Sabtu, 15 Oktober 2011

PANTURA JAWA WASPADA SINYAL BANJIR SUDAH MUNCUL

Oleh : I Putu Pudja



Berita banjir kita ikuti silih berganti menimpa kawasan Asia, terutama Asia Timur, Asia Tenggara dan Asia Selatan, seperti banjir di China, Kamboja, Vietnam, Chiang Mai, demikian juga melanda sebagian wilayah India. Ini mendakan bahwa rejim awan hujan telah hadir di kawasan ini, sehingga turun hujan dengan intensitas tinggi dan mengakibatkan bajir di daerah tangkapannya.

Berita lain yang kita ikuti belakangan ini terkait dengan cuaca ektrim di kawasan Asia adalah amukan badai yang menimpa wilayah luas mulai Filipina hingga daratan Vietnam, seperti Siklon Tropis Nalgae akhir-akhir ini, sebelumnya (27?9) badai Nessat yang menandakan bahwa terjadi system tekanan rendah di tepian utara wilayah perairan Indonesia, sehingga memacu terjadinya angin siklonik dan berkecepatan tinggi. Angin ini kemudian selalu dipasok tenaganya oleh panas latent akibat pengembunan udara disekitar intinya, sehingga ia terus bertumbuh.
Sepanjang dia melalui perairan maka ia akan hidup lama, akan tetapi bila dia menjumpai daratan dalam waktu yang relative lama sehingga pasokan energy dari [anas latent pengembunan wan berkurang menjadikannya akan mati di daratan. Itu merupakan habitat siklon tropis yang lahir di perairan sekitar 5 – 10 garis lintang dan bergerak kea rah lintang tinggi serta mati di daratan.
Korbanpun berjatuhan cukup banyak banjir Kamboja memakan korban 150 orang, Banjir di China menelan korban 57 orang (BBC), Banjir di India menewaskan lebih dari seratus orang di 19 distrik, demikian pula di Pakistan yang dialiri oleh sungai yang sama menyebabkan ribuan orang sampai saat tulisan ini di buat masih terkurung banjir menunggu evakuasi di kedua Negara tersebut.
Ke dua peristiwa alam meteorologi ini, hujan lebat dengan membawa banjir dan siklon tropis ( dalam sebulan telah dua kali terjadi ) memberikan signal ke Negara-negara yang bertetangga dalam satu kawasan Asia selata – Asia Tenggara sa,pai Asia Timur, bahwa musim hujan sudah merambah kawasan ini, dengan kecenderungan factor-faktor pemicu banjir yang lebih kuat, seperti HUjan lebat, system tekanan rendah, seruakan dingin arus Siberia, yang sangat berpotensi mendorong massa air, berupa awan maupun massa air Laut China Selatan menyapu pantai timur Sumatera, Pantura Jawa maupun pantai-pantai barat dan selatan Kalimantan.

PROSES FISIS
Kondisi siklonal yang melanda perairan belahan utara bumi, yang bersisian dengan wilayah Indonesia menunjukkan bahwa di daerah ini sedang terjadi system tekanan rendah, dengan penguapan yang tinggi dari perairan di bawahnya. Ini akan memicu awan hujan hadir di kawan ini, sehingga potensi hujan akan sangat tinggi di daerah ini.
Adanya pergeseran hujan yang ditandai dengan pergeseran waialayh banjir di mulai dari China, Kamboja, Vietnam, Chiang Mai, Thailand, India, Pakistan pertanda bahwa ada gerakan massa udara dingin yang mendorong massa awan ke selatan. Oleh kalangan meteorolist gejala ini disebut seruakan dingin Siberia, walau belum kuat sekali gejala itu telah menunjukkan eksistensinya. Kedua proses ini akan mendorong angin menjadi lebih kencang menyeberangi khatulistiwa. Di Indonesia akan mulai berkembang angin baratan, sebagai angin pembawa hujan di musim hujan.
Hujan lebat di daratan Asia Timur dan Tenggara, menyebabkan akan banyaknya massa air yang tumpah ke Laut China Selatan, sehingga angin seruakan dingin Siberia mendorongnya lebih ke selatan. Menyebabkan adanya banjir rob dan pasang yang lebih tinggi di sepanjang pantai pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan yang bersentuhan langsung dengan Laut China Selatan.
Demikian pula dengan massa air yang dilepaskan kepantai oleh sungao-sungai besar yang mengalami banjir di India dan Pakistan akan melepaskannya ke Samudera Hindia, dengan semakin derasnya angin baratan maka ombak baratan akan semakin besar menerjang pantai-pantai barat Sumatera. Biasanya pantai sebelah barat NAd sampai Oadang dan Bengkulu yang menerima terjangannya sehingga biasanya memporakporandakan pemukiman pantai di daerah tersebut.
Proses fisis tersebut akan mencadi persyaratan awal yang menghambat aliran air permukaan limpasan musim hujan ini sehingga menyulitkan lepas ke laut, sehingga akhirnya menyebabkan banjir pada daerah-daerah sepanjang pantai timur Sumatera, pantura Jawa, dan pantai barat dan selatan Kalimantan.
Kejadian yang terjadi di daratan Asia khususnya Asia Timur, Asia Tenggara daratan, dan Asia Selatan telah memberikan signal bahwa musim hujan dengan hujan lebat akan segera dating di Indonesia. Proses fisis yang terkait yang berdampak pada perairan Laut China Selatan, pantai barat Sumatera dapat memperparah banjir di sekitar pantai yang bersentuhan.

PANTURA JAWA
Bila kita kembali menengok ke belakang musim kemarau tahun ini di Jawa, maka dibandingkan dengan musim kemarau tahun lalu yang cukup basah bahkan sulit mengatahan bahwa tahun lalu 2010 bahwa kita di Jawa mengalami musim kemarau, mengingat hujan jatuh sepanjang bulan dalam setahun. Namun untuk tahun ini sangat banyak daerah yang kesulitan air. Hampir setiap hari kita saksikan selama kemarau ini, media massa menyiarkan kesulitan air di di beberapa daerah, sampai di beberapa tempat masyarakat harus antre untuk mengambil air minum, demikian juga di Jakarta dan sekitarnya banyak sumur air tanah yang harus diperdalam karena sudah tidak mengeluarkan air saja selama kemarau 2011 ini. Semuanya ini menandakan bahwa kemarau 2011 merupakan kemarau yang ektrem kering.
Sebagai konsekuensi dari kondisi alam tersebut biasanya alam akan mengadakan penyeimbangan. Sebagai penyeimbangan dengan memperhatikan apa yang telah menimpa China, Kamboja, Vietnam, Thailan, India dan Pakistan, maka sangatlah mungkin bahwa musim hujan 2011 yang akan dating ini merupakan kompensasi kemarau kering 2011, merupakan musim hujan dengan intensitas tinggi. Yang perlu diwaspadai adalah kalau intensitas hujan langsung menghentak pada wal musim hujan ini, bersamaan dengan munculnya rob akibat proses fisis perairan Laut China Selatan yang bersisian dengan Laut Jawa, maupun tepian Samudera Hindia yang bersentuhan dengan Sumatera, maka bencana banjir perlu lebih diwaspadai bersama.
Musim kemarau ektrem 2011 ini jua akan memacu terjadinya erosi permukaan akibat kerapuhan atau pelapukan permukaan selama kemarau, penggalian sumur air tanah menjadi lebih dalam akibat menurunnya permukaan air tanah akan memacu subsidensi di kawasan rawan subsiden di kota-kota dan pemukiman sepanjang pantura Jawa terutama Jakarta.

KESIMPULAN
Memperhatikan perkembangan peristiwa meteorology yang berkembang di kawasan daratan Asia Timur, Asia Tenggara sampai Asia Selatan, Musim kemarau 2011 di Indonesia, serta datangnya musim hujan 2011 yang diwarnai dengan musim baratan maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. ‘Migrasi’ wilayah banjir di Asia terutama –Asia Timur, Asia Tenggara-Asia Selatan- yang terjadi bulan bulan terakhir diduga wilayah Indonesia yang sering menerima dampak seruakan dingin Siberia akan mengalami musim hujan dengan intensitas tinggi dengan peluang banjir, disepanjang pantura Jawa, pantai timur Sumatera serta pantai barat – selatan Kalimantan. Pantai pantai lain yang bersisian sangat mungkin juga mengalami tergantung pada intensitas seruakan dinginSiberia yang akan terjadi.
  2. Meningkatnya massa air laut China Selatan, dan tepian Samudera Hindia pada awal musim baratan, akan menambah ganasnya dampak angin baratan terutama dalam keganasan ombak yang menerjang pantai barat sumatera, serta memicu banjir rob di wilayah pantai timur Sumatera, pantura Jawa, serta pantai barat-selatan Kalimantan.
Bagi warga masyarakat yang bermukim di daerah daerah wilayah pantai timur Sumatera, pantura Jawa, serta pantai barat-selatan Kalimantan, rupanya perlu lebih waspada dan mengambil antisipasia awal akan kehadiran bencana yang disebutkan di atas, guna menekan korban maupun kerugian yang mungkin muncul karena bencana tersebut. Pepatah mengajarkan kita lebih baik sedia paying sebelum hujan.
===========================================================
Penulis : aktif di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Jakarta. Sekarang sebagai Kepala Pusat Jaringan Komunikasi, BMKG.

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Share