mengalami musim kemarau ini. Jakarta, ataupun Jawa secara umum&amp;lt; Bali, Nusa Tenggara selama Juni-Juli 2010 ini masih sering diterpa hujan lebat bahkan mendatangkan banjir, seperti yang menimpa Denpasar, daerah wisata Kuta.Bencana ini menjadikan kuta dan sebagian Denpasar, dalam musim liburan sekolah ini mengalami masa habis kemacetan total datanglah banjir.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari wilayah lain di negara kita dilaporkan banjir menimpa : (1) Samosir,  akhir April 2010 lalu. Dari lokasi banjir dilaporkan bahwa banjir di Desa Sabulan dan Buntu Mauli, Sitio-tio, Sumatra Utara,  bergotong royong menyingkirkan batu dan lumpur dengan peralatan seadanya. Mereka mencari empat warga yang tersapu banjir dan longsor hingga 1 Mei 2010; (2)  Banjir di Luwu – Sulawesi . banjir datang setelah hujan deras turun,mengguyur sebagian wilayah Kabupaten Luwu, Senin (19/7) dini hari, sebanyak lima desa di Kecamatan Larompong terendam banjir dengan ketinggian air mencapai lutut orang dewasa. Walau tidak menelan korban jiwa, namun akibat banjir dan tanah longsor, akses jalan yang menghubungkan beberapa desa di Kecamatan Larompong, Kabupaten Luwu terputus (3) Banjir  Tanah Bumbu Kalimantan Selatan. Banjir yang terjadi di Kalimantan Selatan ini merenggut 2 orang korban jiwa. Banjir di alimantan Selatan ini menggenangi daerah yang cukup luas.&lt;br /&gt;Dari manca negara kita ikuti beritanya, banjir wilayah China dan Pakistan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;li&gt;Banjir di China akibat Curah hujan yang tinggi sejak 8 Juli berdampak pada 18,3 juta orang di kawasan sepanjang Sungai Yangtze menewaskan 43 orang. Jumlah korban tewas yang dikeluarkan Dinas Penanggulangan Banjir itu termasuk di antaranya korban akibat sambaran petir. Banjir juga mengakibatkan rusaknya  39.000 rumah, 755.000 orang dievakuasi, merusak 974.000 hektare sawah siap panen. Kerugian harta benda ditaksir mencapai 10,6 miliar yen (US$1,57 miliar). Curah hujan penyebab banjir ini dilaporkan sebagai curah hujan tertinggi sejak 1953 di daerah tersebut. Akibat banjir ini sebanyak 55 orang touris Korea Selatan, baru dapat diselamatkan (evakuasi) 31 Juli 2010. Para turis itu selamat tanpa cedera setelah terjebak banjir di kota Muqi, Kabupaten Otonomi Xinbin Manchu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Banjir di Pakistan Barat, yang merupakan banjir terparah dalam dekade terakhir ini. Banjir diakibatkan oleh hujan deras. Hujan deras yang terus mengguyur kawasan Pakistan barat laut telah menimbulkan banjir terparah dalam beberapa dekade terakhir. Hingga saat ini, lebih dari 400 orang yang tewas akibat bencana alam ini. Menurut laporan awal (31/7/2010) yang diterima dari semua distrik, dilaporkan 408 orang sejauh&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ini tewan. Banjir ini juga telah memaksa ribuan orang untuk mengungsi. Sungai-sungai meluap akibat tingginya curah hujan yang turun. &lt;br /&gt;Derasnya air yang timbul menghancurkan berbagai infrastruktur yang ada. Mulai dari rumah-rumah, jembatan, sekolah hingga rel kereta api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu fenomena yang ditengarai sebagai tanda adanya perubahan iklim adalah pergeseran musim, melebar atau menyempitnya unterval musim, meningkat atau menurunnya curah hujan untuk periode yang sama. Kalau dikaitkan dengan peristiuwa banjir yang terjadi di dalam negeri maupun di manca negara, maka ada hal yang menarik dari hampir semua penyebab banjir itu, yaitu curah hujan yang merupakan curah hujan yang tinggi, bahkan merupakan curah hujan tertinggi seperti curah hujan tertinggi untuk banjir China dan Pakistan, dan curah hujan tinggi di hitungan musim kemarau untuk banjir di Samosir, Tanah Bumbu maupun di Luwu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena tersebut kalau kita boleh mengaitkannya satu dengan lainnya, maka telah terjadi perubahan iklim menimpa wilayah Indonesia di tingkat lokal, dan Asia di tingkat regional. Fenomena ini perlu di waspadai mengingat banjir yang menyimpang belakangan ini sangat mungkin juga dapat melanda wilayah kita. Fenomenanya dapat berupa banjir akibat curah hujan yang tinggi, saat musim hujan, maupun akibat curah hujan yang terjadi di musim kemarau seperti saat ini, terutama yang menimpa wilayah Kuta, Denpasar, minggu terakhir Juli 2010. contoh lain di lingkup Asia adalah banjir yang melanda  Singapura beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Curah hujan di China akan membuat massa air Laut China Selatan semakin membludak dan pasangpun akan semakin meninggi mengingat sifat pasang diurnal Laut China Selatan yang sangat khas. Peristiwa ini akan memperparah banjir yang terjadi di wilayah Kalimantan Selatan, dan memicu banjir di Pantura Jawa bila di daerah ini turun hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih tingginya Suhu Muka Laut di perairan Indonesia, mengakibatkan masih tingginya curah hujan di sebagian besar wilayah kita akibat tingginya penguapan yang terjadi di Indonesia, terutama di wilayah barat. Dengan fenomena tingginya curah hujan di China dan di Asia Selatan (Pakistan dan sekitarnya) menjadikan kita perlu waspada dengan kejadian yang sama dapat melanda wilayah kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ada seruakan dingin berkembang melesat ke selatan dari Siberia melintasi Laut China Selatan, sangat mungkin akan meningkatkan curah hujan sepanjang wilayah ini, seperti Vietnam, Laut China Selatan hingga wilayah barat Indonesia Kalimantan, Laut China Selatan, Sumatera , Laut Jawa dan Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila fenomena itu akan saling bersinergi dengan kondisi suhu permukaan laut yang belum kembali normal, dapat diduga wilayah-wilayah langganan banjir di pantura Jawa dan pantai timur Sumatera akan mengalaminya tidak tertutup peluangnya sepanjang sisa kemarau sampai musim hujan 2010-2011 mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan itu semua masihkan kita perlu bertanya apakah perubahan iklim (climate change) sudah melanda wilayah kita. Bila ya jawabannnya maka langkah langkah mitigasi dan antisipasi. MAPI dengan segala rencana aksi yang telah disusun secara nasional maupun sektoral oleh berbagai kementrian sudah saatnya dialksanakan dengan sistematis, terarah dan saling bersinergi antara satu kementerian dengan kementerian lainnya, antara satu daerah dengan daerah lainnya dengan koordinasi pemerintah pusat. Banjir dalam negeri dan manca negara belakangan ini, merupakan lonceng yang membangunkan kita terutama DNPI sebagai Dewan Nasional Perubahan Iklim untuk mulai beraksi melaksanakan  rencana aksi yang telah di buat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah daerah yang wilayahnya merupakan langganan banjir baik banjir akibat curah hujan tinggi, banjir genangan, maupun banjir rob sepanjang daerah yang bersentuhan dengan Laut China Selatan, Laut Jawa seperti pantai timur Sumatera, pantai utara Jawa sampai pantai barat Sulawesi dan pantai utara Kepulauan Nusa Tenggara perlu mempersiapkan diri menghadapi fenomena perubahan iklim, curag\h hujan tinggi berupa banjir .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oersiapan tidak hanya perlu dilakukan pada saat musim hujan, namun pada saat sisa musim kemarau ini dengan penyimpangan musim yang terjadi saat inipun sangat perlu dilakukan secara  terkoordinasi terencana. Lebih baik sedia payung sebelum hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Kepala Pusat Litbang BMKG, Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-508764516482833212?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/508764516482833212/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/07/akankah-banjir-datang-lebih-awal-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/508764516482833212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/508764516482833212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/07/akankah-banjir-datang-lebih-awal-di.html' title='AKANKAH BANJIR DATANG LEBIH AWAL DI JAWA'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-4569776404278261296</id><published>2010-07-25T00:45:00.000-07:00</published><updated>2010-07-25T00:47:57.429-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gempa'/><title type='text'>GEMPA MANDAILING NATAL DAN  TITIK LEMAH SESAR SUMATERA</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.bakosurtanal.go.id/bakosurtanal/assets/News/solok/gbr-03.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://www.bakosurtanal.go.id/bakosurtanal/assets/News/solok/gbr-03.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Banyak daerah yang diguncang gempa selama bulan Juli 2010 ini menandakan bahwa wilayah Indonesia berada pada daerah yang sangat aktif dalam masalah kegempaan. Dapat kita catat diantaranya daerah yang merasakan goncangan gempa selama Juli 2010 adalah : Serui, Manokwari, Biak di papua; Daerah Raba – Bima Sumbawa, NTT;  daerah Periangan Selatan Jawa Barat; Bintuni, Nias, Kepahiyang, Padang Panjang, Muara Sipongi , Sumatera, dan Halmahera dan Ternate Maluku Utara.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum daerah tersebut memang merupakan daerah yang sering diguncang gempabumi. Yang paling menarik diantara gempa-gempoa tersebut adalah : Gempa Penyabungan, Mandailing Natal Sumatera Utara, yang terjadi Sabtu, 24 Juli 2010 pk. 09 11 24 WIB, dengan kekuatan 6,0 Skala Richter (SR) dengan pusat gempa di darat pada titik 1,02 derajat Lintang Utara -  99,5 derajat Bujur Timur, sekitar 18 km arah barat laut Penyabungan, Mandailing Natal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gempa ini menjadi sangat menarik bukan hanya karena menimbulkan kepanikan mengingat kejadiannya pada jam sekolah, tetapi juga karena pusat gempanya di daratan, dengan luas daerah goncangan yang sangat luas, meliputi : Penyabungan IV – V Skala MMI, Sibolga III – IV Skala MMI, Lubuk Sikaping III Skala MMI,Padang Sidempuan, IV Skala MMI, Riau III Skala MMI, Painan I – II Skala MMI, dan Mandailing Natal V Skala MMI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gempa ini mengingatkan kita dengan gempa di daerah yang sama yang terjadi 18 Desember 2006, dengan kerusakan yang cukup parah dan kesulitan mendistribusikan bantuan logistik ke daerah bencana merngingat saat itu sudah musim hujan, dan bencana diperparah oleh banyaknya longsor yang menimbun jalan raya sehingga menyulitkan transportasi darat. Bila dilihat dari kekauatnnya gempa saat itu hanya berkekuatan 5,6 Skala Richter. Namun kerusakan cukup parah dengan korban sedikitnya 4 orang meninggal dunia. Kedua gempabumi yang terjadi sama-sama mengakibatkan kerusakan bangunan setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kedua gempa ini dapat dikatakan sebagai aktipitas dari zona yang sama, sama-sama sebagai aktipitas sesar Sumatera, yang dikenal mempunyai beberepa segmen aktip. Belakangan menimbulkan kerusakan lainnya adalah Gempa Batusangkar, yang sangat banyak menelan korban. Diikuti dengan  Jambi yang menimbulkan kerusakan secara lokal disekitar segmen yang mengaktif, dimana pusat gempa itu berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk daerah Sumatera saja sepanjang Juli 2010 ini dapat kita catat beberapa gempa yang dirasakan tersebut diantaranya adalah :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;li&gt;1. Tanggal 24 Juli 2010 adalah Gempa Siberut Mentawai, dirasakan sampai III Skala MMI di Padang Panjang dan Pekanbaru.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;2. Tanggal 24 Juli 2010 adalah Gempa Penyabungan, dirasakan sampai III Skala MMI di Panjang dan Padang Panjang. Ini sebagai gempa susulan Gempa Mandailing Natal.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;3. Tanggal 14 Juli 2010 adalah Gempa Gunung Sitoli, yang dirasakan hingga II – III Skala MMI di Gunung Sitoli.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;4. Tanggal 13 Juli 2010 (dua kali )adalah Gempa Gunung Sitoli, yang dirasakan hingga III – IV Skala MMI di Gunung Sitoli.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;5. Tanggal 8 Juli 2010 adalah Gempa Kepahiyang Bengkului, yang dirasakan hingga II MMI di Kepahiyang.&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Gempa gempa ini menunjukkan bahwa Sumatera secara keseluruhan sangat sering di guncang gempabumi, dan stabilitas tektonik pasca gempa Aceh rupanya belum tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;TITIK LEMAH SESAR SUMETERA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti telah diketahui bersama bahwa Sumatera mendapat ancaman bencana gempa yang berpusat pada, (1) Zona Subdaksi, berada didasar laut memanjang sejajar pulau Sumatera di pantai barat, sebagai pertemuan antara lempeng Indo-Auatralia dan lempeng Eurasia, dengan gaya dorong yang berarah Utara-Timur Laut, dengan dampak di daratan Sumatera membentuk sesar Sumatera yang memberlah Pulau Sumatera dari Teluk Semangko sampai Teluk Andaman.(2) sesar Sumatera itu sendiri yang memiliki beberpa titik lemah, daiantaranya dimana gempa Mandailing Natal itu berpusat, serta titik dimana pusat gempabumi Batusangkar berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berulangnya gempa mandailing Natal dengan periode ulang yang relatif singkat ( sekitar 3,5 tahun saja) , dapat dianggap sebagai berita baru, yang membawa berita bahwa :penumpukan energi gempa di sepanjang sesar Sumatera sangat cepat; dan sangat mungkin demikian pula yang terjadi pada titik-titik lemah lainnya, sehingga sangat mungkin segemn-segmen lainnya saat ini aktif, tinggal menunggu kapan energi tiu dilepas sebagai gempabumi. Dan yang oaling menarik lagi adalah pusatnya di darat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena aktip sesar Sumatera tidak dapat dipisahkan dengan aktifitas pada Zona Subdaksi, maka ’generator gempa’ disana sedanga bekerja. Ini diperlihatkan oleh masih banyaknya gempa-gempa dengan kekuatan diata 5,0 SR, terjadi di perairan barat Sumatera sepanjang Zone Subdaksi tersebut, dari sebelah Barat Lampung sampai Andaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusakan yang kembali terjadi saat gempa 24 Juli 2010, membawa peringatan kepada kita bahwa untuk daerah Mandailing Natal –demikian pula untuk daerah Sumatera sepanjang segmen aktip sesar Sumatera-  dalam membangun pemukiman dan terutama untuk bangunan publik, seperti bangunan sekolah, pasar, mall, bangunan kantor dll sudah waktunya memberlakukan persyaratan bangunan tahan gempa. Dan yang perlu diingat bahwa bangunan tahan gempa tidak berarti harus menjadikan bangunannya lebih mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan dengan kerangka kayu dengan siku dan enggsel pada sambungan secara historis merupakan bangunan tradisional tahan gempa, sebagai kearifan lokal perlu dipertimbangkan kembali keberadaannya sebagai bangunan tahan gempa. Kalau memang mau modern bangunan beton bertingkat juga tidak masalah asalkan dibangun dengan memperhitungkan kekuatan gempa maksimum yang mungkin terjadi di daerah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran pemerintah daerah dalam mensosialisasikan bangunan tahan gempa ini sangat diperlukan. Demikian pula sosialisasi tentang strategi aman di daerah gempa, cara penyelamatan diri, maupun penanganan bencana sampai pasca bencana perlu dimiliki aparat pemerintah setempat. Untuk Sumatera rupanya tugas ojo tidak hanya merupakan tugas pemerintah Mandailing Natal saja, akan tetapi hampir semua Propinsi kecuali Kepri, memiliki segmen aktif ini sehingga ada baiknya program ini merupakan program rutin pemerintah daerah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih bila kita ingat bahwa kerusakan dan korban bencana akan sangat besar bila masyarakat di daerah tersebut melkupakan daerahnya sebagai daerah bencana. Ingat gempa Yogyakarta, karena masyarakat melupakan daerahnya sebagai daerah bencana sedang bangunan di buat tidak tahan terhadap goncangan gempa, menyebabkan pada saat gempa Yogya yang lalu sangat banyak korban dan kerugian yang diakibatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;ALTERNATIF TRANSPORTASI LOGISTIK&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari data gempa serta posisi Mandailing Natal, terlihat bahwa gempa di daerah tersebut mempnyai peluang perulangannya relatif singkat. Sehingga sangat mungkin di waktu-waktu mendatang gempa akan sering terjadi di daerah ini. Mengingat semua akses ke Mandailing Natal melalui bukit-bukit ( Bukit Barisan) yang sangat rawan longsor saat terjadi gempa, terlebih bila gempa terjadi musim hujan sangat berpotensi sebagai penghambat penyampaian logistik pasca bencana alam khsusunya gempabumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyikapi hal ini pemerintah terutama pemerintah daerah sudah saatnya memikirkan akses ’emergency’ untuk penyampaian logistik saat penanganan bencana. Misalnya ide pemerintah untuk membanguin bandara yang minimal bisa didarati pesawat Hercules ada pada setiap daerah yang rawan bencana, atau dekat dengan daerah bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Multi guna dari bangunan ini pada keadaan normal tidak ada bencana, juga dapat digunakan memperlancar perekonomian dan arus barang dari/ke daerah tersebut di era transportasi udara saat ini. Sehingga manfaat pembangunan bandara ini tidak melulu untuk keperluan bencana saja. Dan akan sangat baik lagi apabila pembangunannya bisa dimanfaatkan beberpa kabupaten agar perekonomian wilayah dapat saling bersinergi. Dari bencana gempabumi Mandailing Natal bisa kita petik beberapa peringatan dan beberapa pelajaran agar kita dapat hidup nyaman dan akrab dengan bencana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Penulis : Kepala Pusat Litbang BMKG, Jakarta.&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-4569776404278261296?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/4569776404278261296/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/07/gempa-mandailing-natal-dan-titik-lemah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/4569776404278261296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/4569776404278261296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/07/gempa-mandailing-natal-dan-titik-lemah.html' title='GEMPA MANDAILING NATAL DAN  TITIK LEMAH SESAR SUMATERA'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-4779935024114972360</id><published>2010-07-24T21:26:00.000-07:00</published><updated>2010-07-24T21:28:21.161-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cuaca'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iptek'/><title type='text'>Hujan buatan dan dampaknya terhadap pertanian</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://bebasbanjir2025.files.wordpress.com/2008/10/hal11.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="215" src="http://bebasbanjir2025.files.wordpress.com/2008/10/hal11.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Dampak kemarau tahun ini sudah banyak kita rasakan, seperti kekeringan areal pertanian, kebakaran hutan dan di perkotaan, turunnya kabut dingin di beberapa perkebunan Jabar dan Jateng, serta menurunnya permukaan air waduk yang merupakan pemasok utama kelistrikan di Jawa.&lt;br /&gt;Di lain pihak dengan turunnya hujan secara sporadis di beberapa tempat di tengah-tengah kemarau, rupanya kembali mengundang debat pro dan kontra para pakar meteorologi tentang musim kemarau tahun ini, apakah memang dampak El Nino Osilasi Selatan (ENSO = El Nino Southern Oscillation) atau kemarau biasa yang biasa datang setiap tahun.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas kemarau tahun kekeringan sangat dipengaruhi oleh tersedotnya uap air di atas perairan Indonesia ke daerah Asia Selatan dan Cina, yang sejak April lalu sampai bulan ini mengalami siklon dan kebanjiran karena curah hujan setempat jauh di atas normal untuk bulan-bulan itu.&lt;br /&gt;Terlepas dari itu BPPT yang sejak beberapa tahun terakhir terus mengembangkan teknologi hujan buatan di Indonesia, sudah mulai dengan studi awal hujan buatan ini dalam usaha memasok air dengan hujan buatan untuk daerah Bandung dan DAS Citarum guna meningkatkan volume air atau permukaan air dari tiga waduk di Citarum yaitu : Saguling, Cirata dan Jatiluhur yang airnya sudah kritis.&lt;br /&gt;Istilah hujan buatan itu sendiri sesungguhnya kurang tepat. Kegiatan ini sebenarnya hanyalah merupakan usaha perangsangan awan untuk menjadi titik-titik air yang memenuhi syarat untuk jatuh ke bumi sebagai hujan. Karenanya yang menjadi pokok pada hujan buatan ini adalah sudah adanya awan di tempat di mana hujan buatan akan dibuat.&lt;br /&gt;Pada musim kemarau yang kering dan panas seperti ini, seringkali awan tidak dapat mendatangkan hujan karena tidak terpenuhinya syarat fisis bagi awan untuk menjadi hujan. Seperti bantat-nya awan yang tidak dapat menjadi titik air karena setiap pengembunan akan menguap dan buyar kembali. Atau titik air yang terbentuk tidak memenuhi syarat turun secara gravitasional sebagai hujan ke bumi.&lt;br /&gt;Dalam mengatasi hal ini maka sangat dibutuhkan rangsangan terhadap awan untuk menjadi hujan (buatan) sehingga proses dari awan, pengembunan, difusi, dari titik air dan hujan dapat terjadi.&lt;br /&gt;Proses perangsangan awan inilah merupakan inti kegiatan pada pembuatan hujan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Syarat meteorologis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan perangsangan awan tidak semudah seperti disebutkan di atas, karena di samping harus adanya awan pada proses hujan buatan maka lingkungan awan itu pun harus memenuhi persyaratan meteorologis yang memungkinkan proses fisis pada awan dapat terjadi. Sehingga kondisi ini mengharuskan adanya rangkaian kegiatan yang mendahului pembuatan hujan ini seperti yang sedang disiapkan BPPT, yaitu studi awal terhadap parameter atmosfer setempat saat ini.&lt;br /&gt;Persyaratan meteorologis untuk dapat dilakukannya kegiatan hujan buatan itu antara lain : adanya udara yang mengandung uap air yang cukup, adanya profil lapisan udara yang labil, adanya lapisan kecepatan angin pada daerah objek hujan buatan itu. Karena kondisi-kondisi ini yang dapat memungkinkan terbentuknya awan dan membantu proses penaburan garam untuk inti kondensasi.&lt;br /&gt;Kandungan uap air di udara, sering dinyatakan dengan angka kelembaban nisbi udara. Semakin tinggi kelembaban nisbi (RH = Relative Humidity) ini maka semakin tinggi kandungan uap airnya.&lt;br /&gt;Secara teoritis uap air akan mulai mengembun pada RH = 100 persen. RH ini merupakan angka rasio antara tekanan uap air di udara dengan tekanan uap air maksimum yang dapat terjadi pada udara tersebut pada suhu yang sama.&lt;br /&gt;Tidak jarang pada kondisi kemarau seperti ini uap air atau awan akan berkondensasi atau mengembun pada RH di atas 100 persen.&lt;br /&gt;Menurut hasil penelitian Wilson pada air murni tanpa adanya inti kondensasi uap air umumnya mengembun pada RH antara 300-400 persen. Sehingga dikatakan inti kondensasi sangat berperan dalam proses pengembunan.&lt;br /&gt;Di udara yang menjadi inti kondensasi utama adalah garam-garaman yang bersifat higroskopik, produk dari hasil pembakaran, terutama garam dapur (NaCl).&lt;br /&gt;Di udara kadar garam dapur ini kurang lebih 10 gram per meter kubik udara. Setelah pengembunan dilanjutkan dengan proses difusi dari titik-titik air untuk membentuk butiran yang lebih besar, namun di musim kemarau seperti ini prosesnya berlangsung lambat sekali.&lt;br /&gt;Butiran yang terbentuk jejarinya juga sangat ditentukan oleh kelembaban udara saat itu.&lt;br /&gt;Dalam mengatasi ketidaknormalan yang ada pada proses fisis awan menjadi hujan ini, maka dilakukanlah penaburan berbagai garam kimia ke udara dalam proses hujan buatan ini, yang semuanya bertujuan untuk merangsang awan untuk mengembun, membentuk butiran air yang memenuhi syarat untuk jatuh sebagai hujan (buatan) ke daerah yang menjadi objek penyiraman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jenis dan fungsi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jenis garam yang biasa ditabur dengan fungsinya masing-masing antara lain : garam dapur, Calsium dichloride, Urea, Carbondioksida padat dan aerosol.&lt;br /&gt;Garam dapur yang ditaburkan ke awan berbentuk bubuk tepung, berfungsi sebagai alat yang memadatkan awan bersifat higroskopik dan sebagai inti kondensasi.&lt;br /&gt;Calsium dichloride yang ditabur juga berbentuk tepung sebagai pengumpul awan. Sifat garam ini higroskopik, endodermik dalam lingkungan air.&lt;br /&gt;Urea dalam bentuk larutan akan berfungsi sebagai pendingin awan serta menjatuhkannya dan bersifat menghisap panas dari lingkungannya.&lt;br /&gt;Carbon dioksida (CO2) padat atau sering disebut es kering, ditaburkan dengan fungsi sebagai penahan suhu garam agar tetap konstan, di samping juga sebagai pendingin awan. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah aerosol yang berfungsi sebagai pencegah penggumpalan awan.&lt;br /&gt;Semua garam-garam itu, ditaburkan dalam komposisi yang tepat dan serasi, karena kesalahan dalam komposisi akan berakibat fatal.&lt;br /&gt;Sebagai contoh, kesalahan pada komposisi es kering yang kebanyakan, justru akan membuyarkan awan yang sudah ada.&lt;br /&gt;Namun di balik keberhasilan BPPT dalam menerapkan teknologi hujan buatan di Indonesia yang masih agraris ini (ingat selain sebagai PLTA, waduk di Indonesia juga sebagai pemasok utama air pertanian), sudah pasti komposisi air hujan (buatan) yang turun akan mengandung garam-garam tersebut di atas.&lt;br /&gt;Sehingga sejalan dengan penerapan teknologi hujan buatan sudah sepantasnyalah bila dilakukan juga penelitian dampak garam tersebut terhadap tanaman pertanian yang akan memanfaatkan airnya. Sehingga di samping menyelamatkan keadaan kritis air waduk untuk PLTA, air hujan buatan ini juga tidak berdampak negatif terhadap petani.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dimuat di harian Bisnis Indonesia, edisi Minggu tanggal 11 Agustus 1991.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-4779935024114972360?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/4779935024114972360/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/07/hujan-buatan-dan-dampaknya-terhadap.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/4779935024114972360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/4779935024114972360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/07/hujan-buatan-dan-dampaknya-terhadap.html' title='Hujan buatan dan dampaknya terhadap pertanian'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-7680230099156310438</id><published>2010-07-23T19:35:00.000-07:00</published><updated>2010-07-23T19:41:17.370-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gempa'/><title type='text'>NTT sarat dengan pertumbuhan tektonik dan gunung api</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://matanews.com/wp-content/uploads/peta-NTT.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="202" src="http://matanews.com/wp-content/uploads/peta-NTT.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Sedikitnya 24 orang meninggal dan korban materi senilai jutaan rupiah di derita masyarakat Alor dan sekitarnya ketika gempa bumi kuat 6,7 skala Richter mengguncang Pulau Kecil tersebut, 4 Juli 1991.&lt;br /&gt;Kerusakan yang berkepanjangan terjadi akibat guncangan gempanya masih terasakan hingga akhir Juli sehingga memberikan gambaran betapa betapa labilnya daerah itu.&lt;br /&gt;Secara teoritis rangkaian gempa bumi yang terjadi di suatu tempat guncangannya dibedakan menjadi gempa pendahuluan (fore shock), gempa utama (main shock), dan gempa susulan (after shock). Namun setiap daerah tidak sama kejadiannya. Ada gempa tanpa pendahuluan dan ada pula yang tanpa gempa utama di samping ada yang lengkap memilikinya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tiga tipe gempa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Keadaan itu oleh K. Mogi (1963) diselidiki dengan meneliti batuan, sampel dari bumi di laboratorium dengan memberi stimulasi gempa buatan. Sungguh fantastik yang didapat ahli fisika batuan berkebangsaan Jepang ini. Ia mendapatkan sesuai dengan kejadian yang sebenarnya.&lt;br /&gt;Akibat patahan yang terjadi pada batuan yang merupakan biang dari gempa bumi bukanlah patahan tunggal, melainkan patahan yang disertai oleh patahan-patahan kecil sebagai crack akibat stres, maka gempa yang terjadi bukanlah gempa tunggal melainkan rangkaian gempa dengan gempa yang terkuat patahan utama (patahan induk).&lt;br /&gt;Dari banyaknya kejadian yang diamati  maka secara umum kemudian dibedakannya gempa-gempa yang terjadi menjadi 3 (tiga) jenis yaitu :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;li&gt;Tipe gempa pertama : merupakan rangkaian gempa yang kejadiannya memiliki gempa utama yang hadir secara tiba-tiba (tanpa gempa pendahuluan) kemudian disertai oleh gempa susulan dalam ukuran waktu yang cukup lama.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tipe gempa kedua : merupakan rangkaian gempa bumi yang paling lengkap, memiliki gempa pendahuluan, gempa utama dan diikuti oleh gempa susulan, yang cukup banyak pada kurun waktu relatif lama.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tipe gempa ketiga : sering disebut swarm merupakan rangkaian gempa bumi, yang tidak memiliki gempa utama. Jumlah dan besarnya bervariasi dengan terus melurah berhenti sejalan dengan menurunnya frekuensi gempa yang terjadi. Jenis ini biasanya menyertai keaktifan pasca vulkanik.&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tipe gempa yang terjadi tersebut kemudian diselidiki. Ternyata mempunyai korelasi dengan jenis batuan setempat.&lt;br /&gt;Tipe gempa pertama berkaitan dengan medium yang homogen serta di bawah pengaruh  tegangan yang homogen pula.&lt;br /&gt;Tipe gempa kedua, berkaitan dengan jenis medium batuan tidak homogen dengan distribusi ruang tegangan yang tidak sama.&lt;br /&gt;Tipe gempa ketiga dikaitkan dengan medium yang sangat tidak homgen (heterogen) tetapi tegangan yang dideritanya terkonsentrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tipe gempa NTT&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sejak 1980 teori Mogi ini diterapkan sebagai acuan studi kegempaan di Indonesia, khususnya untuk gempa-gempa besar yang merusak, termasuk gempa-gempa NTT.&lt;br /&gt;Rasyidi Sulaiman (1985) seorang pakar statistik seismologi di BMG, pada studi gempa Sumbawa, dan Putu Pudja (1988) pada studi gempa Pantar 27 November 1987 (tetangga Pulau Alor) di NTT, menemukan bahwa gempa-gempa di sana merupakan merupakan gempa yang termasuk gempa tipe kedua, dengan waktu luruh atau gempa susulan yang sangat panjang.&lt;br /&gt;Untuk gempa Sumbawa, 19 Agustus 1977 bahkan gempa susulannya masih terjadi pada kurun waktu tahunan.&lt;br /&gt;Demikian pula halnya dengan gempa Alor 4 Juli 1991 lalu, tidak lain adalah tipe kedua tersebut.&lt;br /&gt;Gatot Subijanto dari Stasiun Geofisika Kupang yang memantau terus gempa susulan gempa Alor, melaporkan bahwa pada minggu kedua setelah kejadian gempa, susulannya masih terasa, bahkan memperparah kerugian dan menambah korban.&lt;br /&gt;Dari pernyataan di atas tentu timbul pertanyaan, kenapa khok gempa susulan dapat merusak bahkan menimbulkan korban jiwa?&lt;br /&gt;Nah, ini akan sangat mudah dimengerti bila dikaitkan dengan kekuatan gempa utamanya yang 6,7 skala Richter.&lt;br /&gt;Di samping itu tentunya kekuatan bangunan, setempat akibat digedor oleh gempa utama menjadikannya turun kekuatannya sehingga saat diguncang gempa susulan yang berkepanjangan dengan kekuatan relatif besar akan sangat mudah berubah. Di lain pihak masyarakat sudah menganggap keadaan aman-aman saja dan menurunkan tingkat kewaspadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dapat ditentukan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Seperti kejadian gempa utama yang disertai oleh cukup banyak gempa susulan di Alor, maka saat berhentinya atau paling tidak saat dimana guncangan dianggap aman, dapat ditentukan dengan mudah. Yaitu berdasarkan dari pantauan lapangan yang biasa menggunakan seismograph jinjingan.&lt;br /&gt;Alat ini memantau frekuensi aktivitas getaran secara kontinyu dari waktu ke waktu. Bila dipasang di lokasi bencana maka batas terkecil getaran yang mau dipantau dapat diset. Dengan mengetahui sifat gempa yang meluruh secara exponensial terhadap waktu, maka data jumlah getaran dari waktu ke waktu yang dicatat dapat dikorelasikan terhadap waktu sehingga persamaan peluruhan akan diketahui.&lt;br /&gt;Dari persamaan yang diketahui ini, dengan batas toleransi yang diperbolehkan statistik maka waktu kapan dianggap sudah aman guncangan dapat ditentukan/diprakirakan.&lt;br /&gt;Harus diingat, kekuatan gempa susulan sangat ditentukan oleh kekuatan gempa utama, walau kekuatannya relatif lebih kecil dibanding kekuatan gempa utama.&lt;br /&gt;Menghadapi keadaan yang demikian maka disarankan kepada masyarakat di daerah bencana untuk lebih waspada bila mengalami kejadian seperti di Alor ini.&lt;br /&gt;Masyarakat diharapkan meneliti tempat tinggalnya setelah gempa utama terjadi. Bila tidak dianggap aman/meragukan kekuatannya lebih baik untuk sementara tidak dihuni atau minta advis pada petugas setempat (Pemda, PU, dan lain-lainnya).&lt;br /&gt;Bila memperhatikan historikal data gempa di BMG maka NTT merupakan daerah rawan gempa khususnya daerah Flores Timur, karena di daerah ini pernah tercatat hanya pada dekade terakhir saja dirusak oleh gempa beberapa kali seperti Gempa Ruteng, Gempa Larantuka, Gempa Pantar, Gempa Alor dan lain-lainnya.&lt;br /&gt;Ini menambah bukti bahwa daerah tersebut masih dalam proses geologi yang juga sarat dengan pertumbuhan vulkanisme/gunung api seperti lahirnya Gunung Ranakah, aktifnya Gunung Lewatobi baru-baru ini.&lt;br /&gt;Semua kejadian ini tidak dapat dipisahkan dari adanya beberapa simpul jalur gempa akibat pertemuan 3 lempeng-lempeng tektonik dunia bertemu di Laut Banda, persis di utara gugus kepulauan NTT, yang dikenal masih menyimpan misteri geologis yang belum teruangkap tuntas.&lt;br /&gt;Aktivitas kegempaan NTT, khususnya gempa-gempa di Flores Timur boleh jadi sebagai pembawa ciri gempa-gempa pada jalur ini yaitu termasuk tipe gempa kedua, dengan jenis batuan yang tidak homogen dengan sistem gaya yang menekan/menegangkannya tidak sama ke segala arah.&lt;br /&gt;Kejadiannya disertai oleh gempa pendahuluan yang kadang-kadang hanya dipantau alat saja, tetapi gempa susulan yang berlangsung relatif lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dimuat di harian Bisnis Indonesia&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-7680230099156310438?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/7680230099156310438/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/07/ntt-sarat-dengan-pertumbuhan-tektonik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/7680230099156310438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/7680230099156310438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/07/ntt-sarat-dengan-pertumbuhan-tektonik.html' title='NTT sarat dengan pertumbuhan tektonik dan gunung api'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-7697154535935877984</id><published>2010-05-12T04:35:00.000-07:00</published><updated>2010-05-12T04:38:45.900-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gempa'/><title type='text'>GEMPA MEULABOH ,  TETAP AMAN DI DAERAH BENCANA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh : I Putu Pudja&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S-qRATRAoNI/AAAAAAAAABQ/ikKUlhtXvUU/s1600/bnpb.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="280" src="http://2.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S-qRATRAoNI/AAAAAAAAABQ/ikKUlhtXvUU/s400/bnpb.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;Sumber Gambar : BNPB&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Meulaboh&lt;/b&gt;, minggu 9 Mei 2010 kembali diguncang gempa kuat dengan kekuatan 7,2 Skala Richter, dirasakan goncangannya cukup kuat di wilayah  pesisir barat NAD dan Sumut, seperti : di Meulaboh dirasakan maksimum V Skala MMI, di rasakan di Medan sampai IV Skala MMI, di Nias di rasakan sampai IV Skala MMI , di Sibolga dirasakan sampai III MMI.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa gempa tersebut berpotensi tsunami, walau setelah beberapa waktu memasuki waktu aman peringatan tsunami dicabut. Parameter gempa tersebut adalah, terjadi pk. 12 59 41 WIB, dengan posisi episenter pada 3,61 LS – 95,84 BT pada kedalaman 30 kilometer, di laut sekitar 66 kilometer barat daya Meulaboh NAD. Semuanya memang memandu kita untuk curiga bahwa gempa tersebut akan di sertai tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi ini beraada dekat dengan zona subduksi penunjaman lempeng samudera Indo-Australia dan lempeng Sunda ( bagian lempeng Eurasia ) yang bergerak relatif satu sama lain ke arah utara sedikit menyimpang arah timur dengan kecepatan 6-6,5 cm per tahun. Beberapa gempa besar memang tercatat terjadi mengikuti gempa Aceh 24 Desember 2004 yang lalu, yang menandakan masih belum stabilnya daerah ini secara kegempaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KERUSAKAN DAN TSUNAMI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut laporan Detik.com (9/5/10) dari lapangan bahwa goncangan gempa ini di Meulaboh (Aceh Barat) tidak menimbulkan kerusakan serius Bandara Cut Nyak Dhien. Kerusakan yang terpantau adalah bangunan retak dan kaca tower bandara pecah. "Tidak ada kerusakan serius. Saat ini aktivitas bandara sudah normal dan sudah ada pesawat yang mendarat, menurut  Kapuskom Publik Departemen Perhubungan Bambang  S Ervan. Lebih lanjut ia menjelaskan kondisi pelabuhan di Meulaboh juga tidak mengalami kerusakan. Saat ini aktivitas di pelabuhan itu juga telah normal kembali. "Tadi sempat ditinggal pegawainya untuk mengungsi, tapi setelah ancaman tsunami dicabut semua kembali bekerja lagi," &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga yang dinyatakan oleh  Staf Khusus Presiden Bidang Bencana , seperti dikutip detik.com, dia mendapatkan informasi sejumlah bangunan mengalami kerusakan ringan., berupa retak-retak saja Untuk antisipasi lebih lanjut Andi menyatakan, satuan reaksi cepat masih tetap bertahan di Bandara Halim di Jakarta Timur untuk mengantisipasi jika ada korban akibat  gempa susulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rangkaian berita tersebut menunjukkan bahwa, infrastruktur yang dibangun pasca gempa dan tasumai besar 2004 sudah dirancang tahan gempa dan, masyarakatpun sudah akrab dengan peringatan dini tsunami, terbuki dari sedikitnya kerusakan dan mereka baru beraktifitas kembali setelah peringatan tsunami dicabut. Mereka telah menjadi masyarakat sadar bencana. Disini pula kita buktikan kembali bahwa betapa susahnya meprediksi tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;INDIKASI SIMPANAN ENERGI TINGGI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita jeli memperhatikan gempa-gempa yang terjadi disepanjang zone subdaksi dimana gempa Meulaboh ini terjadi, sejakk 2004 lalu beberapa gempa besar terjadi di kawasan ini, seakan berjejer dari barat laut ke arah tengara. Yang terakhir sebelum gempa Meulaboh ini, adalah gempa Lais yang terjadi 5 Mei 2010, pk 23 29 01 WIB pada lokasi 4,24 LS – 109,97 BT pada kedalaman 10 km, sekitar 143 arah barat daya Lais Bengkulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gempa=gempa besar lainnya yang tercatat terjadi di kawasan ini antara gempa Aceh 24 Desember 2004 sampai gempa Meulaboh, 9 Mei 2010 adalah sebagai berikut:: (1)  April 2010 dengan kekuatan 7,8 SR pada jarak sekitar 200 km arah selatan,  (2)  Gempa Padang 2009 dengan kekuatan 7,5 SR; (3) gempa Simelue tahun 2008 dengan kekuatan 7,4 SR; (4) dua kali gempa 2007 dengan kekuatan 7,9 dan 8,5 SR, dan (5) gempa tahun 2005 dengan kekuatan 8,6 SR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi pusat gempa yang disebutkan diatas pada liniasi sampai 1000 kilometer dari gempa yang baru saja terjadi di Meulaboh. Selain gempa tersebut ratusan gempa yang berkekuatan di atas 5, 0 SR terjadi kawasan ini pasca gempa Aceh tahun 2004 yang menunjukkan betapa besarnya energi yang tersimpan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pemetaan daerah episenter terkini dan sejarah kegempaan yang ada, menunjukkan masih ada daerah-daerah di segmen ini yang belum menunjukkan keaktipannya sebagai indikasi pelepasan energi yang tersimpan disana belum penuh, sehingga kesetabilan energi di wilayah ini kelihatannya masih lama terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua data kekuatan gempa, peta seismisitas dan adanya daerah senjang gempa mengindikasikan energi gempa yang tersimpan di daerah tersebut sangat tinggi, sehingga perlu diakrai oleh masyarakat setempat sehingga kemungkinan korban maupun kerugian saat gempabumi maupun tsunami dapat ditekan sekecil mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PROSES PEMBELAJARAN YANG BAIK&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperhatikan berita dari lokasi gempa bumi dan daerah goncangannya dari gempa Meulaboh, dapat kita petik beberapa hasil proses pembelajaran  yang menunjukkan hasil positif, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;li&gt; Sistem peringatan dini tsunami InaTEWS ( Indonesian Tsunami Early Warning System) telah berfungsi dengan baik dari monitoring gempa sampai diseminasi warning tsunami, informasinya dalam waktu singkat sampai ke masyarakat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Masyarakat pesisir barat NAD khsusunya Meulaboh, sangat tanggap terhadap berita gempa dan peringatan dini tsunami yang dirilis BMKG, sehingg segera setelah warning mereka menghindar dan kembali setelah ada pencabutan warning.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Kecilnya kerusakan dan tidak adanya korban ( minmal sampai tulisan ini dibuat) menunjukkan keberhasilan rehabilitasi daerah tersebut pasca gempa 2004 dengan bangunan yang di bangun tahan goncangan gempa dan masyarakatnya tanggap menindaklanjuti warning.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Manajemen bencana, khususnya penanganan pasca bencana berjalan baik, dengan segeranya informasi kondisi infrastruktur transportasi yang merupakan sarana vital dalam penangulangan bencana serta disiapkannya tim yang siap ke lokasi, di Halim Perdana Kusuma bila diperlukan di daerah kejadian. Disini terlihat bahwa betapa koordinasi sudah berjalan baik, sejak monitoring, analisis, diseminasi, langkah tindak lapangan dan persiapan penanganan kalau-kalau terjadi kerusakan dan korban berjalan dengan koordinasi yang semakin baik.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Gempa Meulaboh menunjukkan indikasi bahwa daerah pesisir barat Sumatera masih merupakan daerah generator gempa kuat, yang sewaktu-waktu dapat terjadi.&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mengingat hampir sebagian besar wilayah Negara kita berada di daerah rawan bencana maupun pengaruh bencana, maka proses pembelajaran dari Aceh khususnya Meulaboh perlu kita kembangkan dan budayakan, untuk hidup mengakrabi bencana yang ada di sekitar kita.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-7697154535935877984?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/7697154535935877984/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/05/gempa-meulaboh-tetap-aman-di-daerah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/7697154535935877984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/7697154535935877984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/05/gempa-meulaboh-tetap-aman-di-daerah.html' title='GEMPA MEULABOH ,  TETAP AMAN DI DAERAH BENCANA'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S-qRATRAoNI/AAAAAAAAABQ/ikKUlhtXvUU/s72-c/bnpb.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-7699860056060776293</id><published>2010-05-09T16:53:00.000-07:00</published><updated>2010-05-09T16:53:12.852-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lingkungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iklim'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iptek'/><title type='text'>MELACAK MISTERI PERUBAHAN IKLIM SAMPAI PUNCAK JAYA</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S-dKSRl18-I/AAAAAAAAABI/XVp5xE-6m5M/s1600/imagesjaya.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S-dKSRl18-I/AAAAAAAAABI/XVp5xE-6m5M/s320/imagesjaya.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Peruabahan Iklim merupakan isu utama yang dibicarakan para ilmuwan selama hampir dua dekade terakhir ini. Perubahan iklim ditengarai terjadi diantaranya akibat perkembangan populasi penduduk manusia, konsumerisme alat transportasi fosil, yang mengakibatkan meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atamosfer bumi, sehingga sebagaian sinar matahari yang terpantul dari permukaan bumi tidak dapat kembali ke ruang luar atmosfer bumi, dia terperangkap menghangatkan terus permukaan bumi secara berulang-ulang sehingga suhu permukaan bumi meningkat.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan suhu global permukaan bumi mengakibatkan perubahan iklim dunia, yang termonitor berupa perubahan unsur-unsur iklim seperti : suhu udara, rentang waktu curah hujan, kuantitas curah hujan, kenaikan muka air laut karena mencairnya es di kutub dan di puncak-puncak dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data perubahan suhu udara di Indonesia, memang sangat variatif ada yang hanya sekitar 1,7 derajat Celcius per 100 tahun, terutama untuk pengamatan sepanjang pesisir utara Jawa – utara Sumatera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan iklim menjadi ramai dibicarakan, namun data yang runtun dalam jangka waktu yang panjang di suatu tempat susah didapat, mengingat hasil pengamatan sebelumnya banyak yang disimpan dalam hardcopy rusak, yang mudah rusak, hilangnya data akibat perang yang melanda suatu tempat, maupun perpindahan kantor maupun lokasi pengamatan karena perubahan peruntukan lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling baik sebenarnya adalah data hasil pengamatan dalam waktu yang panjang yang dapat mengungkap perubahan yang terjadi. Namun karena keterbatasan yang disebutkan sebelumnya menjadikan kita banyak tidak didukung dengan data yang runtun, kontinyu dalam waktu yang lama. Data yang demikian juga membuat gamang kita dalam berdiskusi, perubahan iklim ini. Yang terjadi memang perubahan iklim ataukan variabilitas iklim. Namun kelihatannya dengan semakin ditemukannya berbagai metode untuk melacak perubahan iklim, menunjukkan perubahan iklim itu memang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PALEO KLIMAT&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pakar dari berbagai basis keilmuan tidak kehabisan akal, memanfaatkan sifat fisis yang dimiliki bahan-bahan yang abadi di alam untuk diungkap, dan menjadi data sahih perubahan iklim. Diantaranya adalah dengan mengungkap data perubahan iklim itu melalui garis tahun pada kayu (dendrology), mempelajari stalagtit dan stalagnit di goa kapur, mempelajari lapisan es di puncak gunung (paleoklimat), lumpur di danau pada ketinggian yang tidak terusik semuanya dengan bantuan teknik fisika, yang terkait dengan pemanfaatan sifat radioaktif atom pembentuk material tersebut, maupun dengan mempelajari spectrum sinar yang terpendarkan material tersebut bila di berikan sinar. Metode ini akan menghasilkan data yang lebih rinci dan lebih akurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia sebenarnya menyimpan potensi besar dalam mengungkap perubahan iklim ini, karena kaya akan danau di ketinggian ( Puncak Jaya, Enarotali dll), gua kapur yang kaya akan stalagtit dan stalagmit, maupun es abadi di Puncak Jaya. Potensi ini diduga menyimpan data yang sangat baik dapat mengungkap pengaruh El Nino di Samudera Pasifik dan Dipole Mode di Samudera Hindia, karena perubahan suhu di permukaan samudera tersebut yang di tengarai sebagai kolam air hangat berkorelasi dengan lapisan es yang ada di Puncak Jaya. Kedua fenomena tersebut dijadikan indicator dan memprediksi musim dan iklim yang akan terjadi, perubahan fenomena EL Nino (atalu lengkapnya El Nino Southern Oscillation ) dan Momen Dipole. Keduanya bias saling bersinergi membuat semakin parah musim atau iklim di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian  terhadap es di Puncak Jaya akan dilakukan Juni 2010, oleh peneliti BMKG bekerja sama dengan peneliti USA  yaitu dari Universitas Columbia dan Universitas Ohio, yang keduanya telah berpengalaman menelti puncak Andes, di Amerika Latin salah satu puncak dengan es abadi di khatulistiwa (dua lainnya adalah Kilimanjaro dan Puncak Jaya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;POSISI STRATEGIS&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak Jaya memiliki nilai yang sangat strategis, karena berada diantara Kilimanjaro di Afrika (sisi barat Samudera Hindia ) dan Andes (sisi timur Samudera Pasifik ), nah ditengah-tengahnya berdiri Puncak Jaya, yang merupakan cross cutting gejala perubahan iklim dan fenomena yang berlangsung di Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping posisinya yang sedemikian rupa, penelitian kali ini juga dianggap sangat strategis, ditengah berpacunya para peneliti meneliti puncak es abadi dengan laju pemanasan global yang mencairkan es tersebut dalam kurun waktu yang tidak lama lagi. Jadi sebelum kita kehilangan catatan sejarah perubahan iklim, penelitian tersebut harus dilakukan. Secara factual mengecilnya area es di Puncak Jaya bisa kita lihat perkembangannya pada citra satelit Ikonos. Demikian juga laporan peneliti Indonesia untuk tujuh puncak dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping mengungkap perubahan iklim, data letusan gunung api jejaknya dapat ditelusuri di lapisan es ini untuk letusan yang maha dahsyat seperti Letusan Tambora, Letusan Krakatau dan lain-lainnya.Demikian pula kemungkinan vegetasi yang pernah ada jejaknya sampai ke es tersebut, mengingat secara teori stratigrafis, tidak jarang jarena evolusi sebuah puncak awalnya merupakan lantai sebuah dasar samudera,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melengkapi kelengkapan data perubahan iklim purba (paleoklimat) dari es Puncak Jaya, Lumpur dari dasar danau-danau di ketinggian, maupun kars stalagtit dan stalagmit di goa kapur akan menambah kaya data kita mengenai data perubahan iklim. Ini akan mengurai lebih panjang data iklim Indonesaia, selain data pengamatan yang tidak terlalu panjang tertata paling-paling ada data runtun setelah kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data panjang perubahan iklim yang didapat nantinya dapat dipakai sebagai penyempurnaan atau pengujian model peubahan iklim yang banyak dikembangkan belakangan ini untuk dasar membuat perencanaan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, mengingat skenario dari masing-masing model yang digunakan akan sangat tergantung asumsi yang digunakan. Sedang data peleoklimat akan merupakan data riil. Itu bias kita lihat dari keluaran model atau skenario perubahan iklim yang dikeluarkan IPCC, CSIRO, dan lain model yang sangat banyak diperkenalkan untuk memudahkan memahami dan memprediksikan perubahan iklim yang akan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ragam peluang penelitian perubahan iklim terhadap bermacam media, menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak hanya menjadi domain pakar iklim saja, namun juga merupakan tantangan pakar-pakar lainnya seperti pakar dendrologi, limnologi, pakar spekral, pakar radioaktif dan lain sebagainya untuk ikut mengungkap perubahan yang terjadi. Kolaborasi penelitian sangat mutlak diperlukan untuk mengungkap lebih jauh issu sentral pemanasan global dan perubahan iklim yang sedang melanda dunia saat ini, baik kolaborasi tingkat nasional maupun multinasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Penulis : I Putu Pudja, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-7699860056060776293?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/7699860056060776293/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/05/melacak-misteri-perubahan-iklim-sampai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/7699860056060776293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/7699860056060776293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/05/melacak-misteri-perubahan-iklim-sampai.html' title='MELACAK MISTERI PERUBAHAN IKLIM SAMPAI PUNCAK JAYA'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S-dKSRl18-I/AAAAAAAAABI/XVp5xE-6m5M/s72-c/imagesjaya.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-1190742436560357425</id><published>2010-05-04T15:14:00.000-07:00</published><updated>2010-05-04T15:14:35.678-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lingkungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cuaca'/><title type='text'>Debu di Udara Mempengaruhi Pola Hujan</title><content type='html'>Letak kepulauan Indonesia sangat strategis bila dipandang dari sudut geografis. Diapit dua Samudera dan dua benua, sehingga Indonesia dipengaruhi oleh dua musim yaitu musim penghujan dan musim kemarau, yang masing-masing lamanya 6 bulan.&lt;br /&gt;Indonesia juga dilalui oleh dua jalur gunung api dan dapat dikatakan sebagian besar kepulauan kita adalah Pulau Vulkanik (bergunung api), sehingga mau tidak mau kita harus selalu waspada terhadap bencana yang ditimbulkannya, baik yang secara langsung atau yang tidak langsung.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Salah satu akibat tidak langsung dari gunung api yang sedang meletus adalah efek debu gunung api di udara, seperti efek debu tersebut terhadap penerbangan, kesehatan, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ada Hubungan?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Gunung Merapi di Jawa Tengah sekitar bulan Nopember 1981 yang lalu diberitakan meningkat keaktifannya. Menyusul kemudian berita mulai aktifnya Gunung Slamet di Jawa Tengah. Dinyatakan pula terjadi hujan abu, terdengar suara gemuruh, air kali yang bersumber di sana menjadi keruh serta di hulunya tercium bau belerang, hal ini terjadi 30/12/1981.&lt;br /&gt;Keaktipan dari gunung-gunung berapi tersebut yang disertai hujan abu sudah jelas sangat berpengaruh terhadap konsentrasi debu di udara di atas sekitar gunung api tersebut.&lt;br /&gt;Kejadian ini diikuti terjadinya banjir besar yang melanda sebagian besar P. Jawa, khususnya Jawa Barat dan Jawa Tengah di akhir tahun 1981 yang lalu. Curah hujan saat itu jauh di atas normal. Adakah kaitan kedua kejadian di atas.&lt;br /&gt;Menurut perhitungan serta kebiasaan tahun-tahun yang silam, maka mulai April kita sudah memasuki musim kemarau, akan tetapi apa yang kita alami adalah hujan yang berkepanjangan bahkan sampai bulan Mei 1982. Adakah hubungan musim hujan yang berkepanjangan ini dengan letusan G. Galunggung yang meletus menjelang berakhirnya musim penghujan tersebut (khususnya untuk Jawa Barat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Proses Hujan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hujan merupakan proses lanjutan dari proses perawanan di udara. Harus diingat tidak semua awan akan menghasilkan hujan. Untuk terjadinya hujan, awan tersebut harus berkondensasi. Untuk itu memerlukan persyaratan seperti : kelembaban udara, kecepatan serta arah angin, suhu, tekanan udara, dan lain-lain termasuk adanya inti kondensasi yang sangat berperan dalam proses kondensasi tersebut.&lt;br /&gt;Setelah terjadi kondensasi, untuk jatuh ke bumi sebagai hujan, juga masih memerlukan beberapa persyaratan diantaranya adalah ukuran diameter dari titik-titik air hasil kondensasi tersebut.&lt;br /&gt;Betapa besar arti inti kondensasi dalam proses pembentukan kondensasi sehingga dalam proses hujan buatan hal ini juga merupakan salah satu hal yang sangat menentukan, maka dengan adanya debu produksi gunung berapi dalam erupsinya sangat berpengaruh terhadap stabilitas (konsentrasi) udara disekitarnya.&lt;br /&gt;Demikian pula apa yang baru saja terjadi yaitu akibat letusan dari G. Merapi, G. Slamet serta G. Galunggung yang rata-rata menyemburkan debu ke udara sangat besar andilnya dalam perubahan intensitas hujan serta pergeseran berakhirnya musim hujan di daerah sekitar atau daerah yang ditutupi oleh debu gunung tersebut.&lt;br /&gt;Angka prosentase yang pasti akibat efek debu tersebut perlu mendapat perhatian yang serius mengingat letak serta kondisi geografis Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dimuat di harian Sinar Harapan, hari Selasa tanggal 20 Juli 1982&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-1190742436560357425?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/1190742436560357425/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/05/debu-di-udara-mempengaruhi-pola-hujan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/1190742436560357425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/1190742436560357425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/05/debu-di-udara-mempengaruhi-pola-hujan.html' title='Debu di Udara Mempengaruhi Pola Hujan'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-7975391074427537342</id><published>2010-04-29T14:57:00.000-07:00</published><updated>2010-04-29T14:57:38.100-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lingkungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iptek'/><title type='text'>Posisi Flores sangat mendukung pengembangan potensi geothermal</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S9oAsGsroeI/AAAAAAAAABA/NzVLdmQ9WAQ/s1600/peta+flores.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="130" src="http://4.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S9oAsGsroeI/AAAAAAAAABA/NzVLdmQ9WAQ/s320/peta+flores.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Proyeksi akan terjadinya krisis energi di masa mendatang, rupanya telah mengilhami banyak negara untuk mengembangkan seluruh potensi sumber daya energi yang dimilikinya. Sehingga sandaran energi tidak tertumpu pada satu jenis sumber daya saja, yaitu sumber energi fosil berupa gas dan minyak bumi. Serta mengupayakan penganekaragaman sumber daya energi.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga yang dilakukan pemerintah Indonesia, sejak beberapa tahun terakhir ini telah giat mengkaji dan menerapkan sumber daya yang terpendam pada bumi pertiwi ini, walau sebenarnya negara ini termasuk penghasil bahan bakar minyak (BBM) dan gas yang andal dan selama ini termasuk salah satu anggota OPEC.&lt;br /&gt;Beberapa pilihan yang telah banyak terbukti efektif dilakukan pemerintah dengan penganekaragaman bahan bakar pada beberapa Pembangkit Listrik. Dari pemanfaatan sumber daya air, sumber daya batu bara, sumber daya surya sampai pada pemanfaatan sumber daya panasbumi atau geothermal. Serta penetapan pemerintah untuk segera membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Ujung Watu Muria, Jawa Tengah, mulai tahun anggaran 1996/97 mendatang.&lt;br /&gt;Dari penganekaragaman sumber daya tersebut, serta arah percepatan pembangunan di Indonesia yang diprioritaskan pada pembangunan Indonesia Bagian Timur (IBT) belakangan ini, maka ada terlihat hal yang sangat menarik pada usaha penganekaragaman tersebut bila dikaitkan dengan IBT yang sedang berbenah diri untuk mengejar ketertinggalannya dari laju pembangunan di Indonesia Bagian Barat (IBB).&lt;br /&gt;Dalam penganekaragaman sumber daya tersebut, khususnya sumber daya panasbumi untuk program Listrik Masuk Desa di IBT, penulis ingin mengajak pembaca untuk melirik sejenak kondisi sebuah pulau di IBT, yaitu pulau Flores yang merupakan salah satu pulau di tanah air yang sangat berpotensi dalam pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP). Bahkan menurut Pemda setempat, dalam usaha realisasi pemanfaatan sumber panasbumi di sana untuk PLTP saat ini sudah pada tingkat menunggu penetapan pemenang tender pelaksanaan proyek ini yang konon sedang diproses di tingkat Pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Daerah potensi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pada pilihan pengembangan PLTP di daerah Flores, Nusa Tenggara Timur ini, patut kita angkat topi pada penentu kebijaksanaan di daerah ini, karena daerahnya dalam penyediaan panasbumi ini tidak perlu diragukan lagi baik secara tektonik, geologis maupun secara vulkanologis dalam kemalaran pasokan tenaga panas bumi itu.&lt;br /&gt;Posisi daerahnya, sebagai konsekuensi dari daerah margin tektonik aktif dari tektonik lempeng Asia Tenggara yang berbenturan dengan tektonik lempeng Hindia-Australia.&lt;br /&gt;Dengan daerah di atas zona penunjaman yang merupakan sumber energi dari arus konveksi akibat melting dari bibir tektonik lempeng samudera, yaitu tektonik lempeng Hindia-Australia yang menujam di bawah lempeng Asia Tenggara. Yang kemudian membentuk busur vulkanik yang biasa disebutkan pada ruas ini sebagai busur Banda (Banda Arc) yang sangat kaya akan gunung api aktif baik di bawah laut maupun di daratan.&lt;br /&gt;Untuk Flores, itu ditunjukkan dari banyaknya ‘gunungapi’ (yang belakangan ini tidak lagi diklasifikasikan ke dalam gunung aktif, tidur dan padam itu) yang berderet arah Barat-Timur membelah pulau tersebut.&lt;br /&gt;Di antaranya dari arah barat ke Timur dapat kita lihat di peta beberapa gunung api Gn. Beliling (1300m); Gn. Iya (1363m); Gn. Cucurumbeng (1750m); Gn. Ranakah (2400m); Gn. Nambu (1957m); Gn. Munde (1448m); Gn. Inerie (2245); Gn. Ambulombo; Gn Klambo (1361m); Gn. Wowonata (1200m); Gn. Egong (1703); Gn. Wengor (1560m); Gn. Lewero (1284m); Gn. Muna (1423m); Gn. Potomana (1763m) kedua yang terakhir ini berada di Pulau Alor.&lt;br /&gt;Beberapa di antaranya pada tahun terakhir menunjukkan aktivitas dengan ‘batuk-batuk’ dan meletus serta lahirnya gunung baru di sekitar Gn. Ranakah, yang waktu kelahirannya dengan sederhana diberi nama sementara Gn. Anak Ranakah.&lt;br /&gt;Pada titik-titik lokasi gunung tersebut secara fisis merupakan daerah potensi PLTP yang dapat dieksplorasikan guna memasok energi listrik daerah sekitarnya dalam menunjang program pemerintah dalam usaha listrik masuk desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pasokan energi malar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Di dalam operasional dari PLTP di daerah Flores ini, kalau melihat posisi dari pulau tersebut yang berada di bibir Laut Banda serta pada busur Banda yang terkenal aktif serta masih menjadi ajang penelitian para pakar geologi Eropa Barat itu, maka pasokan energi panasbumi itu akan dapat berjalan secara malar (kontinyu).&lt;br /&gt;Di samping lokasinya yang langsung berada pada busur gunungapi dengan sederet gunungapi yang ada di sana seperti disebutkan di atas, dengan proses geologi yang masih berlangsung, dibuktikan oleh lahirnya gunungapi baru serta letusan beberapa gunungapi setempat, maka secara tidak langsung juga sebagian daerahnya merupakan daerah bersisian dengan gunungapi aktif yang bertebaran di dasar Laut Banda yang secara setia juga akan membantu memasok energi panasnya melewati kulit bumi di sana.&lt;br /&gt;Dari segi kegempaan juga tidak disangsikan lagi, aktivitas kegempaan yang hampir setiap hari terjadi gempa di busur Banda ini secara tidak langsung akan memicu proses aliran energi panasbumi di daerah sekitarnya, termasuk Flores sehingga tidak akan henti-hentinya mengalir.&lt;br /&gt;Curah hujan yang cukup sebagai persyaratan dalam pengeksplorasian energi panasbumi, rupanya tidak menjadi masalah di Flores ini. Karena dibandingkan dengan pulau-pulau di Nusa Tenggara tetangga daerah Flores, curah hujannya relatif lebih tinggi yang ditunjukkan dengan lebih hijau dan berhasilnya perkebunan di sini.&lt;br /&gt;Jadi secara kondisional potensi panasbumi (geothermal) di daerah Flores sangat baik, penyebaran titik-titik panasbumi akan memudahkan pemerataan pengembangan PLTP serta mempercepat listrik masuk desa, dan kondisi lainnya pun seperti tektonik, geologi, curah hujan terlihat saling mendukung dalam kemalaran pasokan energinya.&lt;br /&gt;Kalau saja PLTP di daerah Flores ini segera terwujud, maka tidak saja akan menjadikan semakin cepatnya listrik masuk desa, namun ada nilai tambah yang akan bisa dipetik bila kita kaitkan dengan komoditas perkebunan yang ada di sana , yaitu perkebunan kopi yang sudah terbukti merupakan komoditas ekspor nonmigas dan pariwisata saat ini. Pengusahaan kopi umumnya masih merupakan perkebunan rakyat.&lt;br /&gt;Kualitas kopi yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh pengolahan pasca panen yang secara konvensional masih mengandalkan tenaga panas matahari serta digelar di jalanan. Hal ini telah dituding oleh para eksportir sebagai biang keladi dalam penurunan kualitas kopi yang dihasilkan. Dan tentu buntutnya akan memperkecil nilai jual kopi tersebut dengan muara kerugian tetap akan dipikul para petani.&lt;br /&gt;Kehadiran listrik di sentra-sentra penghasil kopi dari pengembangan PLTP akan memberi peluang pada masyarakat petani kopi di sana untuk mengembangkan teknologi tepatguna dalam proses pasca panen hasil perkebunan mereka. Yang secara tidak langsung juga akan merangsang industri pembuatan alat pengolahan pasca panen hasil perkebunan kopi di sana selain akan meningkatkan kualitas hasil kopi. Sehingga banyak sektor akan berkembang dengan pengembangan PLTP di Flores. &lt;br /&gt;Kalau melihat banyaknya titik-titik panas bumi yang dapat dikembangkan di Flores tersebut, kelihatannya sistem koperasi KUD ataukah jenis koperasi lainnya akan sangat cocok dikembangkan dalam operasional PLTP di sana. Sedangkan ketersendatan pengembangannya tidak akan salah lagi bila Departemen Koperasi ikut turun tangan memecahkannya. Apalagi sudah dinyatakan beberapa titik panas bumi di sana sudah laik dan prospektif untuk dieksplorasi.&lt;br /&gt;Kehadiran PLTP di daerah Flores, Nusa Tenggara Timur, ini nantinya akan ikut memarakkan penganekaragaman sumber daya energi di tanah air di tengah kekhawatiran akan datangnya krisis energi akibat keterbatasan cadangan bahan bakar fosil serta langkah nyata dalam menyambut gayung imbauan penghematan pemakaian energi oleh pemerintah, lewat Departemen Pertambangan dan Energi, yang secara gencar digelar lewat media massa cetak maupun elektronik kita (bahkan memakai aktor terkenal Didi Petet segala).&lt;br /&gt;Dengan demikian potensi tinggi dalam panas bumi di Flores yang akan segera dieksplorasi tersebut, dari sudut pandang percepatan pembangunan di IBT, akan merupakan rangkaian proses berantai yang memacu laju roda pembangunan di daerah tersebut (khususnya sekitar daerah prospektif) pada berbagai sektor yang tentunya masih terkait dengan penyediaan sumber daya listrik yang selama ini masih merupakan kendala yang belum terpecahkan.&lt;br /&gt;Dan kalau ini lancar prosesnya, maka tidak mustahil pulau Flores akan dilistriki oleh ‘buminya’nya sendiri sebagai pulau ‘geothermal’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dimuat di harian Bisnis Indonesia, hari Minggu 24 Mei 1992.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-7975391074427537342?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/7975391074427537342/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/04/posisi-flores-sangat-mendukung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/7975391074427537342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/7975391074427537342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/04/posisi-flores-sangat-mendukung.html' title='Posisi Flores sangat mendukung pengembangan potensi geothermal'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S9oAsGsroeI/AAAAAAAAABA/NzVLdmQ9WAQ/s72-c/peta+flores.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-1297192081321284693</id><published>2010-04-29T14:46:00.000-07:00</published><updated>2010-04-29T14:46:00.275-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lingkungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gempa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iptek'/><title type='text'>Gejolak Misterius Bumi Nyalakkan Gunung-gunung</title><content type='html'>Gunung Manyon di Pilipina, sekitar 320 km dari Manila dan tak jauh dari kota kecil Santo Domingo, hari minggu pekan yang lalu meletus. Tak kurang dari 50.000 orang penduduk yang berada di kaki gunung ini lari tunggang langgang sementara gempa terus berguncang dan asap berdebu serta awan panas meluap dari bibir Mayon yang menyala.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pilipina tidak jauh dari Indonesia. Hanya sekitar satu setengah jam terbang dari Manado di Sulawesi Utara. Ini artinya, gunung Mayon tak jauh dari gunung Soputan maupun gunung Colo. Bahkan juga tak jauh dari gunung Gamalama di Maluku Utara. Jarak itu lebih dekat lagi dengan gunung Karangetang di pulau Siau, Sangir Talaud.&lt;br /&gt;Bila Mayon dihubungkan dengan garis merah dengan gunung-gunung di Sulawesi Utara maupun Maluku Utara yang secara bergantian meletus beberapa bulan terakhir ini, maka menjadi jelas kemudian bahwa di dalam radius sekitar 1.500 km kawasan itu ada kegiatan ekstra perut bumi yang mengakibatkan gunung-gunung tiba-tiba menyalak secara bersamaan. Ada apa gerangan di sana? Mungkinkan akan tiba waktunya gunung-gunung di kawasan Pasifik Selatan ini bakal meletus bergantian, “kiamat” pun tiba sebelum “perang nuklir” meletus?&lt;br /&gt;Rangkaian peristiwa letusan gunung pada busur ini dapat kita catat beberapa letusan yang sempat menjadikan panik penduduk setempat adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;Diawali oleh letusan gunung Gamalama di Maluku Utara yang terakhir kambuh letusannya adalah pada awal Agustus 1983, yang merupakan seri terakhir letusannya yang terjadi pada periode delapan puluhan ini. Letusan ini tidak sehebat letusan-letusan bulan-bulan sebelumnya, akan tetapi sempat membuat panik penduduk setempat yang sudah kena pengaruh dari berita pengungsian penduduk Pulau Unauna akibat letusan Gunung Colo yang menunjukkan keaktipan yang cukup serius sejak bulan Juli 1983 yang lalu.&lt;br /&gt;Letusan Gunung Colo sempat berkepanjangan dan terasa lebih dahsyat dari sebenarnya akibat adanya peristiwa timbal balik antara peristiwa tektonik dan vulkanik kawasan Teluk Tomini yang terkenal sangat rawan tersebut (rawan dalam artian peristiwa tektonik dan vulkanik). Bencana alam ini mengakibatkan diungsikannya 7000 orang lebih penduduk setempat.&lt;br /&gt;Belum lama berselang setelah redanya letusan Gunung Colo, dari semenanjung Minahasa terdengar berita tentang meletusnya Gunung Soputan yang berada arah barat daya ibu kota Sulawesi Utara tersebut. Letusan Soputan ini sempat juga mengakibatkan aparat setempat turun tangan dengan mengungsikan beberapa desa, serta menyiagakan beberapa desa, serta menyiagakan beberapa desa lainnya yang berada pada lereng gunung tersebut. Letusan gunung Soputan ini dikabarkan meningkat kembali awal September 1984 ini.&lt;br /&gt;Pada awal September 1984 ini dari kawasan yang sama juga dikabarkan meningkatnya aktifitas gunung Karangetang di Pulau Siau, Sangir Talaud. Gunung yang memiliki ketinggian puncak hanya 1784 m ini, kegiatannya dimulai 9 Agustus 1984 yang lalu, dan 5 September 1984 letusannya dengan memuntahkan lahar yang dikatakan mengalir hingga 2 km pada lereng gunung tersebut, sempat menghalau 13.121 orang penduduk Pulau Siau tersebut yang dikatakan sudah akrab dengan tingkah laku gunung Karangateng itu, karena pada periode tujuh puluhan gunung ini menunjukkan keaktifannya dengan periode hanya sekitar 1 tahun. Yang tentunya tidak sehebat letusan yang terakhir ini.&lt;br /&gt;Setelah berita letusan gunung Karangetang ini maka dari busur yang sama circum pegunungan ini diberitakan adanya letusan gunung Mayon di Filipina. Letusan gunung ini tercatat sangat hebat selama seminggu sejak 7 September yang lalu, dan sejak 14 September 1984 ini, dari daerah bencana dikabarkan bahwa kegiatannya telah mereda setelah seminggu memuntahkan pasir, lahar dan batu-batuan. (Kompas, 17 September 1984).&lt;br /&gt;Perlu dicatat pula bahwa didaerah yang sama dengan kejadian di atas, pada periode yang bersamaan juga telah terjadi beberapa kali gempa bumi. Beberapa gempa bumi yang merusak diantara gempa-gempa bumi tersebut dapat kita catat sebagai berikut :&lt;br /&gt;Satu, gempa bumi Una-una yang menjadi gempa-gempa pra letusan meletusnya gunung Colo 17 Juli 1983, yang kemudian terjadi silih berganti antara gempa vulkanik dan gempa tektonik di kawasan Teluk Tomini dimana Gunung Colo (508 m) itu terdapat. Gempa-gempa ini menyebabkan meningginya gelombang pasang di kawasan ini, dan mengakibatkan ditutupnya Teluk ini untuk pelayaran pada akhir Juli hingga Agustus 1983 yang lalu, situasi tambah memburuk akibat cuaca buruk menyertai letusan gunung Colo.&lt;br /&gt;Dua, gempa bumi Toli-Toli. Gempa bumi ini terjadi tanggal 25 Oktober 1983. Pusat gempa berada pada posisi 01,6 LU – 120, 8 BT dengan kedalaman 50 km dan kekuatan 6,0 SR. Gempa ini mengakibatkan kerusakan di Kabupaten Mamuju, dengan dua orang korban jiwa dan tujuh puluhan orang cedera.&lt;br /&gt;Empat, gempa bumi Manado. Gempa bumi ini terjadi pada tgl. 6 Agustus 1984 yang lalu. Gempa ini terjadi pkl 9.01.54,95 WIB dengan pusat gempa 00,12 LS -  122,13 BT dengan kedalaman 200 km dan kekuatan gempa 6,6 SR. Gempa ini dirasakan di Manado dengan intensitas II MMI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Diskusi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bila kita perhatikan serian data tentang letusan gunung berapi yang telah terjadi dan diuraikan di atas terlihat beberapa hal yang menarik bahkan cukup menarik yang dapat dikemukakan antara lain : tentang urutan tempat kejadian, jenis letusan maupun peristiwa gempa yang juga menunjukkan frekuensi yang meningkat (khususnya gempa yang merusak) pada periode yang sama.&lt;br /&gt;Memperhatikan tempat kejadian dari gunung-gunung api yang meletus, maka dapat kita ikuti adanya perpindahan (migrasi) aktifitas sepanjang busur pegunungan yang berawal dari Maluku Utara terus melingkar ke arah utara hingga terakhir pada salah satu pulau di Kepulauan Pilipina.&lt;br /&gt;Dari semua letusan gunung-gunung berapi yang disebutkan di atas maka terlihat bahwa semua letusan yang terjadi dapat digolongkan ke dalam letusan sedang ke bawah. Tipe letusan yang terjadi pada umumnya letusan kambuhan sehingga energi yang dilepas pun  tidak terlalu besar karena akumulasi energi dalam periode yang pendek. Ini dapat kita lihat dari histories data tentang letusan gunung Gamalama, Colo, Soputan, Karangetang.&lt;br /&gt;Khusus untuk pra letusan gunung-gunung api yang terdapat pada kawasan Sulawesi maka letusan dari gunung api terlihat adanya peristiwa pra letusan berupa gempa-gempa bumi tektonik yang cukup besar. Ini dapat dimengerti karena adanya sistem tektonik lempeng yang aktif pada kawasan ini serta zone tertekan di daerah ini sangat mempengaruhi sistem akumulasi energi strain yang terjadi pada kulit bumi di kawasan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kesimpulan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian singkat dari serian data yang disebutkan di atas maka dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain :&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Daerah gunung api sepanjang busur Maluku Utara – Sulawesi Tengah – Sulawesi Utara – Pilipina yang dikenal dengan busur Pasifik barat daya merupakan jalur gunung api dan jalur gempa bumi aktif.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pada jalur ini, bila memperhatikan rangkaian waktu dan tempat kejadian peristiwa, maka terlihat adanya migrasi pelepasan energi (keaktifan) dengan arah berlawanan dengan arah jarum jam&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Letusan gunung api di daerah ini menunjukkan adanya gejala pra letusan pada saat-saat menjelang letusan. Ini menandakan bahwa penerobosan magma menjelang letusan gunung api di daerah ini sudah mampu mentrigger terjadinya gempa tektonik yang cukup kuat di daerah tektonik, khususnya pada daerah Minahasa dan Teluk Tomini.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Letusan yang terjadi di jalur ini, menunjukkan letusan dari pulau ke pulau dengan letusan bertipe kambuhan dan tergolong letusan sedang ke bawah.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dimuat di harian Sinar Harapan&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-1297192081321284693?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/1297192081321284693/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/04/gejolak-misterius-bumi-nyalakkan-gunung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/1297192081321284693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/1297192081321284693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/04/gejolak-misterius-bumi-nyalakkan-gunung.html' title='Gejolak Misterius Bumi Nyalakkan Gunung-gunung'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-4618557571658341715</id><published>2010-04-28T22:14:00.000-07:00</published><updated>2010-04-28T22:14:56.061-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iptek'/><title type='text'>Melirik Kemungkinan Sumber Energi Baru</title><content type='html'>Masalah energi tidak akan henti-hentinya menjadi topik pembicaraan sepanjang ketergantungan utama akan sumber energi dunia pada sumber energi fosil (BBM ataupun batubara). Masalah ini bahkan dapat mempengaruhi stabilitas dunia, seperti apa yang baru-baru dialami masyarakat Teluk Persia, yang lebih banyak dikaitkan pada sumber energi tersebut.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, sejak bulan Maret ’91 lalu santer terdengar adanya krisis energi listrik yang selama ini sebagian besar tergantung pada Perum Listrik Negara (PLN). Krisis energi dialami oleh sedikitnya 6 (enam) daerah yang umumnya berada di Pulau Jawa, Bali, Sumatera dan Kalimantan. Selain itu, juga dibicarakan lewat media massa adanya rencana akan kenaikan tarif listrik PLN, namun masyarakat sebagai konsumen umumnya pasrah menerima. Selama ini kenaikan itu selalu datangnya dari pihak PLN dan konsumen seolah-olah berada pada pihak yang lemah. Terlepas dari itu semua, terlihat PLN sudah terlambat mengantisipasi atau memang kemampuannya yang sangat terbatas dalam menghadapi lonjakan kebutuhan akan daya listrik. Sehingga program listrik masuk desapun akan agaknya terpaksa tersendat realisasinya bila melihat kondisi yang demikian. Bila kita tinjau sejenak, generator PLN selama ini sebagian besar masih menggunakan bahan bakar fosil (batu bara dan minyak diesel) atau tenaga air untuk memutar turbin yang biasa dikenal sebagai PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air). Kedua jenis itu, tampaknya secara intensif dibangun pada tahun-tahun terakhir.&lt;br /&gt;Untuk pembangkit listrik dengan bahan bakar fosil, di antaranya PLTG yang menggunakan bahan bakar batu bara terlihat dengan gagah di Suralaya, yang memasok sebagian listrik di Jawa ada juga, PLTG Paiton yang dalam tahap perampungan. Jenis ini terkenal sangat produktif dalam menghasilkan limbah sehingga menjadi masalah baru dalam pembuangannya. Untuk PLTA, terlihat sangat banyak yang dibangun pemerintah dewasa ini seperti sepanjang sungai Citarum saja berdiri tiga waduk besar yang multiguna, yaitu Jatiluhur, Saguling, dan Cirata. Di Jawa Tengah yang sampai saat ini masalahnya masih berbuntut adalah pembangunan Waduk Kedung Ombo, diharapkan dapat ikut menambah daya listrik terpasang di Pulau Jawa.&lt;br /&gt;Di luar ini, masih banyak waduk-waduk yang lebih kecil yang dibangun dengan harapan yang sama. Kalau kita tinjau lebih jauh lagi kondisi, posisi geografis serta volkanis daerah wilayah Indonesia, sangatlah mungkin untuk mencari sumber energi alternatif dalam pemecahan masalah kelistrikan di tanah air, walau dengan kapasitas tentunya relatif lebih kecil. Dalam kaitan kondisi perlistrikan di Indonesia tulisan ini akan mengajak masyarakat meninjau kembali dan membicarakan yang dapat berperan dalam pilihan sumber energi alternatif dalam pengadaan listrik di tanah air yang sangat beragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Panas Bumi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia yang terkenal sebagai daerah vulkanis (gunung api), memiliki banyak gunung api aktif yang digolongkan pada type A, B, dan C, serta gunung-gunung api yang sudah dinyatakan tidak berfungsi lagi (mati), yang diharapkan merupakan sumber energi. Keberadaan gunung api itu sudah lama dieksplorasi untuk ikut memasok energi listrik setempat. Di antaranya Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) yang sudah lama berproduksi. Antara lain PLTPB Kamojang (Jawa Barat), Dieng (Jawa Tengah), Lahendong (Sulawesi Utara). Dan daerah lain yang masih diteliti dari segi teknis dalam sumber energi panas bumi ini sangat banyak. Kesemua dari PLTPB ini memanfaatkan panas bumi yang timbul ke permukaan pada daerah gunung api yang sudah padam.&lt;br /&gt;Seperti daerah-daerah potensi panas bumi di Banten, Cisolok, Wayang Windu, Patuha, Darajat, Tangkuban Perahu (Jawa Barat), Lawu, Wilis (Jawa Timur), Merapi (Sumbar), Air Panas (Bali) beberapa di Sulawesi Utara, Maluku Utara dan NTT, sangat berpotensi akan penyediaan panas bumi sebagai salah satu sumber energi. Sedang yang banyak diimpikan para ilmuwan kebumian akan pemanfaatan energi magma dari gunung api yang masih aktif yang sedang diteliti di mancanegara. Keberhasilannya sangat dinantikan mengingat tidak sedikit gunung api aktif yang kita miliki. Teknologi yang ini di samping dapat menyediakan sumber energi, juga akan mampu melepas secara wajar energi magma dari gunung api bersangkutan sehingga letusanpun dapat dikendalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bayu Dan Samudera&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kondisi geografis Indonesia yang berpulau-pulau, mengakibatkan akan adanya pantai yang panjang serta laut yang mengitarinya. Kedua ini sangat berpotensi dalam ikut memecahkan masalah penyediaan energi listrik.&lt;br /&gt;Secara regional posisi Indonesia di daerah tropis akan dilewati oleh dua jenis angin muson setiap tahunnya. Yaitu muson (monsoon) Barat dan Timur yang saling bergantian enam bulan sekali yang melintasi wilayah Indonesia. Sedang yang lebih lokal, daerah pantai merupakan daerah transportasi angin sepanjang hari yaitu angin darat dan angin laut. Termasuk daerah lembah demikian juga akan dilewati angin lembah dan angin gunung secara bergantian sepanjang hari. Tentu saja tidak semua pantai yang menguntungkan dalam penyediaan angin yang cukup sebagai pemutar turbin, namun pantai yang kondisinya seperti pantai Baron, Parang Teritis menurut beberapa survey yang telah dilakukan dinyatakan layak dalam segi teknis. Dengan inspirasi dan meniru dari segi suksesnya yang dilakukan di negeri Belanda untuk memompa air laut supaya tidak menggenangi negara tersebut yang memang berada pada ketinggian minus dari permukaan air laut, pemanfaatan energi samudera atau laut Indonesia dapat juga dimanfaatkan sebagai sumber energi dari dinamika ombak yang secara kontinyu bergerak menerpa pantai sepanjang waktu. Namun pemanfaatannya agak sulit karena garis pasang surutnya sangat variatip.&lt;br /&gt;Kecuali itu dalam pemanfaatan energi samudera ini dapat dimanfaatkan adanya arus pusar vertikal yang banyak terdapat di wilayah perairan seperti di Laut Jawa dan Utara Bali. Arus ini terjadi akibat perbedaan salinitas serta gradient thermal yang terdapat pada air laut.&lt;br /&gt;Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam salah satu programnya telah mulai mempelajari kemungkinan energi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Energi Biogas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat agraris yang menjadi ciri dari masyarakat pedesaan kita pada umumnya, rupanya akan tetap menjadi tulang punggung dalam swasembada pangan. Limbah pertanian, dalam hal ini peternakan yang dilakukan petani di pedesaan dan limbah sampah di perkotaan dapat diolah dengan teknologi biogas. Secara tidak langsung, teknologi itu akan membantu pengelolaan limbah pertanian, peternakan maupun sampah perkotaan yang sampai saat ini memang merupakan problema besar.&lt;br /&gt;Peralihan ke energi ini juga akan turut membatasi masyarakat pedesaan dalam pemanfaatan energi kayu api dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.&lt;br /&gt;Dari segi kebersihan akan didapatkan energi biogas dapat juga menghasilkan energi. Yang bermutu tinggi, sementara menghasilkan peralatan yang dipakai tetap bersih, sehingga tingkat kesehatan masyarakat pun akan meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Energi Surya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini konsep dasar tentang cahaya yang dianut ilmuwan adalah konsep dualisme cahaya. Dalam pemahamannya cahaya merupakan partikel yang disebut kuanta-kuanta sebagai pembawa energi, di lain pihak dianggap sebagai gelombang elektromagnetik yang dari suatu tempat dan sumbernya akan memindahkan energi ke tempat yang dilaluinya. Konsep ini membuka tabir adanya efek photon listrik yang kemudian mengilhami adanya teknologi energi surya, dengan sel-sel surya (panel surya). Bahkan terlihat adanya saling mendukung antara kedua konsep tersebut. Dengan anggapan kuanta energi pada jalaran cahaya akan memudahkan penjelasan adanya paket-paket energi yang memiliki massa sehingga akan memiliki momentum bila menumbuk logam dan menjadikan muatan bebas pada logam bergerak karena adanya energi kinetik setelah tumbukan. Aliran partikel bermuatan bebas yang dikenal sebagai elektron itu, merupakan aliran listrik yang bisa dimanfaatkan seperti listrik yang dipakai sehari-hari.&lt;br /&gt;Besarnya energi oleh Planck, kemudian dapat ditentukan, karena setiap kuanta energinya hanya ditentukan oleh frekuensinya, yang juga merupakan salah satu parameter gelombang. Dengan demikian dalam penentuan energi kuantanya ini kedua isme baik konsep partikel maupun konsep gelombang saling menguatkan. Besar setiap energi kuanta tersebut adalah “Ep = hf” dengan Ep adalah energi kuanta photon, h adalah konstanta Planck = 6,6 x 10^-34 Js dan f adalah frekuensi gelombang cahaya dalam hertz. Apabila energi photon ini melebihi dari fungsi kerja logam yang ditumbuk akan terjadi photon listrik yang kita kenal sebagai energi surya.&lt;br /&gt;Untuk Indonesia yang berkondisi banyak daerah dan pulau terpencil, serta berada di daerah khatulistiwa, teknologi surya ini merupakan salah satu alternatif dalam mempercepat program listrik masuk desa, yang akan membantu lebih cepatnya pemerataan pembangunan maupun informasi yang umumnya sangat tergantung pada listrik ini. Kondisi negara kita lebih menguntungkan bila dibandingkan dengan negara-negara subtropik maupun negara-negara yang berada di lintang tinggi karena Indonesia mengalami matahari bersinar sepanjang tahun. Lama rata-rata penyinaran matahari seperti yang didapat dari hasil penelitian seorang pakar radiasi BMG, Sasmito (1986) yaitu lama matahari bersinar rata-rata di atas 50 persen lama matahari bersinar maksimum (12 jam) seharinya.&lt;br /&gt;Ini didapat analisis data pengamatan lama penyinaran matahari yang diamati dari hari ke hari dengan alat seperti terlihat pada gambar yang terpasang pada stasiun-stasiun meteorologi yang dikelola BMG. Teknologi ini sudah diujicobakan pada desa surya yaitu desa Sukatani, Sukabumi tahun lalu oleh BPPT sebagai pilot projek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penganekaragaman&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bila belajar dari pengalaman tentang adanya gejala krisis listrik yang dialami enam daerah yang dipasok PLN yang mengandalkan hampir sebagian besar sumber dayanya dari pembangkit dengan bahan bakar fosil dan tenaga air, sudah saatnya penganekaragaman sumber energi untuk pembangkit listrik, yang kondisinya sangat mungkin untuk dikembangkan.&lt;br /&gt;Memperbanyak pengeksplorasian sumber energi panasbumi, energi surya, rupanya akan mampu mempercepat program listrik masuk desa dan mengurangi dampak pencemaran akibat limbahnya, karena kedua sumber energi ini dapat dikatakan bebas limbah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dimuat di harian Suara Pembaruan&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-4618557571658341715?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/4618557571658341715/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/04/melirik-kemungkinan-sumber-energi-baru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/4618557571658341715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/4618557571658341715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/04/melirik-kemungkinan-sumber-energi-baru.html' title='Melirik Kemungkinan Sumber Energi Baru'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-8357976907169131573</id><published>2010-04-16T15:59:00.000-07:00</published><updated>2010-04-16T15:59:31.746-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cuaca'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gempa'/><title type='text'>Padang Memang Rawan Gelombang Pasang</title><content type='html'>Gelombang pasang dan angin putting beliung (badai lokal) melanda daerah Padang (Sumbar), Sabtu malam (28/12/91). Dari lokasi kejadian dilaporkan 33 rumah penduduk dan sebuah bangunan SD rusak akibat kejadian itu.&lt;br /&gt;Gelombang pasang naik hingga ketinggian lima sampai tujuh meter menghajar pemukiman penduduk Ujungkarang, Kecamatan Padang Utara, Kodya Padang. Sedangkan angin putting beliung memporak-porandakan kawasan perumahan murah Perumnas di Siteba, Kecamatan Nanggalo, Kodya Padang. Total kerugian dari kedua kejadian ini sementara diduga mencapai Rp. 50 juta.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Gelombang pasang merupakan kejadian peninggian permukaan air laut. Ia menyandang banyak nama yang dikaitkan dengan faktor penyebabnya. Dia dikenal dengan nama tidal wave, seismic sea wave, teremoto (Spanyol), tsunami (Jepang). Karena Jepang merupakan negara yang paling sering dilanda kejadian ini, dengan skala besar memiliki data yang sangat lengkap, menyebabkan nama tsunami dikenal.&lt;br /&gt;Gelombang pasang yang baru saja menimpa pesisir daerah Padang ini, boleh jadi lebih mengungkap cakrawala beberapa pengamat yang selalu mengaitkannya dengan kejadian gempa bumi bawah laut. Seperti pernah ditanyakan seorang meteorolog dari negara tetangga Maladewa (Malee) kepada BMG beberapa tahun silam.&lt;br /&gt;Dalam pertanyaannya itu ia menanyakan apakah ada gempa bumi yang terjadi di daerah barat laut Aceh bersamaan waktunya dengan tergenangnya daerah pantai Maladewa selama beberapa hari. Setelah dicek pada rekaman semua pencatat gempa BMG ternyata pada kejadian itu tidak satu pun gempa di daerah tersebut.&lt;br /&gt;Kejadian itu memperkuat hasil penelitian penulis yang pernah dipublikasikan melalui harian daerah Sumber Haluan beberapa tahun silam.&lt;br /&gt;Penulis temukan bahwa daerah Padang merupakan daerah rawan tsunami, selain terancam aktivitas gempa bumi.&lt;br /&gt;Keunikan lain tsunami yang menyerang pesisir Padang yakni penyebabnya sungguh bervariasi, seperti akibat gempa bumi bawah laut, gejala vulkanisme, serta akibat ikutan dari cuaca buruk. Ketiga kejadian terkait tersebut penulis ulas di bawah ini serta keterkaitannya dengan posisi daerah Padang secara khusus maupun daerah pesisir barat Sumatera umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Fisika Klasik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mekanisme blok pada proses gempa bumi, yang membentuk patahan pada kulit bumi lantai laut/samudera, sangat menentukan terjadinya tsunami yang menyertai gempa bumi bawah laut. Dua dari banyak mekanisme yang dapat memicu tsunami tersebut adalah mekanisme normal dan mekanisme mendatar dari blok tersebut.&lt;br /&gt;Mekanisme normal merupakan mekanisme dengan gerakan blok gayutan (hanging block) bergerak turun relatif terhadap blok kaki (foot block), atau sebaliknya gerakan blok kaki relatif naik terhadap blok gayutan.&lt;br /&gt;Mekanisme ini pada proses gempa bumi memaksa massa air laut turun masuk ke perut bumi bersamaan dengan gerakan turun blok. Namun akibat sifat elastik kulit bumi yang segera berupaya normal kembali setelah energi stress terlepas memaksa massa air laut muntah kembali dari perut bumi dan bila daerah pantai yang dihadapinya sebagai areal muntahan pasti tsunami akan terjadi.&lt;br /&gt;Pendapat tersebut didasari teori mendasar tentang teori elastik rebound dari Reid (1906) tentang gempa bumi sebagai proses pelepasan energi elastik dari stress pada kulit bumi. Kelakuan surutnya air laut sebelum tsunami sangat sering mengecoh warga pantai dan menambah korban jiwa. Pada waktu surut mereka tidak menyadari akan segera disusul pasang. Mereka asyik memungut ikan yang kandas tertinggal air di pasir. Saat keasyikan tersebut, yang sampai jarak relatif jauh dari pantai, mereka tiba-tiba diserang tsunami dan terbawa hanyut olehnya. Kejadian serupa pernah dialami di pantai Lomblen, NTT.&lt;br /&gt;Kecepatan gelombang laut pada saat menerpa pantai sangat ditentukan kedalaman air laut setempat serta besar percepatan gravitasi di mana gempa bumi itu terjadi. Secara sederhana biasa dihitung dengan konsep kekekalan energi mekanik pada fisika klasik, yaitu kesetimbangan antara energi potensial dan energi kinetik. Kemudian secara sederhana ditulis V = SQR (g x d); V : kecepatan gelombang pasang surut, g : percepatan gravitasi setempat, serta d : kedalaman air laut setempat.&lt;br /&gt;Sebagai contoh bila gempa bumi yang terjadi pada dasar laut dengan kedalaman lima km, serta percepatan gravitasi 980 cm per detik kuadrat, maka kecepatan gelombang pasang yang terjadi adalah 800 kilometer per jam. Kalau periode tsunami yang terjadi 15 menit, maka panjang gelombangnya akan 200 km.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Disayangkan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mekanisme mendatar blok patahan pada saat gempa bumi diyakini belakangan ini sejak para pakar oseanografi Amerika Serikat secara gemilang dapat membuktikannya secara laboratorium dengan simulasi gempa bumi bawah laut. Pembuktian tersebut sedang uji lapangan sebenarnya. Masuk akal jika belum dianut secara luas oleh kalangan seismolog.&lt;br /&gt;Posisi pantai Padang merupakan bagian dari pantai barat Sumatera Hindia, di mana bersemayam daerah penunjaman palung Jawa-Sumatera yang merupakan generator gempa, karena merupakan pertemuan lempeng Hindia-Australia dengan lempeng Asia Tenggara. Dari catatan data yang ada belasan tsunami pernah terjadi di sana.&lt;br /&gt;Daerah penunjaman tersebut memiliki blok gayutan pada sisi barat Sumatera menjadikan sepanjang pantai barat Sumatera secara terbuka menghadang tsunami mengikuti gempa bumi dasar laut di daerah penunjaman tersebut. Karena besarnya ombak Samudera Hindia menjadikan masyarakat jarang menyadari kehadiran tsunami tersebut, padahal pada catatan alat terekam kejadiannya.&lt;br /&gt;Pantai barat Sumatera yang sering dilanda tsunami, hanya ditunjukkan oleh data yang ada pada periode sebelum Indonesia merdeka, mengundang tanda tanya pengamat. Apakah memang tidak pernah diamati masyarakat ataukah masyarakat tidak pernah melaporkan kejadiannya? Padahal data itu sangat dibutuhkan dalam perekayasaan bangunan pantai seperti dermaga. Jangan sampai terjadi seperti pembangunan dermaga Pulau Bay yang termakan ombak sebelum selesai pembangunannya.&lt;br /&gt;Dari catatan tsunami, pantai yang tercatat pernah mengalaminya adalah pantai Lais, Sibolga, Padang, Teluk Bayur, Pulau Bay, pantai Kepulauan Mentawai, Siberut sampai Nias. Sehingga kurangnya data pascakemerdekaan sebenarnya sangat disayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Produk Ikutan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sebagai produk ikutan proses penunjaman antarlempeng tektonik pasti akan terbentuk gugus kepulauan vulkanik yang juga sering disebut gugus kepulauan gunung api atau island arc. Demikian pula untuk penunjaman sepanjang barat Sumatera membentuk proses ini. Sehingga terbentuk gugus kepulauan sepanjang sebelah barat Sumatera, yaitu kepulauan yang sejajar garis pantai diapit jalur penunjaman dan Pulau Sumatera.&lt;br /&gt;Namun perlu diingat bahwa gugus kepulauan vulkanik tidak selalu menunjukkan gejala gunung api meletus ke permukaan, karena tidak semua magma mencapai permukaan walaupun sepanjang sejarah geologi kawasan Sumatera menunjukkan aktivitas tektonik yang sangat tinggi. Hal ini ditunjukkan oleh pergeseran arah Sumatera yang perlahan tapi pasti dari arah awal yang sejujur dengan arah Jawa-Nusa Tenggara.&lt;br /&gt;Gaya tektonik akibat lempeng Hindia-Australia ke arah timur laut terhadap lempeng Asia Tenggara menjadikan arah Sumatera meninggalkan arah Jawa-Nusa Tenggara. Selain itu dorongan ini menyebabkan robeknya kulit bumi pada daerah Selat Sunda di mana Gunung Krakatau berada. Gunung ini banyak dikenal dan diminati para pakar mancanegara, karena letusannya yang dahsyat pada tahun 1883.&lt;br /&gt;Gelombang pasang Krakatau yang terjadi 27 Agustus 1883 itu, saking dahsyatnya, dilaporkan menenggelamkan lebih dari 3000 masyarakat pantai. Korban ini merupakan korban tsunami, dampak sekunder letusan Krakatau dan bukan korban langsung letusan.&lt;br /&gt;Tsunami ini karena tekanan tinggi magma yang keluar serta mekanisme kulit bumi yang terdesak terobosan magma di areal Krakatau. Aktivitas Krakatau sampai saat ini tetap berlangsung terbukti dengan lahirnya anak-anak Krakatau serta pergeseran puncak anak Krakatau tersebut.&lt;br /&gt;Selain ikut terancam akibat letusan Krakatau itu, maka ancaman letusan vulkanik yang dapat memicu kehadiran tsunami di sepanjang barat Sumatera, termasuk Padang, dapat datang dari gugus vulkanik yang ada di sebelah barat Sumatera sebagai produk ikutan aktivitas tektonik di sepanjang jalur penunjaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dampak Cuaca Buruk&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Keterkaitan antara kenaikan permukaan air laut dengan cuaca hampir setiap hari kita ikuti melalui informasi prakiraan cuaca di berbagai media massa yang bersumber dari hasil analisis data BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika). Hal ini sangat mudah dipahami mengingat atmosfer di mana cuaca terbentuk bersentuhan langsung dengan permukaan laut, terlebih Indonesia yang sebagian besar wilayahnya adalah laut. Sehingga iklim Indonesia pun sering disebut iklim tropis.&lt;br /&gt;Proses utama yang terkait yang terjadi di atmosfer sebagai pembentuk cuaca dengan proses perubahan permukaan laut, terlebih Indonesia yang sebagian besar wilayahnya adalah laut. Sehingga iklim Indonesia pun sering  disebut iklim laut tropis.&lt;br /&gt;Proses utama yang terkait yang terjadi di atmosfer sebagai pembentuk cuaca dengan proses perubahan permukaan air laut antara lain perubahan dan perbedaan tekanan udara (bar) yang membentuk angin sebagai pergerakan massa udara. Akibat friksi antara massa udara yang bergerak dengan permukaan air laut yang ada di bawahnya menentukan paras muka air laut tersebut.&lt;br /&gt;Selain itu peran gaya geser (shear) tidak dapat diabaikan dalam perubahan muka air laut. Gaya ini merupakan produk dari gaya yang bekerja antara dua lapisan yang saling bergerak, seperti udara dan air laut. Keadaan ekstrem keadaan tersebut sangat berbarengan atau membentuk cuaca buruk, sehingga peningkatan permukaan air laut, seperti pasang yang baru saja terjadi di Padang, secara gampang dikatakan bahwa kehadirannya dikaitkan dengan cuaca buruk.&lt;br /&gt;Angin putting beliung (badai lokal) yang terjadi juga menerjang perkampungan perumahan murah Perumnas yang bersamaan dengan turunnya hujan lebat itu adalah manifestasi cuaca buruk. Kehadirannya merupakan produk dari adanya gradien tekanan yang terjal secara lokal yang menghabiskan energinya di darat di bibir pantai.&lt;br /&gt;Karena posisi Padang yang berada di khatulistiwa yang memiliki lintang rendah mengakibatkan gaya coriolis yang berperan dalam kehadiran badai (tropis) tidak berperan karena kekuatannya sangat lemah mendekati tiada. Hal ini boleh membuat tenang membuat tenang masyarakat setempat, karena tidak akan pernah mengalami badai yang berskala tinggi, seperti di Filipina, paling-paling badai lokal seperti yang menyerang Siteba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sistem Peringatan Dini&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa pertemuan yang terkait di bahas penanggulangan bencana. Usul pemasangan sistem peringatan dini terhadap tsunami di sepanjang pantai barat Sumatera rupanya belum pernah tuntas dibahas.&lt;br /&gt;Namun menurut hemat penulis walaupun daerah ini secara historikal data sering diterjang tsunami, bahkan faktor pemicunya cukup lengkap, seperti gempa bumi, vulkanisme, dan cuaca buruk, tetapi sistem itu belum perlu dipasang seperti yang dilakukan di Pasifik dengan pusatnya di International Tsunami Information Centre, Hawaii.&lt;br /&gt;Hal itu disebabkan skala kekuatan serta daerah yang dilanda masih sangat lokal serta frekuensinya masih jarang. Namun untuk menghindari kemungkinan jatuh korban serta kerugian yang lebih parah dikemudian hari perlu digalakkan pembangunan pantai yang mampu mengantisipasi gelombang pasang ini.&lt;br /&gt;Untuk Sumatera Barat sejenis rumah panggung kayu sangat cocok dalam mengantisipasinya. Dinas PU setempat pasti punya program untuk itu. Hanya pendekatan kepada masyarakat pantai itu yang perlu dipelajari.&lt;br /&gt;Apalagi kerusakan rumah yang diterjang gelombang pasang baru-baru ini dilaporkan merupakan bangunan semipermanen penduduk pantai Ujungkarang, Padang Utara. Sehingga semboyan di laut kita jaya dari Korps TNI-AL juga berlaku di pantai pun kita jaya bagi pemukiman pantai yang biasa dihuni para nelayan terhadap kemungkinan serangan tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dimuat di harian Suara Pembaruan edisi Minggu tanggal 12 Januari 1992.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-8357976907169131573?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/8357976907169131573/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/04/padang-memang-rawan-gelombang-pasang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/8357976907169131573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/8357976907169131573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/04/padang-memang-rawan-gelombang-pasang.html' title='Padang Memang Rawan Gelombang Pasang'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-1475741714042606308</id><published>2010-04-05T14:11:00.000-07:00</published><updated>2010-04-05T14:11:20.093-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lingkungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cuaca'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iklim'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gempa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iptek'/><title type='text'>Yang Lokal Tak Kalah Penting Dari Yang Global</title><content type='html'>Bulan Juni 1992 merupakan bulan yang mungkin akan membawa sejarah baru, sebagai tonggak sejarah dalam permasalahan lingkungan hidup. Tanggal 5 Juni merupakan Hari Lingkungan Hidup sedunia yang dikaitkan dengan akan dilaksanakannya Konferensi Bumi (Earth Summit) 1992 di Rio de Janeiro, Brasil.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Banyak persiapan dilakukan masing-masing negara yang kelihatannya akan membuat kutub. Kutub negara-negara berkembang dan kutub negara-negara industri. Masing-masing kutub akan memperjuangkan kepentingannya masing-masing.&lt;br /&gt;Yang jauh-jauh hari telah terdengar saling tuding dalam pengrusakan lingkungan, masalah pemanasan global, sampai masalah perubahan iklim secara global, terutama dalam perannya sebagai sumber pembuang gas karbon oksida (CO2 dan CO) maupun pengrusak lapisan ozon. Serta mempersiapkan bahan-bahan dan strategi masing-masing.&lt;br /&gt;Bila mengikuti perdebatan tersebut, kita bisa bingung. Terutama bila kita berada di pihak yang netral saja. Terlebih lagi bila kita mengikuti berbagai macam pernyataan yang satu sama lain sama-sama berdasar dan sama-sama memiliki kelemahan yang fatal dapat menjatuhkan masing-masing.&lt;br /&gt;Demikian pula pernyataan para pakar di Indonesia yang kelihatannya sangat ditentukan oleh kiblat acuan teori mereka nampaknya saling kontradiksi satu sama lain. Sehingga dapat membuat masyarakat awam makin bingung, seakan berdiri di persimpangan yang sulit menentukan arah yang akan dituju.&lt;br /&gt;Berkaitan dengan kejadian tersebut penulis mengajak pembaca ikut menengok beberapa pendapat yang terkait dengan permasalahan lingkungan yang memang agak bertentangan satu sama lainnya, baik dari data yang didapat maupun dari teori yang dipakai dasar pernyataan. Khususnya untuk masalah yang terkait dengan perubahan iklim, pemanasan global, serta lingkungan kita pada lingkup yang lebih sempit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tidak Cukup Kuat&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;Dua data yang banyak dilangsir dari Tanah Air tentang adanya pemanasan global, yang merupakan dampak dari efek rumah kaca (ERK) adalah adanya trend peningkatan suhu udara permukaan di beberapa daerah di Indonesia, khususnya di sepanjang pantai utara Jawa. Serta meningkatnya permukaan laut yang diamati dari tahun ke tahun di pantai sekitar Laut Jawa.  &lt;br /&gt;Data malar hasil peramatan suhu udara di Jakarta, misalnya, dari tahun ke tahun menunjukkan gejala meningkat. Bila kita mendasarkan adanya pemanasan global dengan peningkatan suhu perkotaan ini, maka kita akan kecewa karena pengamatan data yang sama untuk kota Medan (yang sama-sama menjadi kota urban) menunjukkan gejala menurun walau tidak sedrastis kenaikan suhu Jakarta.&lt;br /&gt;Hampir semua data terakhir untuk pantai yang bersisian dengan Laut Jawa terlihat adanya kenaikan paras muka air laut sampai 0,5 cm pertahun. Bila berpegang pada pakem skenario dampak pemanasan global akibat ERK maupun pengrusakan lapisan ozon, maka segera dapat dikatakan hal itu sebagai bagian darinya. Bukti nyata kejadian ini gampang dilihat dengan semakin jauhnya dari garis pantai kota Semarang yang pada peta zaman dahulu persis berada di tepi pantai.&lt;br /&gt;Teori yang sama juga dipakai dasar oleh seorang pakar lingkungan di Indonesia untuk memperkirakan pada awal abad mendatang (bila skenario itu memang berjalan) akan naiknya garis pantai yang akan menenggelamkan sebagian Irian Jaya yang kita kenal memiliki paras yang sangat menonjol tersebut dibandingkan dengan pulau lainnya.&lt;br /&gt;Namun bila kita melihat apa yang diamati di perairan Ambon terhadap paras muka laut akan kita jumpai hal yang bertentangan. Yaitu adanya penurunan muka air laut. Hal ini membuat kita semakin kecewa dengan teori itu. Padahal secara teori maupun skenario pemanasan global dikatakan bahwa paras permukaan laut khatulistiwa akan mengalami kenaikan. Sedangkan es di daerah kutub mengalami pencairan.&lt;br /&gt;Hal kenaikan paras muka air laut itu belakangan, rupanya, banyak diragukan karena dalam perhitungan skenarionya hanya memakai perhitungan numerik dengan simulasi komputer. Sudah kita maklumi hal itu untuk memudahkan masalah dengan berbagai penyederhanaannya sehingga menyimpang dari persamaan matematika yang memang sangat kompleks.&lt;br /&gt;Dari Tanah Air yang secara kontroversial meragukan, bahkan menentang, teori dan skenario tersebut, terdengar dari Yogyakarta yaitu dari seorang pakar energi yang mengembangkan tungku hemat energi, yaitu Prof. Johannes. Dia juga banyak mengomentari perdebatan seru antar negara berkembang yang hendak bermufakat menghadapi negara industri maju di Earth Summit 1992.&lt;br /&gt;Jadi dua masalah yang sering diangkat ke permukaan bertalian dengan ERK dan pemanasan global yang diamati di Indonesia rupanya masih tidak cukup kuat dalam mendukung skenario yang dikaitkan dengan meningkatnya gas rumah kaca, kerusakan ozon itu. Terlebih lagi dengan simulasi komputasi yang dilakukan dalam membuat dasar skenario itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ibarat Judi “Ceki”&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;Kerusakan lapisan ozon (O3) – yang merupakan selimut planet Bumi dari sengatan sinar ultraviolet – juga banyak dibicarakan para pakar lingkungan. Sama halnya dengan data yang terpantau di Indonesia. Untuk lapisan ozon yang dikatakan lubangnya semakin melebar ini akibat ulah konsumtif penghuni bumi dengan pemakaian flour dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kosmetika maupun obat semprot, alat pendingin dalam mengatasi kepanasan udara merupakan penghasil CFC ke atmosfer.&lt;br /&gt;Banyak pakar kebumian dan antariksa meragukan hasil temuan ini mengingat teknologi satelit yang digunakan dalam pemantauan lapisan ozon ini berkembangnya relatif baru. Sehingga sebagai bahan studi perbandingan sangat sulit melihatnya. Evolusi perkembangan lubangnya sangat sulit dibandingkan, karena tidak adanya acuan dari tahun-tahun lampau. Beberapa pakar menduga keadaan tersebut sudah demikian dari dulu.&lt;br /&gt;Bahkan beberapa pakar memperkirakan lapisan ozon tersebut memiliki lubang yang berkontraksi yang besarnya selalu berubah. Bisa semakin besar pada suatu periode dan bertambah kecil kembali dalam periode lainnya. Terlebih lagi mereka yang berbasis fisika. Mereka akan selalu menganut teori kesetimbangan. Dengan bertambah besarnya di satu sisi, berarti ada yang bertambah kecil pada sisi lainnya.&lt;br /&gt;Demikian pula halnya dengan kerusakan lapisan ozon ini. Rupanya masih diperlukan waktu serta acuan dalam menjadikannya argumentasi dalam menuding sifat konsumerisme masyarakat dalam pencipta CFC di atmosfer. Kalaupun itu benar adanya, masalahnya pun tidak akan berhenti cukup sampai di sana. Tentu akan berbuntut lebih panjang, masih mencari dosa siapa, apakah dosa si produsen atau dosa di konsumen.&lt;br /&gt;Ini akan sama rumitnya dengan pelarangan judi domino atau ceki. Permainannya sebagai judi dilarang, tetapi pabrik kartunya jalan terus. Ya tidak akan mencapai hasil maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Genderang Perang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, di tengah isu pemanasan global yang masih diperdebatkan, sebenarnya secara perlahan namun pasti sungguh banyak masalah lingkungan yang masih perlu mendapatkan perhatian serta prioritas yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;Lihat saja kasus pencemaran air sungai akibat pembuangan limbah cair oleh industri yang sangat banyak jumlahnya mendapat peringatan dalam gebrakan Menteri KLH belum lama ini. Sudah jelas kasus ini akan berdampak pada laju pembangunan kita. Kasus pencemaran sungai itu jelas akan mempengaruhi kualitas air sungai yang masih kita akui merupakan sumber air utama masyarakat kita, akibat kemampuan PDAM dalam menyediakan air bersih masih rendah.&lt;br /&gt;Yang paling mencolok dan menjadi topik masalah lingkungan kita adalah limbah padat perkotaan atau sampah yang merupakan masalah yang akan kronis karena masa inkubasinya sangat panjang. Tidak mustahil akan dihadapi hampir semua daerah urban di Indonesia, sehingga perlu penanganan serius. Dan gerakan “Peduli” yang dicanangkan belakangan ini merupakan langkah yang patut diacungi jempol.&lt;br /&gt;Selain itu masalah kebakaran hutan tropis di Kalimantan, yang hampir setiap tahun kita alami secara berkepanjangan, secara perlahan akan menggerogoti hutan di sana. Ini mengisyaratkan betapa ketinggalannya armada kebakaran kita dalam usaha pemadaman secara cepat proses kebakaran itu. Ini merupakan contoh lain lingkup kecil masalah lingkungan yang sampai saat ini belum dapat kita pecahkan.&lt;br /&gt;Ketiga hal tersebut masih merupakan contoh lingkup kecil dalam masalah lingkungan hidup yang kalau kita inventarisasikan akan menjadi deretan panjang. Selain tentunya masalah lingkungan kita yang tak terpisahkan dengan masalah lingkungan global.&lt;br /&gt;Semuanya itu mengingatkan kita, khususnya pengelola masalah lingkungan, terlebih yang terkait dengan Earth Summit, untuk tidak selalu memandang masalah lingkungan secara global saja mentang-mentang era globalisasi. Dan hendaknya selalu mewaspadai permasalahan lingkungan pada lingkup yang lebih kecil sehingga penanganannya pun tentu akan lebih sederhana.&lt;br /&gt;Secara nasional, dengan langkah Menteri KLH yang memulai dari penertiban masalah pencemaran air sungai, kelihatannya program Prokasih (dan akan dilanjutkan dengan penertiban pencemar lainnya terhadap pencemar lingkungan laut dan udara di tahun-tahun mendatang) rupanya merupakan usaha yang mengarah ke sana.&lt;br /&gt;Namun untuk daerah belum begitu terdengar gaungnya, padahal setiap daerah sudah ada Biro BLKH-nya. Mudah-mudahan saja genderang perang terhadap pencemar lingkungan yang sudah dikumandangkan Menteri KLH juga dilanjutkan biro-biro KLH di daerah, tentu saja dengan Bapedal daerah yang sudah dimilikinya.&lt;br /&gt;Dan pada kesempatan ini tidaklah salah bila kita ucapkan Selamat Hari Lingkungan Hidup, semoga kita tetap setimbang, serasi, dan selaras dengan lingkungan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dimuat di harian Sinar Harapan tanggal 31 Mei 1992.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-1475741714042606308?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/1475741714042606308/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/04/yang-lokal-tak-kalah-penting-dari-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/1475741714042606308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/1475741714042606308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/04/yang-lokal-tak-kalah-penting-dari-yang.html' title='Yang Lokal Tak Kalah Penting Dari Yang Global'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-5437808574347055175</id><published>2010-04-04T19:37:00.000-07:00</published><updated>2010-04-04T19:37:39.751-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gempa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iptek'/><title type='text'>Bangunan Tahan Gempa : Bagaimana Standarnya?</title><content type='html'>Dari segi geografis letak negara kita sangat menguntungkan karena diapit dua benua juga dua samudera sehingga dipengaruhi dua sistem monsoon dalam satu tahun yang berakibat adanya dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau silih berganti. Karena berbagai faktor hal ini juga dapat mendatangkan musibah seperti kekeringan dan banjir sebaliknya dari segi seismisitas negara kita tidak menguntungkan. Karena terletak pada lintasan atau pertemuan dua jalur gempa besar dunia. Yaitu jalur gempa Alpide atau Mediterania dan jalur gempa Pasifik.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setidak-tidaknya demikian menurut beberapa orang sarjana. Gambaran lebih mantap dan sederhana adalah sebutan jalur Asia dan jalur Pasifik.&lt;br /&gt;Jalur yang pertama lewat Asia bagian Selatan terus Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara dan laut Banda dan bertemu dengan jalur gempa yang kedua yang melingkari Lautan Pasifik lewat Jepang, Filipina, Utara Sulawesi dan terus Laut Banda. Kedua jalur ini termasuk jalur gempa yang aktif yang merupakan pertemuan lempeng pembentuk kulit bumi yang satu sama lainnya saling bertumbukan. Teori muutakhir yang dianut para ahli gempa mengatakan bahwa akibat tumbukan kulit bumi (lempengan) itulah terpancarkan energi yang dimanifestasikan sebagai gempa bumi. Dengan demikian tidaklah mustahil bila negara kita sering mengalami gempa bumi, yang belakangan ini dirasakan meningkat dan mengakibatkan korban jiwa maupun materi. Korban jiwa yang terjadi pada umumnya dialami akibat tertimbun reruntuhan bangunan. Sehingga untuk mengurangi korban dimasa mendatang timbulah ide menuju ke pembangunan bangunan yang tahan terhadap goncangan gempa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bangunan Tahan Gempa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Adanya musibah gempa yang bertubi-tubi belakangan ini menimpa negara kita sehingga timbullah berbagai masalah dan kekhawatiran terhadap bencana yang lebih dahsyat akibat gempa bumi dimasa mendatang.&lt;br /&gt;Belakangan ini tersiar kabar bahwa para ahli perencana bangunan dari ITB telah merancang salah satu bangunan SD tahan gempa di daerah Garut, Jawa Barat yang baru-baru ini juga terkena musibah gempa. Juga mereka menghimbau pemerintah untuk mengadakan pengujian bangunan, sejauh mana bangunan tersebut tahan terhadap gempa. Himbauan itu merupakan suatu ide yang baik sekali, akan tetapi timbullah sekarang pertanyaan baru sebagai berikut :&lt;br /&gt;Standard apakah yang akan dipakai untuk menentukan ketahanan bangunan itu itu terhadap gempa, sebab taraf kegempaan setiap daerah tidaklah sama. Bila misalnya bangunan yang diuji kekuatannya tidak memenuhi standard apakah bangunan itu akan dibongkar? Kalau tidak maka para penghuni bangunan itu akan cemas sehingga nantinya bila terjadi goncangan gempa yang kecil saja terhadap rumah itu, mereka akan panik. Hal ini bisa menambah persoalan ataupun korban, padahal bangunan itu masih kuat bertahan, karena goncangan tersebut jauh lebih kecil dari standard yang telah ditetapkan untuk pengujian sebelumnya. Maka standard mutlak sangat menentukan keberhasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Merencana, merancang, dan menguji bangunan tahan gempa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Berbicara soal bangunan tahan gempa sebaiknya kita melihat persoalannya jauh sebelum bangunan tersebut dibangun. Untuk itu penelitian lokasi sangat menentukan dimana suatu bangunan hendak didirikan. Pada daerah yang hendak dibangun diteliti dulu kondisi daerah terutama masalah yang ada kaitannya dengan kegempaan, maupun struktur tanah pada daerah itu. Yang berhubungan dengan masalah kegempaan biasa diteliti antara lain Percepatan maksimum tanah setempat. Beberapa cara yang telah diterapkan di Jepang adalah antara lain cara Kanai, cara Kawashumi dan lain-lain.&lt;br /&gt;Cara yang biasa diterapkan juga adalah cara yang mempergunakan data historis gempa ditahun-tahun sebelumnya dan pemetaan epik dari gempa sebelumnya, untuk daerah sekitar lokasi yang hendak dibanguni bangunan tahan gempa tersebut.&lt;br /&gt;Dari data historis gempa akan dapat diketahui periode ulang dari suatu gempa besar yang biasa terjadi di daerah itu, tentunya dalam batas perhitungan statistik tertentu. Juga percepatan maksimum tanah yang pernah dialami untuk daerah itu sebagai pendekatan dalam merencana bangunan karena biasanya kerusakan yang akan diderita suatu daerah tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Dengan kedua hal tersebut diatas dapat ditentukan kekuatan dan umur bangunan yang ideal untuk daerah tersebut, seefektif dan seefisien mungkin karena untuk masing-masing daerah akan didapat standard bangunan yang berbeda pula. Data historis juga akan memberikan sifat maupun karakter gempa yang biasa terjadi di daerah tersebut, sehingga para perencana dapat menyesuaikan bangunan mereka yaitu apakah bangunan itu dirancang untuk goncangan yang berulang-ulang, ataukah suatu goncangan tiba-tiba dan sangat kuat misalnya. Hal ini sangat erat hubungannya dengan segi pembiayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pemetaan Epik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Apabila pusat-pusat gempa (epik) dimasa lalu dipetakan maka dari sana akan terlihat keaktifan dan penyebaran (distribusi) dari keaktipan gempa di daerah tersebut yang sangat menentukan perkembangan keaktipan selanjutnya. Ada teori yang mengatakan bahwa di daerah jalur gempa yang sudah lama tidak menunjukkan keaktipan yang disebut masa tenang, suatu saat akan menunjukkan keaktipan lagi dengan kekuatan yang jauh akan lebih besar.&lt;br /&gt;Besarnya kekuatan gempa merupakan fungsi dari waktu. Semakin lama masa tenang ini maka kekuatan gempanya akan makin besar. Makin lama masa tenang ini berarti makin besar energi yang terkumpulkan pada daerah tersebut sehingga stress yang terjadi pada saat mencapai puncaknya (peak stress) itu sangat besar. Ini berarti bahwa energi yang dipancarkan pada stress peak ini juga besar. Gempa bumi merupakan pelepasan dari energi stress yang mencapai puncaknya. Makin besar energi yang dilepas berarti makin kuat pula gempanya. Sehingga jelas sekali, bila masa tenang ini lama maka kemungkinan gempa yang terjadi di masa mendatang juga akan lebih besar.&lt;br /&gt;Maka untuk pelaksanaan pembangunan tahan gempa perlu pula meninjau keaktipan disekitar daerah lokasi, karena untuk daerah yang dibangun itu bukan saja dipengaruhi keaktipan di daerah itu saja, melainkan akan bisa terganggu akibat pengaruh gempa kuat yang akan terjadi walaupun epiknya agak jauh dari lokasi. Dengan demikian apa yang diharapkan dalam bangunan tahan gempa ini akan terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Standar yang berbeda-beda&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bila hal tersebut telah diteliti disamping faktor lainnya dari segi geologi dan lain-lain sudah mendapatkan perhatian seperlunya maka akan didapatlah untuk masing-masing daerah suatu standard bangunan tahan gempa yang berbeda antara daerah yang satu dengan yang lainnya dan mungkin juga akan ada suatu daerah terlarang untuk tipe bangunan yang tertentu. Hal ini akan sangat memudahkan para pelaksana maupun perencana dan perancang bangunan untuk mengambil kesimpulan sehingga bangunan yang akan dibangun nantinya hasilnya sesuai dengan apa yang diharapkan dan tidak terjadi kesalah tafsiran terutama dalam soal pembiayaan yang biasanya sangat berpengaruh terhadap para pelaksanaan pembangunan itu.&lt;br /&gt;Setelah bangunan yang direncanakan itu selesai, barulah tiba giliran untuk mengadakan pengujian terhadap bangunan itu, yang mana akan melibatkan suatu team dari berbagai bidang yang mengerti masalah bangunan maupun kegempaan. Untuk menetapkan apakah bangunan itu telah memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan sebelumnya atau tidak? Bila tak memenuhi syarat langkah atau sangsi apa yang perlu diberikan, tentunya hal ini akan memerlukan peraturan dan perjanjian sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kesimpulan dan saran-saran&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam langkah menuju ke pembangunan bangunan tahan gempa perlu kiranya diadakan standarisasi bangunan untuk setiap daerah di Indonesia, dengan mengadakan penelitian yang seksama terhadap masing-masing daerah karena setiap daerah memiliki karakter, keaktipan yang berhubungan dengan bangunan tahan gempa masing-masing.&lt;br /&gt;Perlunya perencanaan, perancangan dan pengujian terutama untuk bangunan umum maupun bangunan pemerintah, (Jadi bukan pengujian saja) agar tahan terhadap goncangan akibat goncangan gempa bumi yang mungkin akan terjadi di daerah tersebut, mengingat korban jiwa yang biasa terjadi akibat gempa bumi adalah karena tertimbun reruntuhan bangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dimuat di harian Sinar Harapan edisi Selasa tanggal 19 Februari 1980&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-5437808574347055175?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/5437808574347055175/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/04/bangunan-tahan-gempa-bagaimana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/5437808574347055175'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/5437808574347055175'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/04/bangunan-tahan-gempa-bagaimana.html' title='Bangunan Tahan Gempa : Bagaimana Standarnya?'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-8660406660499152159</id><published>2010-04-03T16:05:00.000-07:00</published><updated>2010-04-03T16:05:50.762-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cuaca'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iklim'/><title type='text'>Akibat polusi udara pada gejala cuaca</title><content type='html'>Sering kita mengikuti berita-berita pada media massa tentang gejala alam (gejala cuaca) yang menyimpang dari keadaan-keadaan yang biasa.&lt;br /&gt;Berita-berita tersebut antara lain : Hujan lebat di tengah-tengah musim kemarau yang menyiram ibukota 29 Juli 1980 yang lalu. Curah hujan saat itu di atas 100 mm, merupakan angka di atas normal untuk Jakarta, apalagi saat musim kemarau.&lt;br /&gt;Gelombang panas menimpa Amerika Selatan bagian barat daya, dimana tercatat temperatur berkisar antara 41-44 derajat Celcius, dan 168 korban jiwa karena kepanasan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Berita kekeringan dari Afrika dan daratan RRC mengakibatkan bencana kelaparan karena panen yang gagal, dan korban jiwa tercatat di Uganda akibat kelaparan juga sehingga sebagian dari bantuan dunia tertuju ke daerah kelaparan ini.&lt;br /&gt;Tercatat pula berita masalah banjir yang melanda Eropah tengah, Uni Soviet dan India. Dikatakan di India 150 orang sedikitnya tewas, 1,2 juta hektar tanah pertanian terendam air, serta ribuan rumah roboh akibat banjir. Juga tak ketinggalan berita tentang musim panas yang terdingin dialami di Jepang dalam kurun waktu 78 tahun terakhir ini.&lt;br /&gt;Kejadian-kejadian tersebut, di atas memang aneh bagi para ahli yang berkecimpung di dalamnya karena merupakan penyimpangan dari kejadian-kejadian (gejala-gejala) cuaca yang normal, yang mungkin mempunyai efek yang panjang terhadap pola musim. Iklim, flora, maupun fauna di suatu daerah.&lt;br /&gt;Nah bila demikian halnya, sekarang kita coba tinjau salah satu masalah ruang yang sangat erat hubungannya dengan gejala-gejala cuaca kita yaitu atmosfer kita sendiri. Tentunya bagian yang dekat dengan permukaan bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Komponen Udara dan Zat Pencemar Udara&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Terjadinya banyak penyimpangan di dalam gejala udara (cuaca) itu sangat erat hubungannya dengan konsentrasi dari komponen-komponen penyusun udara tersebut, terutama komponen-komponen asing yang ikut menjadi penghuni udara itu, baik secara temporer maupun secara langgeng.&lt;br /&gt;Dalam keadaan normal komponen-komponen udara terdiri dari: Nitrogen (78,08 pCt), Oxigen (20,95 pCt), Argon (0,93 pCt), Karbon dioxide (0,03 pCt) dan zat-zat lain seperti : Neon, Helium, Methana, Kripton, Oxida Nitrogen, Ozon, Hidrogen, Xenon, Radon dan debu berbentuk partikel-partikel kecil. Ozon walaupun secara kuantitatip sangat kecil jumlahnya di udara namun sangat berperan dalam pembentuk pola cuaca dan bagi kehidupan di bumi. Ozon dapat dikatakan merupakan selimut yang melindungi bumi dari pancaran gelombang sinar matahari yang merusak kehidupan makhluk hidup di bumi. Ozon merupakan hasil reaksi antara ultra ungu dan oxygen. Ozon ini terbesar konsentrasinya pada ketinggian sekitar 30 km. Dengan fungsinya yang sangat penting itu maka apabila kelestarian dari ozon tersebut terganggu maka akan berakibat fatal terhadap pola cuaca pada permukaan bumi. Kalau demikian halnya maka mari kita tinjau terlebih dahulu zat-zat yang dapat mengganggu konsentrasi ozon di udara.&lt;br /&gt;Zat-zat yang dapat merusak kesetimbangan konsentrasi ozon di udara adalah : Zat radioaktip hasil sampingan percobaan-percobaan nuklir, pesawat supersonik, dan zat-zat pencemar udara lainnya seperti Fluorid yang merupakan bahan-bahan sprei yang sedang populer sekarang penggunaannya, misalnya untuk obat nyamuk, minyak rambut, dan lain-lain, walaupun zat-zat yang terakhir ini mempunyai bobot  yang cukup sehingga dalam waktu yang relatif singkat mengendap kembali ke bumi.&lt;br /&gt;Adanya pengrusakan lapisan ozon oleh pencemar-pencemar tersebut di atas, dan bertambahnya polutan (pencemar) di permukaan atau pada udara dekat permukaan karena bertambahnya hasil pembuangan, pembakaran, oleh teknologi maju baik industri maupun kendaraan bermotor, seperti CO2, CO, No, Belerang Oxid, Hydro Carbon, serta dengan debu radioaktip, akan merubah pola cuaca kita dan kemudian akan mempunyai efek lanjutan terhadap pola musim, iklim, flora, dan fauna di permukaan bumi.&lt;br /&gt;Hal lain yang juga sering menyertai polusi udara dekat permukaan adalah : Inversi yang terjadi dekat permukaan yang diakibatkan oleh beberapa zat pencemar yang melayang-layang dekat permukaan antara lain CO2 yang bersifat meneruskan radiasi matahari akan tetapi menyerap radiasi bumi, sehingga terjadilah inversi dimana lapisan udara yang secara teoritis lebih dingin terhadap yang lainnya, karena hal ini maka terjadinya akan terbalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kesimpulan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian singkat di atas dapat dipetik bermacam kesimpulan antara lain : Adanya perubahan pada pola cuaca belakangan ini sangat erat kaitannya dengan pencemaran udara. Pola cuaca yang berubah-ubah ini akan mengakibatkan pola musim yang tak menentu yang akan sangat berpengaruh pada sektor-sektor lain seperti sektor pertanian, kesehatan, perekonomian, dan lain-lain. Dengan demikian untuk negara kita sudah sepantasnya untuk memulai atau lebih menggalakkan lagi penelitian ke arah polusi dan segala efek sampingan yang akan dan mungkin diakibatkannya, mengingat negara kita yang sedang membangun dan mengarah ke penerapan teknologi yang lebih maju lagi, sehingga kemajuan yang kita capai itu tidak menimbulkan bahaya-bahaya yang menjadi masalah di masa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dimuat di harian Suara Karya tanggal 10 November 1980.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-8660406660499152159?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/8660406660499152159/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/04/akibat-polusi-udara-pada-gejala-cuaca.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/8660406660499152159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/8660406660499152159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/04/akibat-polusi-udara-pada-gejala-cuaca.html' title='Akibat polusi udara pada gejala cuaca'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-2666785490161627996</id><published>2010-04-01T15:07:00.000-07:00</published><updated>2010-04-01T15:09:59.663-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gempa'/><title type='text'>Jangan Panik Saat Terjadi Gempa</title><content type='html'>Sebagian besar wilayah Indonesia merupakan daerah aktif gempa bumi yang memiliki tidak kurang dari 21 daerah rawan gempa merusak yang tersebar dari semenanjung Aceh sampai Jayapura di Irian Jaya. Secara urut daerah rawan tersebut adalah daerah rawan gempa merusak Banda Aceh termasuk Sabang, Blangkejeren, Kotacane, Tapanuli, Padang Panjang, dan sekitarnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Bengkulu, Lampung, Jawa Barat bagian selatan, Jawa Tengah bagian selatan, Malang bagian selatan, pesisir utara Jawa Timur bagian barat, Bali-Lombok-Sumbawa Barat, NTT, dan Timor. Lalu ke arah utara menuju Banda, Ambon-Seram, Sanana, Minahasa-Ternate, Teluk Tomini, Majene-Tinambung, Tanjungselor, Tanjungbatu, Yapen-Waropen, serta Kurima di lembah Jayawijaya.&lt;br /&gt;Sebagian besar daerah rawan tersebut belakangan ini menunjukkan aktivitasnya berupa gempa-gempa terasakan hingga merusak, antara lain di daerah Aceh, Majalengka, Yogyakarta, Bali, NTT, Gorontalo. Bahkan ada yang memiliki rentang lama guncangan hingga beberapa minggu, karena diikuti gempa susulan cukup banyak dan lama, seperti yang menimpa daerah Alor dan sekiyarnya di NTT.&lt;br /&gt;Bila kita perhatikan kembali secara seksama, hampir seluruh daerah rawan tersebut merupakan daerah tujuan wisata yang menjadi program pemerintah dalam Tahun Kunjungan Indonesia’91. Sehingga ada baiknya bila masyarakat yang bermukim pada daerah tersebut, baik pemukim tetap atau sementara sebagai wisatawan, mengetahui beberapa hal yang terkait dengan kejadian gempa bumi serta cara-cara penyelamatan diri.&lt;br /&gt;Hal itu sangat mudah dimengerti, karena sifat bencana gempa merupakan kejadian stokastik yang sampai saat ini waktu terjadinya belum dapat diperkirakan. Hanya daerah potensial serta kekuatannya yang dapat diperkirakan secara baik oleh para pakar dengan studi fisis batuan setempat maupun statistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tiga Periode&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar periode yang berkaitan dengan waktu kejadian gempa bumi dibagi menjadi tiga periode, sehingga beberapa pakar menyesuaikan hal-hal yang perlu dilakukan dalam pengendalian atau penyelamatan diri dalam mengantisipasi kejadian ala mini. Ketiga periode ini adalah prakejadian, saat kejadian, dan pasca kejadian.&lt;br /&gt;Untuk mengurangi kerugian atau korban jiwa akibat gempa bumi, maka Bruce A. Bolt dalam buku ilmiah populernya Earthquake menyarankan kepada penduduk di daerah rawan bencana gempa bumi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Sebelum gempa bumi atau periode pra gempa bumi secara umum disarankan untuk lebih mengetahui lingkungannya. Seperti para pemilik bangunan disarankan selalu memeriksa bangunannya secara rutin, terlebih untuk bangunan yang dimanfaatkan umum.&lt;br /&gt;Penghuni terutama pemilik, disarankan tahu pasti letak radio, lampu senter, sekring listrik, peralatan P3K, kran untuk jaringan kompor gas, kran air ledeng, serta cara operasionalnya. Tentunya ada petugas yang menangani alat-alat tersebut dan sangat tahu cara kerjanya.&lt;br /&gt;Pada daerah ini disarankan tidak meletakkan barang-barang pecah atau alat-alat berat di atas lemari. Sebaiknya penambat bangunan-bangunan bertiang (termasuk antara lain meja dan lemari) dibuat baik dan kuat.&lt;br /&gt;Untuk sekolah disarankan mengadakan semacam diskusi – baik secara kurikuler maupun nonkurikuler – antara guru dengan OSIS atau Pramuka tentang cara-cara penyelamatan diri dalam menghadapi bencana yang sering menimpa daerahnya, termasuk gempa bumi. Apalagi untuk sekolah yang memiliki gedung belajar bertingkat harus menyediakan pintu atau jendela darurat untuk penyelamatan diri. Secara umum korban bencana gempa bumi ini diakibatkan kepanikannya sendiri.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Selama gempa bumi dianjurkan tetap tenang. Bagi yang berada di dalam ruang dianjurkan tetap di dalam, serta bagi yang berada di luar bangunan tetap berada di luar bangunan. Pengalaman menunjukkan bahwa kecelakaan menimpa orang yang sedang masuk atau meninggalkan ruang atau bangunan.&lt;br /&gt;Dalam ketenangan itu usahakan segera putuskan aliran listrik, saluran gas ditutup, matikan kompor bila masih menyala, serta saluran air ledeng. Bila berada di dalam bangunan tetap tenang dan cari tempat yang relatif aman dekat tembok pada pusat bangunan atau berlindung di bawah meja yang kuat atau sejenisnya sampai keadaan dianggap aman.&lt;br /&gt;Untuk mereka yang berada di luar bangunan usahakan cari tempat terbuka, jangan di bawah jaringan kabel listrik dan jauhi benda yang diperkirakan mudah roboh. Untuk penumpang kendaraan bermotor usahakan berhenti pada tempat yang aman, hindari berhenti di jembatan, dan tetaplah di dalam kendaraan sampai guncangan gempa bumi berhenti.&lt;br /&gt;Para pekerja yang mengalami guncangan gempa bumi usahakan berlindung di bawah meja atau meubel lainnya yang dianggap kokoh. Hindari pintu dan jendela. Bila berada pada bangunan bertingkat usahakan berlindung dekat kolom utama yang kokoh. Bila sedang dalam aktivitas sekolah usahakanlah tetap tenang serta mencari perlindungan, seperti berlindung di bawah bangku sekolah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pada periode pasca gempa bumi segera mengadakan pengecekan umum, terutama periksa diri sendiri serta teman lainnya. Barangkali ada yang mengalami kecelakaan atau korban. Bila ada, berikan pertolongan pertama sebisanya sebelum dibawa ke pos kesehatan terdekat. Cek juga semua jaringan listrik, gas, atau air ledeng. Jika ada gangguan segera adakan perbaikan.&lt;br /&gt;Usahakan pengecekan dilakukan dengan posisi seaman mungkin, karena tidak jarang bangunan roboh setelah guncangan gempa bumi. Setelah pengecekan selesai segeralah keluar bangunan. Apabila melihat retakan mencurigakan pada dinding atau tembok tidak perlu diperiksa, tetapi segeralah keluar bangunan sampai keadaan benar-benar aman. Setelah bisa mengadakan pengecekan.&lt;br /&gt;Hidupkan radio untuk mendengarkan anjuran atau instruksi pihak berwajib untuk tindakan selanjutnya. Jauhi bangunan yang mengalami kerusakan. Bagi masyarakat pegunungan dianjurkan untuk sementara menjauhi lereng-lereng, bila perlu kegiatan sehari-hari di lereng atau dekat mata air dihentikan karena tidak jarang di daerah ini terjadi longsor setelah gempa bumi. Kejadian seperti ini antara lain pernah menimpa beberapa daerah sepanjang Bukit Barisan, Pantar, Majalengka, dan Sukabumi.&lt;br /&gt;Masyarakat pantai dianjurkan hati-hati melakukan kegiatan di pantai beberapa waktu setelah guncangan gempa bumi, karena kemungkinan terjadi tsunami bila pusat gempa buminya berada di dasar laut yang berhadapan dengan pantai tersebut. Kejadian ini umumnya terjadi beberapa menit hingga beberapa jam setelah gempa utama. Kejadian ini pernah terjadi di beberapa daerah di Indonesia, seperti sepanjang pesisir barat Sumatera dan selatan NTB-NTT.&lt;br /&gt;Setelah itu ikutilah semua petunjuk tim terpadu penanggulangan bencana yang kita kenal sebagai tim Satkorlak PB untuk daerah maupun Bakorlak PB untuk pusat.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mudah Dihitung&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;Secara umum seri gempa bumi yang terjadi merupakan seri guncangan yang dibedakan menjadi tiga, yaitu gempa pendahuluan, utama, dan susulan. Karena umumnya gempa pendahuluan sulit dideteksi alat, maka tipe gempa bumi di Indonesia pada umumnya merupakan serian gempa bumi tipe II (Mogi, 1963) yang hanya memiliki gempa utama serta gempa susulan. Setiap daerah memiliki jumlah gempa susulan berbeda serta waktunya juga sangat bervariasi dari hanya beberapa jam hingga beberapa tahun lamanya. Sifat ini lebih banyak ditentukan sifat batuan setempat serta kekuatan gempa utamanya. Karena ada korelasi yang baik antara kekuatan gempa dengan panjang patahan yang merupakan generator gempa. Semakin besar gempa buminya tentu kian panjang patahannya, sehingga jumlah gempa susulan menjadi lebih banyak dan lebih lama terhadap gempa utamanya. Untuk mengetahui sampai kapan gempa susulan  ini menyertai gempa utamanya, maka di lokasi segera setelah kejadian dipasang alat pencatat gempa bumi jinjing yang akan memonitor jumlah kejadian dari waktu ke waktu. Untuk studi rincinya biasanya paling sedikit dipasang empat alat. Hasil yang diperoleh berupa frekuensi gempa bumi, percepatan tanah, serta karakteristik gempa susulan setempat yang sangat berarti dalam perencanaan berikutnya. Secara teoritis pada peluruhan energi umumnya merupakan fungsi eksponensial terhadap waktu. Demikian juga dalam kejadian gempa bumi – khususnya gempa susulan yang menyertai gempa utama – ditemukan secara empirik menurun eksponensial terhadap waktu. Kronologis data gempa susulan sangat membantu untuk menentukan kapan gempa susulan berhenti atau dianggap aman, sehingga usaha rehabilitasi terhadap bangunan penduduk yang rusak dapat dilakukan. Seringkali gempa susulan ini memperburuk situasi karena juga merusak. Ini ditemukan untuk beberapa kali gempa bumi di Bali, Lombok, dan NTT. Bila suatu daerah diketahui kurva peluruhan gempa susulannya memudahkan mengestimasi kapan berhentinya suatu ancaman gempa susulan ini bila kemudian hari pada tempat yang sama, karena sifat alami yang dimiliki daerah itu cenderung tetap dari waktu ke waktu. Sebagai contoh pada gambar terlihat kurva peluruhan gempa susulan dari gempa bumi Sumbawa 1977. Dengan perkembangan teknologi alat hitung saat ini ternyata dari jumlah pemantauan gempa susulan perperiode (perjam, tiga jaman, enam jaman, atau harian) sangat mudah ditentukan kapan berakhirnya ancaman gempa susulan ini. Perhitungannya mudah dilakukan di lapangan, sekalipun hanya dengan kalkulator ilmiah yang paling sederhana.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penmas Bencana&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;Bila menyimak lebih jauh bencana yang terjadi yang mengakibatkan kerugian harta benda serta korban jiwa manusia yang terjadi di Tanah Air, maka sudah waktunya dirintis usaha penerangan masyarakat untuk mengetahui potensi bencana yang dapat menimpa daerahnya. Selain itu mereka juga dibekali pengetahuan praktis dalam usaha penyelamatan diri, seperti pada bencana banjir, longsor, letusan gunung api, gempa bumi,  air pasang, maupun yang terkait lingkungan. Sehingga tumbuh masyarakat yang tidak saja sadar lingkungan, tetapi juga sadar bencana yang sewaktu-waktu siap mengancam mereka. Wadah untuk penerangan ini banyak. Masalahnya mau atau tidak memanfaatkannya, seperti lewat klompencapir, pokdarkum, dan pokdarsih. Karena usaha ini menyangkut dan melibatkan berbagai instansi dan kalangan, maka kunci pokoknya adalah koordinasi yang memang selama ini dianggap kata ampuh: gampang diucapkan, tetapi sungguh sulit dilaksanakan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-2666785490161627996?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/2666785490161627996/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/04/jangan-panik-saat-terjadi-gempa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/2666785490161627996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/2666785490161627996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/04/jangan-panik-saat-terjadi-gempa.html' title='Jangan Panik Saat Terjadi Gempa'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-2238130249952831990</id><published>2010-03-30T14:17:00.000-07:00</published><updated>2010-03-30T14:17:16.181-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gempa'/><title type='text'>Enarotali, Sarang Gempa, Salahsatu Titiktemu Tiga Lempeng Tektonik</title><content type='html'>Kamis, 14 April 1994 yang lalu, daerah Kabupaten Paniai kembali diguncang gempa kuat. Laporan dirasakan gempa datang dari Enarotali, Timika, Serui, dan Nabire ibukota Kabupaten Paniai. Trauma beberapa kali bencana gempa yang terjadi di tanah air, maupun di mancanegara belakangan ini kelihatannya kentara sekali.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Begitu terasakan gempa, langsung saja Badan Meteorologi dan Geofisika, Wilayah V Jayapura disibukkan oleh deringan telepon dari masyarakat setempat, wartawan kantor berita nasional dan kantor berita internasional yang umumnya bermarkas di Jakarta. Mereka menanyakan informasi gempa, menanyakan kerusakan yang terjadi, maupun korban yang diakibatkannya.&lt;br /&gt;Maklum saja gempa tersebut merupakan gempa yang cukup kuat yaitu dengan kekuatan M1 = 6,0 SR atau Mb = 6,5 SR. Gempa tektonik dengan kekuatan demikian pasti ditangkap oleh seluruh sensor gempa yang tersebar di permukan bumi secara global. Demikian juga Dinas Survey Geologi Amerika Serikat, dari Golden Colorado segera menginformasikannya.&lt;br /&gt;Hasil lengkap analisis data gempa ini oleh Badan Meteorologi dan Geofisika, adalah sebagai berikut : Gempa terjadi pada pukul 07.22.29,45 WIT, pada posisi 3,16 LS – 136,05 BT pada kedalaman 45 km dengan kekuatan seperti telah disebutkan di atas. Posisi tersebut, diujung barat Pegunungan Tengah Irian Jaya. Sedang getaran gempa susulannya, walau tergolong minim, namun sekitar 12 kali tercatat selama 24 jam pertama setelah gempa utama. Dan sampai 16 April 1994 jaringan pencatat gempa di Irian Jaya masih merekam gempa susulan yang cukup kuat, yaitu sekitar 5,8 SR.&lt;br /&gt;Intensitas gempa tersebut dilaporkan paling keras terasakan di daerah Enarotali, yang berjarak hanya sekitar 50 kilometeran dari episenter gempa. Masyarakat setempat melaporkan karena getaran gempa mengakibatkan bangunan bergetar hebat, pejalan kaki limbung, air di bak mandi bergoyang sedang drum penampungan air dengan air yang penuh mampu digeser sejauh 4 cm akibat getaran gempa tersebut.&lt;br /&gt;Namun sampai saat tulisan ini dibuat dari daerah kejadian belum ada laporan kerusakan maupun korban jiwa, baik laporan yang disampaikan Pemda setempat maupun petugas Stasiun BMG Enarotali.&lt;br /&gt;Masyarakat daerah lain yang juga merasakan goncangan gempa ini adalah masyarakat Timika dengan gejala getaran keras pada tembok dan jendela rumah. Di Serui getaran juga dirasakan sekitar 3 detik. Ketiga daerah ini melaporkan arah getaran gempa adalah Utara-Selatan. Sedang di Nabire, ibukota kabupaten Paniai, getaran gempa ini dirasakan hanya sekitar 11 Skala MMI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Langganan Gempa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kalau pusat gempa baru lalu dipetakan pada peta tektonik Irian Jaya maka terlihat bahwa daerah pusat gempa berada pada daerah pertemuan tektonik lempeng Hindia Australia dan tektonik lempeng Pasifik yang saling bergerak mendekati relatif satu sama lain. Tektonik lempeng Hindia Australia bergerak ke arah barat dengan kecepatan 9 cm per tahun dan Hindia-Australia bergerak arah utara dengan kecepatan 7 cm per tahun (Minster dan Jordan, 1978).&lt;br /&gt;Persis sekitar daerah pusat gempa merupakan daerah pertigaan pertemuan tektonik lempeng tersebut yang sejajar dengan Pegunungan Tengah, di daerah Enarotali bercabang dua. Pertama, ke arah barat laut menuju Sorong terus sampai ke Maluku Utara, dan lainnya menuju arah barat sedikit selatan menuju Laut Banda.&lt;br /&gt;Pada daerah Enarotali, tempat pusat gempa terakhir berada, sedikitnya sudah empat kali terjadi gempa (tidak termasuk gempa terakhir, 14 April 1994 lalu) dalam sepuluh tahun terakhir terjadi gempa dengan kekuatan yang hampir merata. Gempa tersebut diantaranya adalah :&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Gempa Nabire, 22 Mei 1984, dengan kekuatan M1 = 5,8 SR yang mengakibatkan kerusakan pada bangunan penduduk di Nabire.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Gempa Enarotali, 15 September 1985 merupakan gempa bumi yang cukup kuat dengan kekuatan M1 = 5,8 SR, sehingga menimbulkan kerusakan dan korban 10 orang meninggal.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Gempa Enarotali-Tembagapura, 4 September 1989, merupakan gempa cukup kuat dengan kekuatan M1 = 5,5 SR. Gempa ini sempat memporakporandakan barang-barang di supermarket yang ada di daerah kawasan tambang Tembagapura Freeport. Bahkan video sampai terlempar dari atas meja akibat kerasnya getaran gempa ini.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Gempa Nabire, 19 Januari 1994 lalu, yang merupakan salah satu runtun gempa yang terjadi pada Januari 1994 lalu di margin tektonik lempeng Pasifik. Getaran gempa ini dirasakan pada cakupan daerah yang cukup luas antara Wamena, Nabire, Biak, Timika, dengan variasi intensitas antara III-IV Skala MMI (Modified Mercally Intencity). Dan terakhir adalah gempa Enarotali, 14/04/94.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Bila melihat sepintas data gempa di daerah Enarotali, Kabupaten Paniai, terlihat bahwa kehadiran gempa terulang sekitar 4 sampai 5 tahunan, dengan kekuatan 5,5-6,0 SR. Ada tendensi (walau belum cukup data) gempa Nabire mendahului gempa Enarotali.&lt;br /&gt;Aktivitas gempa ini menunjukkan bahwa daerah dataran tinggi Nabire –Enarotali, merupakan salah satu segmen aktif zona “collision” (tumbukan) antara tektonik lempeng Hindia-Australia yang mendorong ke arah utara tektonik lempeng Pasifik yang bergerak ke arah barat.&lt;br /&gt;Dampak lainnya adalah membentuk jalur Pegunungan Tengah Irian Jaya yang sarat dengan bahan mineral, diantaranya tembaga dan emas itu. Bagian lain zone tumbukan ini membentuk daerah aktif gempa panjang Jayawijaya, yang salah satu gempanya yang terkenal adalah gempa Kurima, 1 Agustus 1989 dan gempa Lembah Baliem, 19 Januari 1981 dengan 256 orang korban meninggal. Besarnya korban di sini diakibatkan oleh timbunan tanah longsor pasca gempa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Rawan Longsor&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Walau sepanjang zona tumbukan tersebutkan di atas merupakan generator gempa dengan kekuatan yang cukup kuat antara 5,5 – 6,0 SR lebih. Namun kedua segmen itu (segmen Enarotali dan segmen Baliem) memiliki sedikit perbedaan dalam dampak akibat gempa.&lt;br /&gt;Gempa di kedua segmen ini umumnya disertai dengan tanah longsor, karena daerah pusat gempa bersisian atau persis pada lembah yang sejajar dengan Pegunungan Tengah (salah satu segmennya adalah Jayawijaya). Kemiringan lerengnya sangat terjal. &lt;br /&gt;Di segmen timur karena populasinya yang lebih padat dari bagian segmen barat, sehingga jumlah korban sangat berbeda. Demikian juga untuk dua gempa terakhir, gempa Nabire (19/01/94) dan gempa Enarotali (14/04/94) lalu, walau kekuatan dan intensitasnya dilaporkan sangat kuat, namun dari lokasi pusat gempa dilaporkan tidak ada korban jiwa.&lt;br /&gt;Mengingat posisi pusat gempanya yang rawan dan perkembangan penduduk di daerah ini cukup pesat maka penataan pemukiman sangat perlu dilakukan guna menekan sekecil mungkin dampak bencana gempa yang akan terjadi. Pemukiman sepatutnya menghindari berhadapan dengan lereng yang kritis dan kemiringan terjal.&lt;br /&gt;Keinginan sementara birokrat untuk membangun pusat perkotaan di daerah Nabire, Enarotali dan sekitarnya di masa mendatang, hendaknya tidak meremehkan faktor gempa ini sebagai masukan yang patut dipertimbangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tiga Simpul&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dari kilas balik terhadap data sepuluh tahun terakhir atas gempa-gempa yang terjadi di segmen Pegunungan Tengah, Irian Jaya dan yang berada pada segmen Enarotali – Tembagapura, Kabupaten Paniai dapat ditarik tiga simpul :&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Segmen Enarotali – Tembagapura merupakan salah satu segmen aktif yang menjadi sarang gempa kuat (5,5 &amp;lt; M1 &amp;lt; 6,0 SR) dari zona tumbukan antar tektonik lempeng Hindia-Australia dan tektonik lempeng Pasifik.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ada kecenderungan gempa-gempa Enarotali, didahului oleh gempa-gempa di Nabire, daerah lain di Kabupaten Paniai, perulangannya diduga terjadi sekitar 4 sampai 5 tahunan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Luasnya daerah yang merasakan intensitas setiap gempa yang terjadi di Kabupaten Paniai menunjukkan sifat dominasi kontinen daratan Irian Jaya. Ini membuktikan bahwa sebagian belahan Irian Jaya dulunya memang menyatu sebagai lempeng kontinen dengan Australia dengan bagian penyambungnya adalah dangkalan sahul yang menjadi fondasi Laut Arafuru yang memisahkan daratan Irian Jaya dengan benua Australia.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dimuat di harian Suara Karya tanggal 25 April 1994&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-2238130249952831990?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/2238130249952831990/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/03/enarotali-sarang-gempa-salahsatu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/2238130249952831990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/2238130249952831990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/03/enarotali-sarang-gempa-salahsatu.html' title='Enarotali, Sarang Gempa, Salahsatu Titiktemu Tiga Lempeng Tektonik'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-9038810953454732044</id><published>2010-03-29T15:34:00.000-07:00</published><updated>2010-03-29T15:34:45.145-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lingkungan'/><title type='text'>Rumit, Pola Banjir Jalur Jawa-Sumatera</title><content type='html'>Bencana yang terjadi selama musim hujan ini sepanjang jalur Jawa-Sumatera terasa meningkat, baik kualitas maupun kuantitasnya, bila dibandingkan dengan musim-musim hujan sebelumnya. Selain itu juga terlihat adanya pola yang jelas tentang modus bencana, khususnya bencana yang terkait dengan peningkatan volume air tanah dan permukaan limpahan air hujan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pola bencana tersebut memiliki kelompok dan jalur tersendiri, yakni mengikuti kondisi geografis dan geologis setempat. Pertama, di belahan selatan Jawa dan belahan barat Sumatera yang menonjol adalah bencana banjir bandang serta tanah longsor sepanjang kawasan Padang, Tapanuli, Alas-Gayo, tanah ambles/terban di Cianjur, Sukabumi bagian selatan, dan Tanggul Jember. Sedangkan jenis yang lain bahkan masih berlangsung sepanjang pantai timur Sumatera, yakni banjir genangan di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan beberapa daerah di pantai utara Jawa, seperti sebagian daerah pantai Jakarta (Angke, Pluit, Pademangan), Karawang, dan daerah pantai yang memang merupakan langganan banjir di Jateng dan Jatim.&lt;br /&gt;Banjir genangan ini ditandai dengan pengendapan material erosi yang cukup tinggi, seperti yang terjadi di pantai Pedes, Karawang, yang muaranya tertutup lumpur sehingga menyulitkan turun dan mendaratnya neleyan setempat.&lt;br /&gt;Tentu timbul pertanyaan mengapa hal itu bisa terjadi? Untuk memahami kedua kejadian itu, kita coba meninjau kondisi geografis serta sepintas struktur geologis tanah permukaan daerah setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sulit Dipantau&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kondisi geografis secara umum daerah Sumatera dan Jawa memiliki pola yang sama. Di belahan selatan ditandai kompleks pegunungan dengan kompleks Bukit Barisan di Sumatera dan beberapa kompleks pegunungan di Jawa yang gugusnya tidak sejelas di Sumatera.&lt;br /&gt;Kondisi di belahan ini memiliki topografi yang terjal dengan batuan beku sebagai batuan dasar dari batuan permukaan yang juga produk vulkanik dengan ketebalan lapisan yang tipis. Sehingga sepanjang jalur ini kebanyakan budidaya yang dilakukan adalah perkebunan dan pertanian dataran tinggi.&lt;br /&gt;Pantai di bagian selatan ini sebagian besar curam dengan batuan keras menghadang ombak ganas, karena berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia. Pertemuan antarlapisan, yaitu lapisan permukaan dengan lapisan dasar yang beda densitasnya besar, menyebabkan rendahnya sedimentasi. Sehingga faktor cuaca mudah menganggu pelapukannya pada kejadian ekstrem atau pergeseran amplitudo yang tinggi seperti pada kemarau silam.&lt;br /&gt;Kondisi tersebut sangat mudah longsor terutama yang berada pada kemiringan topografi yang terjal sebagai longsoran gravitasi pada saat hujan tiba. Jarangnya pori lapisan permukaan menampung lebih banyak massa air serta beda densitas yang ada menjadikan aliran air secara mudah merongrong pertemuan antarlapisan. Selanjutnya memperkecil friksi antarlapis, sehingga memudahkan longsornya lapisan yang ada di atasnya.&lt;br /&gt;Pada bagian ini ditandai juga oleh batuan berkapur yang biasa mempunyai gua kapur dengan stalaktit dan stalagmite serta aliran air di bawah tanah. Sifat kapur sangat mudah bereaksi dengan air, sehingga perkembangan aliran sungai bawah tanah mudah sekali terjadi. Perkembangan sungai ini merongrong kekuatan atap sungai.&lt;br /&gt;Peningkatan beban akibat massa air pada musim hujan di lapisan atas atap sungai menyebabkan terjadinya tanah ambles atau tanah terban di sana. Bencana ini belakangan terjadi di Sumatera Barat, Cianjur, salah satu jalan protocol di Bandung, Tanggul Jember, dan pada tahun-tahun terakhir beberapa terjadi di Blitar, Jawa Timur.&lt;br /&gt;Gejala awal kejadian terakhir ini sangat sulit dipantau mata telanjang, sehingga kejadiannya terasakan secara tiba-tiba dan tepi terbannya biasanya hampir rata dan vertikal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sangat Sempit&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Secara panjang lebar, kondisi pantai timur Sumatera serta pantai utara Jawa yang terkait dengan bencana banjir genangan yang terasakan lebih intensif terjadi pada musim hujan di kawasan ini diuraikan pada Suara Pembaruan (19/01/92). Namun untuk dapat melihat perbedaannya dengan belahan lainnya tidak ada salahnya kita tinjau kembali secara singkat.&lt;br /&gt;Kawasan ini secara umum merupakan dataran dengan lapisan sedimentasi dengan banyak sungai yang bermuara di sana, sehingga menjadikan belahan ini – khususnya yang ada di Jawa – merupakan lumbung beras utama kita. Sesuai karakter sedimen yang mudah tererosi, maka penumpukan material erosi terjadi sepanjang pantai dan muara. Hal ini menjadikan air laut pantai tersebut selalu kekuningan (keruh) serta mengalami pendangkalan secara cepat.&lt;br /&gt;Bibir pantainya sangat landai, karena selalu tumbuh maju akibat pengendapan material erosi yang terbawa. Lihat saja peta Pulau Jawa dan perhatikan posisi kota Semarang yang mulanya persis di pantai sekarang sudah jauh masuk ke darat.&lt;br /&gt;Pendangkalan tidak saja terjadi di sepanjang pantai, tetapi juga di sepanjang badan sungai sehingga menyulitkan aliran transportasi air, terlebih pada saat debit air besar, seperti pada musim hujan saat ini.&lt;br /&gt;Kondisi itu mengakibatkan mudahnya terjadi genangan air, terlebih pada alur berkelok-kelok atau percabangan sungai. Keadaannya bertambah parah bila terjadi pada waktu laut pasang. Terkurungnya Laut Jawa serta Selat Malaka sebagai penglepasan sungai-sungai tersebut mempercepat awal genangan serta memperlama waktu genangan.&lt;br /&gt;Sebagai contoh banjir genangan Riau, Palembang, dan Jambi kali ini terjadi hampir selama dua minggu lebih yang diawali bertepatan dengan hadirnya pasang purnama (17/12/91) serta belum surut hingga pasang bulan mati (3/1/92). Kelakuan Laut China Selatan dengan pasang beresonansi diduga sangat berpengaruh terhadap ketinggian air laut di pantai yang menyulitkan aliran di muara. Dan tentunya karena diawali hujan berkepanjangan selain penurunan kualitas lahan yang dirusak manusia  sehingga tidak mampu menyeimbangkan neraca air hujan.&lt;br /&gt;Hal lain yang menambah rumit aliran massa air ini adalah bentuk laut di sepanjang alur ini yang tertutup dan hanya dihubungkan selat sempit dengan samudera lepas. Samudera Hindia hanya dihubungkan Selat Sunda yang tergolong sempit dan dangkal (karena masih kondisi dangkalan Sunda) serta Selat Bali yang juga sangat sempit, sedangkan arus dari Samudera Hindia tidak jarang lebih kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Perlu Hati-hati&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dengan perbedaan kondisi geografis serta geologis yang sangat bertolak belakang antara belahan selatan dan belahan utara Jawa atau belahan barat dan timur Sumatera menyebabkan laju aliran sungainya atau air tanahnya berbeda pula. Di selatan deras, sedangkan di utara agak lamban, sehingga pola banjir yang disebabkannya pun berbeda. Yang satu banjir bandang dan yang lain banjir genangan.&lt;br /&gt;Keduanya merusak lingkungan, karena banjir bandang dan tanah terban mengakibatkan tanah longsor. Kejadiannya tidak berkepanjangan serta penanggulangannya relatif lebih cepat. Lokasi kejadiannya sulit diperkirakan, sehingga dapat saja terjadi di tengah pemukiman, pegunungan, atau di daerah produktif seperti yang biasa terjadi di Jember.&lt;br /&gt;Sedangkan banjir genangan umumnya menggenangi daerah yang relatif rendah sepanjang DAS (Daerah Aliran Sungai) dan muara sungai, sehingga mudah ditentukan lokasinya dan keadaan waspada pun gampang dipersiapkan. Kejadiannya melalui perkembangan yang relatif lama melanda daerah yang luas. Kerugian yang diderita umumnya berupa tergenangnya areal usaha, baik pertanian maupun usaha lainnya, di daerah tersebut yang akan macet total selama genangan terjadi. &lt;br /&gt;Untuk menghadapi keadaan seperti ini hendaknya pola modernisasi pada teknologi pemukiman setempat harus hati-hati. Jangan sampai apa yang dialami masyarakat sepanjang DAS Batanghari dan Kampar yang meninggalkan pola rumah panggungnya sangat kesulitan dalam menghadapi banjir genangan terakhir ini. Mungkin masyarakat terdahulu sudah mengantisipasi akan adanya banjir serupa, sehingga konstruksi bangunan di sana sebelumnya berupa rumah panggung.&lt;br /&gt;Untuk menghindari kehancuran di daerah yang sering mengalami tanah terban memang agak sulit memperkirakannya, kecuali langkah penyelamatan lingkungan dengan melestarikan lingkungan sekitarnya dapat dilakukan secara terus menerus. Kejadiannya susah dicegah, paling-paling masyarakat yang mengadakan aktivitas di daerah rawan terban ini perlu berhati-hati, khususnya pada saat memasuki musim penghujan ini, agar tidak jatuh korban jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dimuat di harian Suara Pembaruan edisi Minggu tanggal 02 Februari 1992.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-9038810953454732044?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/9038810953454732044/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/03/rumit-pola-banjir-jalur-jawa-sumatera.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/9038810953454732044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/9038810953454732044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/03/rumit-pola-banjir-jalur-jawa-sumatera.html' title='Rumit, Pola Banjir Jalur Jawa-Sumatera'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-7125826312184460156</id><published>2010-03-29T15:01:00.000-07:00</published><updated>2010-03-29T15:01:37.504-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iptek'/><title type='text'>Misteri Laut Banda, Potensi IBT</title><content type='html'>Salah satu sisi kawasan Laut Banda belakangan ini menjadi ramai dibicarakan setelah kasus Amdal Pulau Yamdena diangkat ke permukaan oleh Komisi IV DPR RI yang memprihatinkan pengusahaan hutan di sana. Pembaruan saja sedikitnya menurunkan tulisan tentang itu dalam tiga kali terbitan, yaitu edisi 12/07/92, 28/06/92, dan 24/06/92. Anggota Kepulauan Tanimbar yang terbentuk dari batuan napalan, gamping, dank oral ini seakan menjadi primadona.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kepedulian tersebut muncul karena kekhawatiran terhadap kesalahan dalam pengusahaan sumber daya hutan tropis di sana, sehingga tidak terulang lagi seperti kasus penghijauan yang berlangsung sangat lama di daerah Gunung Kidul –yang kondisinya tidak jauh berbeda dari kondisi batuan Yamdena- akibat kekritisan lahannya. Itulah salah satu yang melandasi timbulnya polemik berkepanjangan, terlebih dalam asas pembangunan berkelanjutan yang kita anut selama ini.&lt;br /&gt;Lain Yamdena di sisi timur Laut Banda yang dikhawatirkan menjadi kritis bila pengusahaan hutannya keliru, maka lain pula sisi barat laut Laut Banda yang kaya potensi sumber daya geologi dan pertambangan yang baru sebagian tergarap saat ini. Keduanya menunjukkan hal yang saling berlawanan. Yang satu dihantui kekritisan lahan, yang lain menjanjikan potensi sebagai penunjang pembangunan di IBT.&lt;br /&gt;Sisi lain Laut Banda, yang merupakan kawasan yang menjanjikan ini, kehadirannya tidak lain akibat dukungan dari gaya tektonik yang berlangsung secara evolusif sepanjang sejarah geologi. Hal ini menjadikan Laut Banda sebagai daerah “unik” dari segi kebumiannya yang kaya gunung di dasar laut dengan aktivitas vulkanismenya, memiliki palung dalam, dan kaya gempa bumi yang sering mengusik data rekaman seismik para pakar Eropa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertigaan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut pandang garis pertemuan antarlempeng tektonik, yang membentuk Kepulauan Indonesia, maka Laut Banda berada pada daerah pertigaan. Garis pertemuan megalempeng tektonik, pembentuk Indonesia, bertemu di sana dan menjadikan spesifiknya struktur tektonik daerah Laut Banda.&lt;br /&gt;Daerahnya memiliki struktur yang membentuk pola “mangkok oval” dengan sumbu panjang hampir barat-timur. Kemiringannya dari sedang sampai terjal ke arah pusat Laut Banda, sehingga dorongan gaya tektonik seakan datang dari segala arah. Kecuali dari arah barat relatif kecil yang memberikan kesan pada posisi bertahan dan terangkat kea rah barat serta tepi-tepinya.&lt;br /&gt;Resultan gaya tektonik di daerah ini cukup besar berlangsung malar dan evolusif. Hal itu mampu membentuk statigrafik setempat berlapis tak ubahnya proses pembentukan lapisan magnetic secara periodik pada ridge Atlantik Tengah. Dengan demikian menjadikan daerah tepian barat Laut Banda berpotensi geologi dan pertambangan yang menjanjikan dalam pembangunan Indonesia khususnya IBT.&lt;br /&gt;Di daerah tepian barat Laut Banda pun, terutama sisi selatan “mangkok oval” berlangsung proses geologi yang sampai saat ini masih berlangsung. Dapat kita ikuti pertumbuhan titik-titik vulkanik sepanjang busur Banda sampai Flores dan kepulauannya. Dua tahun silam di daratan Flores terjadi peristiwa geologi langka, yaitu lahirnya sebuah gunung api yang belakangan diberi nama Gunung Anak Ranakah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Media Aspal&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sebagai hasil bentukan dari gaya tektonik daerah ini sepanjang tepi bagian barat “mangkok oval” Banda dapat kita jumpai dua daerah tambang potensial yang sedang berkembang pesat dewasa ini, antara lain tambang logam mulia emas, perak, tembaga, dan nikel dengan kadar yang sangat bervariasi di Pulau Wetar. Hal ini menjadikan pulau di ujung selatan Maluku itu menjadi resort pertambangan baru serta daerah tambang aspal alam kita di Pulau Buton.&lt;br /&gt;Potensi dan sejarah kedua daerah tambang ini merupakan produksi dari gaya tektonik daerah Laut Banda. Arahnya ke daerah tambang ini seakan memompa angkat massa kulit bumi di sana. Gaya tektonik ini seakan mengangkat secara perlahan dengan gaya yang mahabesar kulit bumi bersama mineral yang terkandung di dalamnya ke atas permukaan laut. Ini merupakan daerah singkapan.&lt;br /&gt;Singkapan ini merupakan cirri khas daerah tambang di IBT, sehingga kegiatan penambangannya tidak memiliki lubang tambang dan terowongan yang kompleks seperti daerah tambang di luar negeri. Yang tentunya dari segi investasi yang ditanam dalam usaha penambangannya relatif menjadi lebih murah dan mudah.&lt;br /&gt;Khusus untuk daerah pertambangan aspal alam Buton, lokasi pertambangannya terlihat jelas dibantu oleh gaya tektonik yang berarah ke barat dari tektonik Banda ini. Juga dorongan kea rah timur oleh basin Bone yang menjadikan akumulasi massa di daerah Buton.&lt;br /&gt;Dari pandangan massa yang terakumulasikan oleh gaya ini, maka sangat menguntungkan posisi tambangnya. Karena menjadikan pulau ini secara geologi sebagai pulau yang tumbuh terus sehingga secara tidak langsung akan mengangkat media aspal, selain prosesnya merupakan proses pembentukan aspal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sedang Digarap&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pada sisi lain, yaitu sisi barat laut, Laut Banda yang merupakan busur kepulauan vulkanik terlihat jelas adanya aktivitas vulkanik, baik berupa banyaknya titik-titik vulkanik, letusan gunung api, serta kelahiran gunung api di dasar laut maupun di darat seperti di Flores.&lt;br /&gt;Untuk daerah Flores dan kepulauannya dapat dijumpai beberapa titik panas bumi potensial, tinggalan aktivitas vulkanik, antara lain dari arah barat ke timur dapat kita jumpai Gunung Beliling (1.300m), Gunung Iya (1.363m), Gunung Gunung Cucurumbeng (1.750m), Gunung Ranakah (2.400m), Gunung Nambu (1.957m), Gunung Munde (1.448m), Gunung Inerie (2.245m), Gunung Ambulombo, Gunung Klambo (1.361), Gunung Wonowata (1.200m), Gunung Egong (1.703m), Gunung Wengor (1.560m), Gunung Lewero (1.284m), Gunung Muna (1.423m), Gunung Potomana (1.763m), dan Ulumbu yang dikabarkan eksplorasinya tersendat akibat proses tender yang berkepanjangan.&lt;br /&gt;Semua itu merupakan potensi panas bumi yang sangat menunggu digarap dalam usaha penganekaragaman sumber daya energi di Indonesia. Serta meringankan sandaran terhadap sumber daya energi dengan bahan baku minyak dan gas bumi. Potensi serta kelangsungan operasional eksplorasi sumber energi panas bumi di sana tidak perlu disangsikan karena proses geologi akibat gaya tektonik produksi pertemuan tiga megalempeng di daerah ini.&lt;br /&gt;Frekuensi gempa bumi yang tinggi di Laut Banda, bahkan hampir setiap tahun ada yang magnitudonya 7 sampai 8 Skala Richter, merupakan trigger yang membangkitkan aktivitas dari masa jedanya dan memompa magma dan panas bumi untuk naik ke permukaan. Hal ini banyak dikaitkan dengan seringnya gunung di busur ini mengalami “batuk-batuk” sampai meletus. Bahkan untuk Flores, yang potensi panas buminya sedang digarap, belakangan ini hampir setiap tahun mengalami aktivitas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Misteri&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;Selama ini gaya tektonik lebih banyak dikaitkan dengan kehadiran gempa bumi tektonik untuk daerah IBT. Khususnya daerah tepian Laut Banda menjanjikan potensi lain sebagai produk sampingannya, sehingga menjadikan pemburuan para pakar Eropa Barat dalam mengungkap tabir misteri struktur Laut Banda, mungkin pula akan menghasilkan hasil sampingan yang diharap dapat menunjang pembanguna di IBT, seperti penemuan potensi tambang mineral lain di pulau lainnya selain Pulau Wetar yang sudah digarap. Gaya tektonik di daerah ini nampaknya selain sebagai potensi pengrusak yang tinggi, juga memberikan dukungan pokok dalam kelahiran dan kelangsungan kegiatan pertambangan mineral padat di kawasan ini serta merupakan gaya pemompa magma dan panas bumi di Busur Banda.&lt;br /&gt;Karena posisi daerah ini bersentuhan langsung dengan lokasi Celah Timor yang sedang diteliti bersama antara pemerintah Indonesia dan Australia –serta masih nampak mengundang pro dan kontra sebagai daerah yang diduga menyimpan kandungan minyak bumi- maka multibidang penelitian yang dilakukan di daerah Celah ini diharapkan juga akan mampu ikut menyumbang data dalam pengungkapan lebih transparannya misteri Laut Banda. Semoga saja.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-7125826312184460156?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/7125826312184460156/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/03/misteri-laut-banda-potensi-ibt.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/7125826312184460156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/7125826312184460156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/03/misteri-laut-banda-potensi-ibt.html' title='Misteri Laut Banda, Potensi IBT'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-9171009115574770703</id><published>2010-03-27T20:43:00.000-07:00</published><updated>2010-03-27T20:43:42.516-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cuaca'/><title type='text'>Debu Vulkanik Dapat Merobah Pola Cuaca</title><content type='html'>Sering sekali kita jumpai penyimpangan keadaan seperti cuaca, musim ataupun iklim akibat keseimbangan konsentrasi atmosfer yang mengalami gangguan. Misalnya yang baru saja kita alami tahun lalu di mana wilayah kita hampir sebagian besar mengalami musim kemarau yang berkepanjangan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Curah hujan yang sangat tinggi dialami kota Jakarta di tengah-tengah musim kemarau di tahun 1980. Tepatnya tanggal 29 Juli 1980 ibukota disiram hujan bak ditumpahkan dari langit dengan intensitas yang cukup tinggi yaitu 100 mm lebih. Ini merupakan angka yang jauh di atas angka normal untuk Jakarta, apalagi pada saat itu Jakarta termasuk daerah dengan kategori musim kemarau.&lt;br /&gt;Musim hujan yang berkepanjangan dialami sebagian besar wilayah Jawa Barat hingga Mei 1982 yang seharusnya sudah masuk ke dalam musim kemarau. Saat itu G. Galunggung sedang giat-giatnya menyemburkan bahan-bahan vulkanik ke atmosfer, termasuk di dalamnya debu dengan berbagai ukuran yang ikut mencemari udara di daerah sekitarnya.&lt;br /&gt;Bila kita simak dengan lebih seksama maka kasus-kasus yang kita sebutkan di atas sangat erat hubungannya dengan hadirnya benda-benda atau partikel asing di udara, yang dalam istilah lain sering pula dikenal dengan polusi udara. Partikel-partikel ini akan sangat berkaitan dengan perannya sebagai inti kondensasi dalam proses awal dari turunnya hujan.&lt;br /&gt;Seperti telah kita ketahui bahwa tidak akan mungkin terjadi hujan bila tidak terjadi kondensasi, walaupun terdapat banyak awan. Syarat mutlak terjadinya kondensasi adalah suhu udara, kelembaban yang memenuhi sarat ditambah dengan adanya inti kondensasi sebagai kondensator dalam proses kondensasi.&lt;br /&gt;Hal yang lain dapat terjadi bila di daerah yang ditutup oleh udara yang tercemar khususnya debu vulkanik sedang mengalami musim kemarau, maka daerah tersebut akan mengalami musim kemarau yang kering.&lt;br /&gt;Ini terjadi akibat daerah tersebut tertutup oleh jendela udara kotor, yang akan menghalangi terjadinya proses radiasi terestrial bumi dan akan sangat berpengaruh terhadap perimbangan radiasi, serta perimbangan bahan di lapisan dekat permukaan bumi.&lt;br /&gt;Bila kita tinjau sejenak daerah bagian timur dan tengah dari wilayah negara kita, tepatnya daerah di sekitar kawasan Teluk Tomini dan daerah Maluku Utara. Kedua daerah tersebut sedang mengalami bencana alam letusan gunung api. G. Colo dengan letusannya telah mencemari udara (atmosfer) di sekitarnya dengan produksi letusannya yaitu debu-debu vulkanik.&lt;br /&gt;Demikian pula halnya G. Gamalama yang diberitakan kumat lagi letusannya pada awal Agustus ini pasti mencemari udara di atas wilayah Maluku itu. Bahkan kedua kejadian itu dapat saling mempertinggi kadar kekeruhan udara di wilayah masing-masing.&lt;br /&gt;Bila kita hubung-hubungkan lagi dengan bencana banjir yang menimpa wilayah Sulawesi Tengah bertepatan dengan bencana letusan tersebut, tentunya konsentrasi debu-debu vulkanik pencemar udara di atas wilayah tersebut ikut berperan dalam tingginya curah hujan yang menyebabkan banjir tersebut.&lt;br /&gt;Sayang sekali, pihak yang berwajib tidak meneliti sejauh mana kekeruhan udara di daerah bencana atau di sekitar bencana letusan gunung api. Dan lama partikel tersebut tinggal secara stasioner di udara pun belum diteliti.&lt;br /&gt;Mengingat wilayah kita yang dilalui oleh dua jalur vulkanik dengan lk. 128 buah gunung api yang masih aktif, ditambah dengan daerah laut tropis yang ditandai dengan adanya dua musim yang saling bergantian setiap setengah tahun (yaitu musim penghujan dan kemarau) yang sangat berkaitan dengan pola musim tanam, panen dari masyarakat agraris  maka sudah sewajarnya jika dilakukan penelitian terhadap pengaruh turbiditas daerah di sekitar wilayah letusan gunung api, terutama kaitannya dengan perubahan pola cuaca atau musim di daerah tersebut.&lt;br /&gt;Hal inipun akan lebih berguna lagi bagi dunia kesehatan apabila konsentrasi serta jenis zat yang terkandung dalam partikel debu pencemar (debu vulkanik) tersebut ikut diteliti mengingat efek lanjutan dari bencana letusan tersebut yang jauh lebih komplek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dimuat di harian Sinar Harapan tanggal 23 Agustus 1983&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-9171009115574770703?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/9171009115574770703/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/03/debu-vulkanik-dapat-merobah-pola-cuaca.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/9171009115574770703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/9171009115574770703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/03/debu-vulkanik-dapat-merobah-pola-cuaca.html' title='Debu Vulkanik Dapat Merobah Pola Cuaca'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-3337682927587781604</id><published>2010-03-26T06:13:00.000-07:00</published><updated>2010-03-26T06:28:06.197-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cuaca'/><title type='text'>Garam Dapur Salah Satu Unsur Mencipta Hujan Buatan</title><content type='html'>Masyarakat Indonesia merasa lega mendengar keberhasilan Proyek Hujan Buatan yang baru-baru ini dipraktekkan di daerah Lombok Selatan. Hal ini merupakan kemajuan setapak lagi dalam mengatasi masalah kekeringan yang menimpa beberapa daerah Indonesia.&lt;br /&gt;Secara singkatnya dapat dikatakan bahwa menciptakan hujan pada prinsipnya adalah mempercepat proses terbentuknya titik-titik air di udara yang biasa disebut awan hujan, yang memenuhi syarat kondisi meteorologi untuk terjadinya hujan. Untuk menciptakan hujan buatan, di udara harus terlebih dahulu sudah ada awan yang kemudian diproses dengan menciptakan kondisi tertentu ke arah terbentuknya awan hujan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita lihat proses hujan secara keseluruhan maka kita akan berhadapan berbagai masalah seperti proses penguapan, kondensasi dan hujan itu sendiri yang akan melibatkan kita kepada pengetahuan tentang Meteo Fisis, yang didalamnya juga akan terdapat Fisika awan itu sendiri. Jadi untuk persiapan atau terjun ke dalam masalah hujan buatan ini perlu memahami pokok-pokok Fisika awan yang erat hubungannya dengan proses perkembangan awan, sehingga terbentuknya butiran air yang kemudian jatuh ke bumi yang dikenal dengan hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kelembaban Relatif (RH)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pokok fisika awan yang erat hubungannya dalam proses ini antara lain kelembaban relatif. Ini merupakan perbandingan antara tekanan uap air yang ada dengan tekanan uap air maksimum pada suhu tertentu. Secara teoritis uap air mengembun pada kelembaban relatif 100%. Kelembaban relatif basa juga disingkat RH (Relative Humidity).&lt;br /&gt;RH dan jari-jari butiran erat sekali hubungannya. Makin kecil jari-jari butiran tersebut RH yang diperlukan makin tinggi bahkan diatas 100% untuk menjadikan jenuh udara dan terjadinya kondensasi.&lt;br /&gt;Sedangkan inti kondensasi sangat mempengaruhi kelembaban. Yang merupakan inti kondensasi ini biasanya garam-garaman, hasil pembakaran yang sifatnya higroskopis. Terutama NaCl (garam dapur) yang di udara kadarnya kurang lebih 10 gram per meter kubik. Wilson mendapatkan dari hasil percobaannya untuk air murni akan jenuh pada kelembaban antara 300 sampai 400%.&lt;br /&gt;Proses difusi terjadi antar butiran uap air yang ada sehingga terjadi uap air yang ada sehingga terjadi uap air yang berdiameter lebih besar. Sayangnya proses ini lambat sekali.&lt;br /&gt;Secara singkat dapat dikatakan bahwa untuk mempercepat proses hujan (hujan buatan) maka kita harus mampu menciptakan suasana atau kondisi yang menunjang dan mempercepat pengembunan atau proses mempercepat terbentuknya butiran air yang lebih besar yang memenuhi syarat untuk terjadinya hujan.&lt;br /&gt;Biasanya dalam proses ini, di udara yang sudah berawan dan memenuhi persyaratan meteorologis yang dikehendaki untuk tujuan ini (hujan buatan) ditaburkan garam yang berfungsi sebagai inti kondensasi untuk mempercepat proses pengembunan dan terciptanya awan hujan.&lt;br /&gt;Garam-garam yang biasa dipakai terdiri dari :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;NaCl (garam dapur) yang berbentuk tepung berfungsi sebagai alat untuk memadatkan awan, sifatnya higroskopis.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;CaCl2 yang berbentuk tepung berfungsi sebagai alat untuk mengumpulkan awan. Garam ini bersifat higroskopis dan endotermis dalam lingkungan air.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Urea berbentuk larutan berfungsi mendinginkan awan dan menjatuhkannya. Sifat urea ini menghisap panas dari lingkungannya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;CO2 padat (es kering) yang fungsinya sebagai penahan suhu garam agar tidak naik dan sebagai pendinginan awan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Aerosil sebagai pencegah penggumpalan awan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Semua zat kimia ini dipakai dalam perbandingan yang tepat dan serasi karena salah dalam komposisi campuran akan berakibat fatal. Sebagai contoh apabila CO2 padat terlalu banyak dapat membuyarkan awan yang telah ada.&lt;br /&gt;Teori hujan buatan yang sudah lama kita kenal dan berhasil diterapkan di negara lain sekarang sudah berhasil juga diterapkan di wilayah Indonesia. Hal ini merupakan salah satu alternatip dalam mengatasi bahaya kekeringan yang tidak jarang dihadapi oleh para petani di negara kita. Keberhasilan ini perlu dikembangkan lagi untuk daerah-daerah lainnya di Indonesia mengingat daerah kita masing-masing memiliki karakter cuaca yang berbeda-beda pula.&lt;br /&gt;Mengingat pemakaian bahan-bahan kimia dalam proyek ini maka perlu adanya penelitian yang sungguh-sungguh terhadap pengaruh yang mungkin akan timbul terutama pada tanaman yang hidup bergantung air hujan buatan tersebut. Sehingga nantinya tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-3337682927587781604?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/3337682927587781604/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/03/garam-dapur-salah-satu-unsur-mencipta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/3337682927587781604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/3337682927587781604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/03/garam-dapur-salah-satu-unsur-mencipta.html' title='Garam Dapur Salah Satu Unsur Mencipta Hujan Buatan'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-9023487914103305108</id><published>2010-03-25T18:57:00.000-07:00</published><updated>2010-03-25T18:59:29.445-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gempa'/><title type='text'>Memperkirakan Berakhirnya Gempa Susulan</title><content type='html'>Bencana nasional gempa bumi Maumere (12 Desember 1992) memporakporandakan daerah setempat serta menelan korban sangat banyak. Lebih dari 2.000 orang meninggal dunia dan hilang diterjang tsunami serta lebih dari seribu orang luka-luka. Masyarakat yang selamat di daerah bencana secara psikis terus dihantui banyaknya gempa susulan yang menyertai gempa tersebut.&lt;br /&gt;Menurut laporan, di Maumere beberapa kali terjadi gempa susulan juga disertai tsunami walau dengan intensitas tidak begitu besar. Hal it uterus menyiksa batin masyarakat setempat. Dalam kondisi ini memprakirakan kapan berakhirnya gempa susulan merupakan jalan keluar yang dapat menjawab serta membesarkan hati masyarakat di daerah bencana.&lt;br /&gt;Berkaitan dengan hal itu, penulis mengajak pembaca menengok jenis gempa bumi yang terkait dengan gempa merusak serta melihat karakteristik masing-masing jenis tersebut untuk dapat menghitung kapan berakhirnya suatu gempa (susulan) di daerah bencana gempa.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bila meninjau suatu rangkaian getaran yang menyertai suatu gempa bumi, maka gempa itu secara umum memiliki rangkaian getaran yang disebut sebagai gempa pendahuluan (fore shock), gempa utama (main shock), dan gempa susulan (after shock).&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sangat Terkait&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Punya tidaknya ketiga jenis getaran itu sangat ditentukan homogenitas batuan di mana gempa itu terjadi. Ditinjau dari sifat homogenitas (fisik) batuan, pakar seismofisik Jepang Mogi menggolongkan gempa bumi menjadi tiga tipe, yaitu :&lt;br /&gt;Tipe I merupakan gempa bumi yang tidak memiliki gempa pendahuluan dan hanya memiliki gempa utama yang disertai gempa susulan sangat banyak. Hasil penelitian di laboratorium, tipe gempa ini terjadi pada batuan yang sangat homogen. Tipe ini merupakan tipe yang prospek prakiraan terjadinya sangat sulit, tetapi berakhirnya gempa susulan mengikuti sifat peluruhan energi secara umum.&lt;br /&gt;Tipe II merupakan gempa bumi yang sangat komplet memiliki gempa pendahuluan yang cukup, gempa utama, dan gempa susulan yang sangat banyak. Kejadiannya sangat terkait dengan penglepasan energi potensial gempa oleh medium yang agak heterogen, seperti material pembentuk kulit bumi pada umumnya.&lt;br /&gt;Berdasarkan prospek prakiraan datangnya gempa ini, para pakar optimis dapat mengembangkannya. Peluruhan gempa susulannya juga mengikuti sifat peluruhan energi secara umum, sehingga pemantauan secara cermat di daerah bencana memberikan data yang akurat untuk perhitungan kapan berakhirnya suatu ancaman gempa atau getaran di daerah bencana.&lt;br /&gt;Tipe III, sering pula disebutkan sebagai tipe swarm, merupakan gempa bumi yang tidak memiliki gempa utama. Rangkaian gempanya datang secara tidak jelas tanpa ditandai puncak gempa utama serta berakhirnya juga demikian. Dapat berkepanjangan atau secara tiba-tiba berhenti.&lt;br /&gt;Kejadiannya sangat terkait dengan penglepasan energi yang terjadi pada gaya yang konsentris. Umumnya terjadi di daerah vulkanik atau pascavulkanisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ramai Menggoyang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sudah dibuktikan sejarah bahwa sebagaian besar wilayah Indonesia merupakan daerah rawan gempa bumi, karena posisinya pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama dari enam lempeng tektonik utama pembentuk kulit bumi. Yaitu pertemuan antara lempeng tektonik Pasifik, Indo-Australia, dan Eurasia.&lt;br /&gt;Ketiganya bergerak saling mendekati dan bertumbukan. Daerah pertemuan dan daerah patahan sebagai dampak saling mendesaknya lempeng tektonik ini merupakan daerah-daerah rawan gempa bumi.&lt;br /&gt;Daerah Nusa Tenggara ditinjau dari posisinya berada pada daerah dekat dengan batas pertemuan ketiga lempeng tektonik tersebut. Ini merupakan daerah aktif gempa bumi. Tiga dari 21 daerah rawan gempa merusak di Indonesia berada di Nusa Tenggara.&lt;br /&gt;Bencana yang diakibatkan gempa bumi di daerah ini memiliki ciri khas yang tidak dimiliki daerah lain. Ciri tersebut adalah tingkat pengrusakannya selalu berkait dengan bencana lain yang mengikuti gempa itu sendiri, tanah longsor, dan tsunami. Ingat gempa Alor (4/7/1991), gempa Pantar (26/11/1987), gempa Sumbawa (19/8/1977) yang juga disertai tanah longsor atau tsunami. &lt;br /&gt;Penelitian mikroseismik yang dilakukan BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) di Nusa Tenggara, baik pada saat terjadi gempa kuat/merusak di lapangan maupun penelitian khusus, menunjukkan bahwa gempa Nusa Tenggara tergolong pada tipe II –gempa menurut penggolongan Mogi. Dan sangat dikenal dengan interplate–nya yang merupakan gempa menengah dalam kedalaman tetapi sangat kuat daya rusaknya.&lt;br /&gt;Tipe II yang dimiliki gempa di daerah ini – termasuk gempa Maumere yang baru lalu – memberikan bantuan tidak langsung kepada para petugas lapangan yang dilengkapi seisograf (alat pencatat gempa bumi) jinjing baik yang dari BMG maupun Direktorat Geologi dan Sumber Daya Mineral, selain data pantauan operasional jejaring gempa BMG.&lt;br /&gt;Bantuan tersebut berupa kemudahan dalam prakiraan kapan berhentinya getaran-getaran yang membahayakan dari rentetan gempa susulan yang sangat ramai menggoyang daerah bencana secara beruntun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sangat Sederhana&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Karena sifat peluruhan energi dari gempa susulan tipe II -  jenis gempa bumi Nusa Tenggara secara umum, demikian juga gempa Maumere – mengikuti sifat peluruhan energi secara umum, maka dari data pemantauan “intervalis” (biasa diambil harian, setengah harian, atau enam jam-an tergantung tingginya frekuensi gempa yang terjadi) akan sangat mudah menentukannya.&lt;br /&gt;Peluruhannya akan mengikuti sifat eksponensial peluruhan, yang banyaknya gempa menurun sangat drastis per-interval waktu terhadap perjalanan waktu.&lt;br /&gt;Pengolahan data untuk menemukan persamaan peluruhan energi gempa susulan dengan pemantauan gempa susulan dengan alat pencatat gempa jinjing di lokasi bencana sangat mudah, baik secara grafis dengan bantuan semilog blok atau bantuan kalkulator ilmiah yang paling sederhanapun. Apalagi dengan kemajuan bentuk komputer saat ini seperti laptop sangat memudahkan perhitungannya di posko oleh pengamat di lapangan.&lt;br /&gt;Dengan menggunakan rumus sederhana, maka kapan berhentinya getaran dari gempa susulan dapat diestimasi. Hal ini sangat membantu psikis masyarakat serta menentukan waktu untuk memulai rehabilitasi pemukiman secara aman.&lt;br /&gt;Selain untuk penentuan kapan berakhirnya getaran gempa susulan itu, maka pemantauan langsung di lokasi dengan alat pencatat gempa jinjing yang memadai (minimal empat alat) dapat diketahui karakteristik kegempaan setempat. Hasilnya dikombinasikan dengan data historik gempa merusak untuk masukan pembangunan di daerah itu yang mau tidak mau harus memperhitungkan masalah kegempaan (tahan gempa) guna menekan jumlah korban yang mungkin terjadi di kemudian hari pada perulangan gempa tersebut.&lt;br /&gt;Mengingat secara statistik gempa pasti akan datang kembali di daerah itu sebagai manifestasi penglepasan energi, walau belum bisa diramalkan kapan datangnya. Sejarah kegempaan menunjukkan Nusa Tenggara, khususnya Flores, memang kerap sekali mengalami bencana gempa bumi.&lt;br /&gt;Dalam lima tahun terakhir saja dapat kita catat sedikitnya tiga kali gempa merusak dan semuanya merenggut korban jiwa. Gempa Pantar (korban jiwa 44 orang meninggal); gempa Alor (24 orang meninggal); serta gempa Maumere.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dimuat di harian Suara Pembaruan edisi Minggu tanggal 3 Januari 1993.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-9023487914103305108?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/9023487914103305108/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/03/memperkirakan-berakhirnya-gempa-susulan_25.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/9023487914103305108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/9023487914103305108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/03/memperkirakan-berakhirnya-gempa-susulan_25.html' title='Memperkirakan Berakhirnya Gempa Susulan'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7695567953141490453.post-8099026713814843023</id><published>2010-03-25T18:41:00.000-07:00</published><updated>2010-03-25T18:44:52.120-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cuaca'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iklim'/><title type='text'>Cara Agar Manusia Tidak Mengeluh Pada Musim Kemarau Yang Kering</title><content type='html'>Musim kemarau tahun ini terasa lebih “menggigit” dibandingkan kemarau beberapa tahun terakhir ini, yang secara rutin kita alami setiap tahun. Sumur-sumur dangkal milik masyarakat di perkotaan sepanjang pantai utara Jawa mengalami kekeringan. Hal itu memaksa pemiliknya mengadakan usaha memperdalam atau memperkuat pompa yang dipakai sehingga daya hisapnya berubah.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Usaha masyarakat itu sebenarnya secara tidak disadarinya dapat mempercepat perembesan air laut masuk ke darat (intrusi ke laut). Berkaitan dengan itu di daerah Brebes dilaporkan bahwa di tengah-tengah kemarau ini ada 13 desa mengalami intrusi air laut (Pembaruan, 4/9/91). Intrusi ini sebelumnya belum pernah terjadi di daerah itu.&lt;br /&gt;Sementara itu di tengah situasi luasnya areal pertanian yang mengalami puso akibat kekurangan air. Menteri Pertanian mengatakan bahwa dengan kondisi sekarang ini di Jawa masih kekurangan waduk untuk menghadapi kekeringan. Apalagi waduk merupakan “dewa” penyelamat bagi beberapa daerah kritis, seperti Gunungkidul, Wonogiri, untuk memenuhi kebutuhan air pada kemarau.&lt;br /&gt;Pernyataan Menteri Pertanian ini rupanya dipertegas Wakil Gubernur Jawa Barat. Wagub ini mengatakan bahwa daerah Cirebon, dalam saat-saat menghadapi kekeringan seperti kemarau tahun ini, sedikitnya masih memerlukan lima waduk ukuran kecil. Jumlah tambahan ini sementara dianggap aman dalam menghadapi dampak kekeringan.&lt;br /&gt;Bila disimak lagi antara ketiga hal tersebut, yaitu kekeringan, intrusi air laut, dan waduk, satu sama lain merupakan hal yang sangat bertalian dan boleh jadi yang satu menjadi dampak dari yang lain. Atau hadirnya yang satu merupakan terobosan untuk mengatasi dampak yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Air Laut Di Darat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua kota pesisir sepanjang pantai utara Jawa, dari Cilegon hingga Surabaya, sejak beberapa tahun terakhir diamati mengalami intrusi air laut. Dari tahun ke tahun air laut semakin jauh masuk ke daratan. Seperti intrusi air laut di Jakarta ditemukan tahun-tahun terakhir ini sudah sampai di Jalan Thamrin, Cempaka Putih, dan bahkan sampai Rawamangun. Dan dikhawatirkan semakin tahun kian bertambah.&lt;br /&gt;Pascakemarau tahun ini diperkirakan terjadi kemajuan serius dalam intrusi air laut ini. Dan boleh jadi kejadian yang menimpa beberapa tempat di Brebes sebagai contohnya.&lt;br /&gt;Pengeksplorasian air tanah secara tak terkendali dan dipaksakan di musim kemarau ini memaksa terjadi pengosongan massa kulit bumi. Sehingga batuannya menjadi sarang (poros) yang ditinggalkan air tanah. Sementara itu sebagai kompensasi mengalir lah rembesan air laut yang sudah mengintrusi daerah sekitarnya, mengisi kekosongan itu.&lt;br /&gt;Sifat air laut yang memiliki densitas lebih besar selalu mulai dari lapisan yang relatif ke bawah. Di lain pihak air tawar yang sebagian besar dari air hujan sebagai penetral dan pemasok air tanah memerlukan waktu relatif lama untuk kembali pada keadaan semula. Terlebih lagi air limbah dari pemakaian air tawar sehari-hari akibat sistem pendauran yang belum begitu baik, sehingga sebagian besar air terbuang ke laut lewat sungai.&lt;br /&gt;Selang waktu pengisian yang lama ini dipakai terus oleh rembesan air laut untuk mengisi kekosongan pada batuan yang sarang, sehingga daerah yang terintrusi relatif lebih luas. Kadar intrusi yang terjadi sangat ditentukan massa air laut yang sempat menempati sarang batuan sampai menyatu dengan air tawar yang kembali normal di musim hujan berikutnya. Untuk mengatasi keadaan ini – agar tidak bertambah parah – perlu segera ditempuh langkah-langkah pengendalian air limbah keluarga perkotaan agar segera dapat terserap tanah kembali sebagai air cadangan. Salah satu langkah yang dapat ditempuh adalah pembuatan kolam atau sumur imbuhan seperti apa yang diungkapkan Ir. Tubagus Rais, dari Bappeda DKI Jakarta, pada seminar yang membahas masalah perkotaan, baru-baru ini.&lt;br /&gt;Sumur imbuhan sebagai sarana untuk mempercepat dan mengendalikan pengembalian air limbah ke tanah menurut rencana akan dijadikan salah satu ketentuan yang harus dipenuhi dalam penertiban IMB (Izin Mendirikan Bangunan) di Jakarta. Ini merupakan suatu ide yang menunjang pembangunan berwawasan lingkungan. Tentunya juga sudah perlu dipikirkan daerah perkotaan lain, selain Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Cegah Intrusi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Karena intrusi air laut ke darat membawa dampak menurunkan produktivitas pertanian, yang masih terbentang sepanjang pantai utara Jawa, maka usaha pencegahannya pun perlu dilakukan. Karena tidak mustahil apa yang dialami beberapa tempat di Brebes juga telah dialami daerah-daerah lain dengan kondisi yang sama.&lt;br /&gt;Proses intrusi ini merupakan proses alami yang pasti berjalan terus. Satu-satunya cara yang dapat dilakukan dalam melestarikan pertanian di kawasan ini adalah menetralkan air laut yang akan masuk ke darat sebagai intrusi. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menghilangkan kandungan garam air laut tersebut. Dengan proses kimiawi tentu sangat mahal dan sulit dilakukan.&lt;br /&gt;Salah satu cara yang sudah berhasil dilakukan di mancanegara, seperti daerah pertanian pantai di Amerika Serikat, adalah dengan membangun tanggul batu dari jenis batu cadas yang dapat menyaring kandungan garam air laut yang akan masuk ke darat. Dan hasilnya pun dilaporkan dapat mengembalikan produktivitas petani yang sebelumnya sangat merosot, bahkan gagal akibat intrusi air laut pada areal pertanian di sana.&lt;br /&gt;Untuk daerah pesisir utara Jawa Barat, yang selama ini diandalkan sebagai lumbung beras walaupun keadaannya belum separah itu, sepantasnya mendapat perhatian sebagai objek penelitian kasus yang sama. Sehingga langkah-langkah yang masih bertaraf ringan dapat dilakukan sedini mungkin untuk mempertahankan daerah itu sebagai lumbung beras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dihadapi Teknologi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Embung merupakan waduk buatan dalam skala kecil yang sudah sejak awal 80-an diperkenalkan di Indonesia sebagai kantong-kantong penampung air pada daerah-daerah sulit air, seperti NTB dan Madura. Teknologi ini dipakai membangun waduk dengan dasar dilapisi polyetiline sejenis plastik untuk menghindari kebocoran air hujan yang sudah tertampung.&lt;br /&gt;Dalam perkembangannya dirasakan bahwa teknologi yang diperkenalkan bersama oleh Badan Meteorologi Dunia (WMO), Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) dengan Departemen Pertanian, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) sejak tahun 1983 lalu tidak begitu mendapat sambutan sehingga beberapa embung yang sempat dibangun di Madura, NTB, dan beberapa daerah lainnya tidak diteruskan masyarakat setempat.&lt;br /&gt;Dalam perkenalannya embung ini ditujukan untuk menampung antara 300 sampai 500 meter kubik air hujan pada daerah-daerah tandus yang tidak memiliki sarana pengairan memadai serta kurang sumber air tanahnya. Sehingga air yang ditampung dapat digunakan untuk keperluan pengairan dalam bertani maupun berkebun, kolam untuk memelihara ikan, dan air minum ternak serta air minum manusia setelah disaring dan dimasak sampai mendidih, karena dalam proyek ini juga diperkenalkan cara penyaringan air memenuhi syarat kesehatan dengan teknologi penyaringan berlapis memakai materi saringan kerikil, ijuk, serta arang.&lt;br /&gt;Dengan persediaan air pada embung dengan kapasitas 400 meter kubik untuk pengairan sawah dihitung secara teliti mampu mengairi sawah 0.25 hektare untuk menanam satu kali padi dan dua kali palawija. Padahal luas lahan yang terambil untuk embung ini hanya sekitar 20 x 12 meter persegi pada permukaan, dalam 3 meter serta luasan dasar hanya 12 x 4 meter persegi.&lt;br /&gt;Penyimpanan air pada embung ini – untuk mengurangi kebocoran air atau penguapan air – selain embung dilapisi plastik, juga bentuknya semakin ke dalam kian menyempit serta permukaan airnya dapat dilapisi minyak goring untuk mencegah penguapan.&lt;br /&gt;Bila kita kaitkan dengan pernyataan Menteri Pertanian untuk menyiasati kemarau dengan menambah waduk lagi di Pulau Jawa, rupanya teknologi embung perlu dimasyarakatkan kembali mengingat musim kemarau tetap kita alami secara periodik.&lt;br /&gt;Untuk Pulau Jawa dampak ekstrem kemarau ini, bila dilihat dari elevasi permukaan air waduk, seperti apa yang menjadi penelitian pengelola Kali Brantas yang juga memiliki beberapa waduk di sepanjang alirannya, menunjukkan bahwa angka ekstrem terlihat setiap lima tahun. Untuk data beberapa tahun terakhir itu terlihat masing-masing dampak ekstrem kemarau pada tahun 1972, 1977, 19982, 1987, dan ada kemungkinan dampak yang sama muncul tahun 1992.&lt;br /&gt;Sehingga bila kita melihat dampak kemarau tahun ini yang bukan dalam hitungan angka puncak saja sudah parah, maka untuk menghadapi puncak tahun depan (bila pola tersebut masih diikuti), maka kita sudah harus siap-siap menghadapinya dengan berbagai teknologi yang ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Selimut Kabut&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, rupanya minggu-minggu terakhir ini dampak kemarau sudah menjalar dan dirasakan daerah di luar Jawa. Bukan kekurangan air yang dirasakan, tetapi gejala alam lain berupa kabut yang menyelimuti permukaan sehingga sangat menyulitkan transportasi.&lt;br /&gt;Kejadian ini terjadi karena adanya udara yang lembab dekat permukaan terperangkap dua lapisan yang memiliki kontras termal yang sangat tinggi. Lapisan udara di permukaan yang relatif dingin memaksa udara lembab mengembun segera pada saat permukaan menjadi dingin pada malam hari maupun di pagi hari. Sedangkan lapisan udara yang berada di atasnya relatif tetap panas akibat pemanasan di siang hari serta energi radiasi terestrial gelombang panjang bumi pada malam hari.&lt;br /&gt;Massa udara yang tidak begitu padat menjadikan uap air yang dikandungnya mengembun di dekat permukaan berupa awan tipis yang kita kenal sebagai kabut menyelimuti permukaan tanah. Yang sudah pasti kabut itu mengganggu visibilitas atau jarak pandang mata. Secara singkat dapat dikatakan bahwa kabut itu sebenarnya awan tipis yang terbentuk di dekat permukaan. Karena massanya relatif kecil, maka dia lebih gampang musnah setelah terkena radiasi atau lapisan tempat tinggalnya memanas kembali dibandingkan jatuh sebagai endapan ke permukaan.&lt;br /&gt;Kejadian ini rupanya mengganggu sarana transportasi udara beberapa kota di Kalimantan dan Sumatera. Karena parahnya situasi dan berbahaya untuk angkutan sungai, maka pihak Kanwil Perhubungan Sumatera Selatan kemungkinan menggunakan giliran tanggal genap dan ganjil untuk angkutan ke hilir dan ke udik menyusuri sungai sebagai langkah pencegahan terjadinya kecelakaan transportasi sungai yang dikabarkan sudah terjadi dalam situasi kabut kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Lebih Serius&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Lain di Kalimantan dan Sumatera, maka berbeda pula masalah kabut yang terjadi di beberapa daerah pegunungan di Jawa. Seperti di Pangalengan dan Dieng. Petani di sana mengeluh karena bukan saja kabut biasa yang muncul yang sudah mereka akrabi, tetapi kabut yang timbul merupakan kabut “racun” yang kelewat dingin. Kabut “racun” ini merusak perkebunan kentang petani Dieng dan mematikan pucuk-pucuk teh di Pangalengan.&lt;br /&gt;Dinginnya kabut yang terjadi karena amplitudo panas udara permukaan pada siang hari serta dinginnya udara di malam hari daerah tersebut sangat lebar. Keadaan ini sangat ditentukan energi terrestrial gelombang panjang permukaan Bumi di malam hari, setelah menerima radiasi Matahari pada siang harinya.&lt;br /&gt;Besar dan semakin melebarnya dampak kemarau yang menjadi tradisi iklim kita, khususnya pada musim kemarau panjang (ekstrem), maka studi penetrasi dampak ini sudah saatnya secara dini kita lakukan secara lebih serius dan berkesinambungan. Sehingga segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi secara cepat dan tepat dapat diatasi dan kita tetap tidak mengeluh pada musim kemarau.&lt;br /&gt;Apalagi kalau benar hasil pengamatan dampak kemarau, seperti terpantau di Waduk Brantas, maka mau tidak mau kita pasti mengalaminya setiap lima tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dimuat di harian Suara Pembaruan edisi Minggu tanggal 29 September 1991&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7695567953141490453-8099026713814843023?l=putupudja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://putupudja.blogspot.com/feeds/8099026713814843023/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/03/cara-agar-manusia-tidak-mengeluh-pada_5431.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/8099026713814843023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7695567953141490453/posts/default/8099026713814843023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://putupudja.blogspot.com/2010/03/cara-agar-manusia-tidak-mengeluh-pada_5431.html' title='Cara Agar Manusia Tidak Mengeluh Pada Musim Kemarau Yang Kering'/><author><name>Blog DR. I Putu Pudja</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13887136065399827983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_uLtm3OuJ_iw/S6n14Fw71wI/AAAAAAAAAAM/neUD7IylNSg/S220/p+putu.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
